https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1783-papua-adalah-kita
/*Papua Adalah Kita*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Jumat 30 Agustus 2019, 05:05 WIB
Editorial MI <https://mediaindonesia.com/editorials>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1783-papua-adalah-kita>
<https://twitter.com/home/?status=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1783-papua-adalah-kita>
KONDISI di Papua kembali memanas dalam dua hari terakhir. Sejumlah
demonstrasi berakhir ricuh dan menimbulkan korban jiwa. Seorang prajurit
TNI gugur serta sejumlah aparat lainnya terluka akibat panah saat
mengamankan demo di Kabupaten Deiyai, Papua, Rabu (28/8). Juga ada satu
korban dari pihak penyerang TNI-Polri yang tewas karena terkena panah
rekannya sendiri.
Aksi anarkistis yang dilakukan massa masih berlanjut kemarin di
Jayapura. Fasilitas umum dibakar. Massa yang berjumlah ratusan itu
sempat membakar kantor Majelis Rakyat Papua (MRP). Massa juga membakar
kantor Telkom, kantor pos, serta fasilitas publik lainnya.
Aksi-aksi tersebut sangat disayangkan meski merupakan reaksi dari
tindakan rasialis terhadap mahasiswa asal Papua di Asrama Papua
Surabaya, Jawa Timur. Apalagi, aparat telah melakukan penindakan hukum
terhadap pihak-pihak yang diduga melakukan aksi rasialis, bahkan
terhadap aparat.
Tri Susanti, mantan caleg Partai Gerindra, sudah ditetapkan sebagai
tersangka kasus rasialisme dan enam orang lainnya dicekal. Selain itu,
proses hukum terhadap anggota TNI yang diduga bertindak rasialis juga
tengah berjalan dengan dilakukannya sejumlah pemeriksaan oleh POM TNI.
Artinya, penegakan hukum terhadap persoalan yang menjadi akar masalah
telah dilakukan. Semestinya tidak ada alasan lagi bagi masyarakat Papua
untuk melakukan protes. Kita khawatir ada penumpang gelap yang ingin
memisahkan Papua dengan Indonesia menunggangi aksi-aksi tersebut.
Meski hukum sudah bekerja, celakanya eskalasi gangguan keamanan dan
ketertiban di Papua meningkat. Pihak aparat keamanan harus segera
melakukan langkah-langkah komprehensif sehingga suasana Papua kembali
kondusif. Jika dibiarkan berlarut, celah-celah provokasi yang
ditunggangi isu-isu disintegrasi akan makin punya panggung.
Tak ayal, isu-isu mengenai referendum kembali menyeruak. Sejumlah aksi
massa dengan terbuka membentangkan dan mengibarkan bendera bintang
kejora sebagai simbol gerakan Papua merdeka, termasuk di depan Istana
Merdeka, Rabu (28/8).
Kondisi itu harus segera ditangani pemerintah dengan menemukan solusi
terbaik bagi masyarakat Papua dan Papua Barat. Jika tidak ada skala
prioritas dari pemerintah dalam persoalan Papua, bisa diprediksi
eskalasinya akan semakin panjang dan meluas.
Semua bentuk pelanggaran hukum tentu harus ditindak. Namun, pemerintah
bersama aparat tidak boleh salah langkah. Langkahnya harus pas, terukur,
dan tidak reaktif. Harus diakui, kasus Papua membesar karena penanganan
awal dalam kasus di Surabaya dan Malang salah kaprah.
Negara juga harus sadar bahwa mudah tersulutnya konflik di Papua saat
ini menunjukkan bukti bahwa masih ada pekerjaan besar dalam menjadikan
Papua sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI.
Kita menyaksikan betapa pemerintah di bawah Presiden Jokowi dan Wakil
Presiden Jusuf Kalla berupaya keras mewujudkan kesejahteraan
masyarakarat Papua dan Papua Barat. Pemerintah mengalirkan dana otonomi
khusus sangat besar. Pembangunan infrastruktur pun digenjot.
Pemerintahan Jokowi-JK punya komitmen untuk membangun Papua dan Papua
Barat lewat anggaran dan subsidi yang mencapai Rp100 triliun, jauh jauh
lebih besar daripada pajak dari gas di Papua dan royalti PT Freeport
Indonesia yang hanya sekitar Rp20 triliun.
Tentu ke depan diharapkan pemerintah mempunyai strategi yang paling
tepat untuk mengatasi masalah multidimensi di Bumi Cenderawasih.
Pendekatannya pun mesti multidimensi, meliputi pendekatan kesejahteraan,
politik dan diplomasi, hukum, serta tentu saja keamanan dalam negeri
dalam porsi yang presisi. Semua pendekatan itu mesti dibungkus dalam
satu prinsip, yakni manusiawi, humanis, sebab Papua ialah kita.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1783-papua-adalah-kita>
<https://twitter.com/home/?status=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1783-papua-adalah-kita>