https://news.detik.com/kolom/d-4687178/potret-sang-syaikhah-dan-semangat-keulamaan-perempuan?
tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.155083066.308003165.1567189950-1516444867.1567189950
Jumat 30 Agustus 2019, 16:25 WIB
Kolom Kalis
Potret Sang Syaikhah dan Semangat
Keulamaan Perempuan
Kalis Mardiasih - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4687178/potret-sang-syaikhah-dan-semangat-keulamaan-perempuan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.155083066.308003165.1567189950-1516444867.1567189950#>
Kalis Mardiasih
<https://news.detik.com/kolom/d-4687178/potret-sang-syaikhah-dan-semangat-keulamaan-perempuan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.155083066.308003165.1567189950-1516444867.1567189950#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4687178/potret-sang-syaikhah-dan-semangat-keulamaan-perempuan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.155083066.308003165.1567189950-1516444867.1567189950#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4687178/potret-sang-syaikhah-dan-semangat-keulamaan-perempuan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.155083066.308003165.1567189950-1516444867.1567189950#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4687178/potret-sang-syaikhah-dan-semangat-keulamaan-perempuan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.155083066.308003165.1567189950-1516444867.1567189950#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4687178/potret-sang-syaikhah-dan-semangat-keulamaan-perempuan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.155083066.308003165.1567189950-1516444867.1567189950#>
Potret Sang Syaikhah dan Semangat Keulamaan Perempuan Kalis Mardiasih
(Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Belakangan ini, perempuan diperdebatkan sebagai pakaian mana
yang lebih asli dalam identitasnya sebagai manusia Indonesia. Satu pesan
instan yang saya terima berisi foto-foto perempuan dengan kain
hitam-hitam menutupi seluruh tubuhnya, juga lengkap dengan cadar penutup
cadar, kemudian disemati judul bombastis: "inilah sejarah syariat
Indonesia yang hilang." Kadang-kadang, foto perempuan membaluti seluruh
tubuhnya itu lebih mirip sebagai gambaran perempuan pekerja perkebunan
yang sedang menjaga tubuhnya dari angin atau penyakit dengan berselimut
sarung, bukan sebagai "jilbab /syar'i/" seperti yang direferensikan oleh
si penyebar pesan.
Mari kita mengenang Syaikhah Rahmah El-Yunusiyyah. Syaikhah adalah gelar
yang diperoleh Rangkayo Rahmah El-Yunusiyyah dari Universitas Al Azhar,
Mesir karena kiprahnya mendesain kurikulum sekolah khusus perempuan yang
ia dirikan. Konon, Madrasah Diniyyah Putri Padang Panjang menginspirasi
Kampus Al Azhar, bahwa pendidikan perempuan modern juga hal penting
untuk peradaban. Sehingga, Al Azhar akhirnya mendirikan sekolah
perempuan dan mendesain kurikulumnya. Rangkayo Rahmah, hingga hari ini
belum mendapat gelar kepahlawanan, dan saya sangat berharap Presiden
Jokowi mewujudkan hal tersebut.
Seringkali saya gusar, karena beredarnya potret Rangkayo Rahmah di media
sosial maupun siaran pesan instan WA justru tidak sesuai dengan semangat
yang ia nyalakan. Potret Syaikhah yang sering dipromosikan adalah potret
Syaikhah dalam kain menutup tubuh semacam mukena, potret Rahmah
El-Yunusiyyah yang paling banyak beredar di internet. Potret itu
kemudian digunakan untuk menjustifikasi satu-satunya model "jilbab
/syar'i/", dengan dua semangat melenceng.
Pertama, semangat politik identitas untuk tujuan klaim kebenaran
kelompok konservatif atau bahkan pedagang jilbab /syar'i/. Sebuah
/broadcast/ yang memuat potret Syaikhah mengarahkan lebih kepada
Arabisasi pakaian, dengan judul semacam "inilah sejarah jilbab asli
Indonesia yang sesungguhnya", dibanding menggambarkan dengan jujur dan
ilmiah tentang pakaian syariat kesopanan perempuan.
