Lanjutan Proposal Rizal Ramli untuk Solusi Soal Papua sbb.:

Soal Papua, Rizal Ramli Sebut Ada Tiga Langkah Solusi
26 August 2019 | 20:470 

 Oleh: Nur Diansyah |

Pospapua.com, Jakarta – Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman,
Rizal Ramli menyampaikan tiga poin utama, menanggapi isu rasial di
Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu. Isu rasial itu
pun berdampak terjadinya rentetan demonstrasi secara besar-besaran.

Poin pertama, Rizal menyarankan tidak boleh ada penggunaan cara
kekerasan. Kedua, menekankan dialog dan pendekatan kebudayaan, dan
ketiga, mendesak dilakukannya revisi Undang-undang Dana Alokasi Khusus
(DAK).

Belajar dari sejarah kelam pecahnya gerakan militer seperti terjadi di
Aceh dan Timor Leste, menurut Ramli cara kekerasan malah mendorong
rakyat bersimpati dengan gerakan kemerdekaan seperti Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) dan Referendum Timor Leste. “Kita harus lebih
mengutamakan pendekatan kemanusiaan, damai dalam menyelesaikan masalah
Papua,” kata Rizal di kediamannya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan,
Senin (26/8).

Rizal menceritakan, almarhum Gus Dur menganggap semua masyarakat
Indonesia adalah keluarga. Kata dia, kalau ada seorang anak yang tidak
puas terhadap keluarganya, dan ingin meninggalkan rumah, justru orang
tua tersebut harus introspeksi, bukan justru melakukan tindak kekerasan
terhadap anak.

“Jadi kita harus menganggap semua ini saudara-saudara, anak-anak kita,
perbaiki apa kelemahan kita. Sumber utama itu adalah ketidakadilan,
negara yang adil pasti dicintai rakyat,” katanya.

Terkait persoalan ekonomi, Ramli mendesak agar Undang-Undang tentang
Dana Alokasi Khusus (DAK) segera direvisi, dengan menarget dampak
langsungnya bagi masyarakat. “Kami mendesak agar UU Alokasi Khusus itu
direvisi. Dari tahun 2000 tidak pernah direvisi,” tuturnya.

Ramli menjelaskan bahwa selama ini anggaran sebesar Rp62 triliun telah
dikucurkan pemerintah setiap tahun untuk 3,5 juta rakuat Papua. Namun
dalam praktiknya, rakyat di kampung-kampung Papua dan Papua Barat, di
gunung-gunung, nyaris tidak menerima apa-apa karena dikorupsi oleh
pejabat Jakarta dan pejabat Papua.

Pada kesempatan siang, aktivis Papua Arkilaus Baho menyesalkan kondisi
masyarakat Papua terkini yang kian terpuruk. Ia menilai bahwa hanya di
era Gus Durlah masyarakat Papua mendapatkan ruang berekspresi.

“Semua ekspresi apa pun dijamin, bahkan aman tak ada konflik. Situasi
di kota-kota dan kampung itu damai, sehingga orang Papua itu seperti di
negerinya sendiri,” ujar Arkilaus.

Lebih lanjut, Arkilaus menyampaikan bahwa Gus Dur di mata masyarakat
Papua adalah bapak segala bangsa. Kebebasan berekspresi masyarakat
Papua kala itu diejawantahkan melalui lagu khas Papua yang bebas
dinyanyikan, pengubahan kembali nama Papua dari sebelumnya Irian, dan
bendera Bintang Kejora sebagai simbol budaya mereka.

Kala itu, Gus Dur menetapkan bahwa bendera Bintang Kejora merupakan
simbol budaya, dan telah diperbolehkan oleh Mahkamah Konstitusi. Simbol
tersebut tidak dapat dilepaskan dari masyarakat Papua, semenjak bukan
lagi bendera separatis.(EP/Asi)



Kirim email ke