Kedua, semangat mendomestifikasi dan penundukan perempuan sebagai
kepentingan politik maskulin yang menyertai bentuk pakaian yang serba
tertutup itu. Nilai Syaikhah diringkus pada pakaian saja, menghilangkan
pemikiran dan aktivitasnya yang jauh lebih besar.
Satu potret tentu saja tak cukup untuk menjelaskan sebuah situasi
apalagi sebagai bukti peristiwa sejarah. Seperti suatu ketika, satu akun
dakwah di Instagram mengunggah potongan video perempuan dengan kain di
kepala sedang berjalan di kota London pada awal tahun 1900. Akun dakwah
tersebut mengklaim, perempuan dalam video adalah muslimah asli Inggris
dan potongan video itu diklaim sebagai sejarah muslim Eropa yang hilang.
Padahal, sejarah muslim Inggris adalah sejarah migrasi orang India,
Pakistan, Bangladesh setelah perang dunia kedua.
Hari ini, isu migrasi ini juga sering jadi pembahasan khusus dalam isu
toleransi karena gesekan-gesekan sosial yang menyertainya. Lewat
pencarian kecil di media sosial, saya lalu menemukan versi dokumenter
utuh dari video tersebut. Perempuan-perempuan itu memang penduduk
Manchester, hanya saja bukan muslim. Mereka adalah penduduk asli pekerja
industri yang sedang kedinginan saja saat jelang musim salju.
Potret Syaikhah yang sebetulnya tentu saja ada banyak. Dalam kehidupan
sehari-hari, Rangkayo Rahmah juga berkebaya dan memakai kain kerudung
santun yang ia lingkarkan di kepala. Pakaian keseharian dan kain
kerudung itu tentu sangat mendukung aktivitas di rumah dan pergaulan
kemasyarakatan di tempat tinggal masing-masing, seperti banyak perempuan
lain pada umumnya.
Ketika mengajar di madrasah, Rangkayo Rahmah memakai baju kurung
sederhana dan kerudung lebih tertutup. Jenis foto semacam ini biasanya
paling banyak beredar ketika menggambarkan tokoh tertentu dalam sejarah,
karena kesan ketokohan dan formalitasnya.
Dalam potret lain, Syaikhah mengenakan kerudung dari kain renda putih
khas Nusantara dan baju kurung khas Minang berbentuk jas yang sangat
trendi dan terhormat ketika bertemu Syaikh Al Azhar ketika menerima
gelar Doktor Honoris Causa. Hal yang menunjukkan bahwa sifat pakaian
sangat situasional dan terkait dengan budaya setempat, misalnya saja
jenis-jenis kain Nusantara yang menjadi bahannya.
Semangat sesungguhnya dari Rangkayo Rahmah adalah semangat keulamaan
perempuan yang berpikir seutuhnya soal eksistensi kemanusiaan perempuan.
Syaikhah bercerai dari suaminya karena menolak dipoligami. Ia kemudian
bersikeras mendirikan sekolah perempuan, terpisah dari sekolah yang
lebih dahulu dirintis oleh kakak laki-lakinya. Semangat Diniyyah Puteri
sesungguhnya adalah melihat potensi perempuan dengan pengalaman khusus
untuk kelak menjadi seorang Ibu, sehingga memerlukan nilai-nilai khusus
pula untuk membentuk dirinya.
Syaikhah adalah seorang bidan, seorang /social engineer/, seorang
aktivis organisasi lintas pergerakan yang sangat nasionalis, sekaligus
punya kiprah di Laskar Hizbullah hingga Hizbul Wathan. Syaikhah adalah
perempuan yang mengibarkan bendera merah-putih tinggi-tinggi bahkan
sebelum proklamasi diumumkan di radio-radio.
Syaikhah menolak bantuan kolonial Belanda untuk sekolah yang ia bangun
karena tidak mau kurikulumnya diatur-atur. Syaikhah bahkan menolak
tawaran Buya Hamka agar Diniyyah Puteri bergabung saja dengan sekolah
rintisan Muhammadiyah, sekali lagi karena Syaikhah memiliki misinya
sendiri soal sekolah perempuan.
Jika ulama konservatif hanya mendefinisikan ilmu yang wajib dipelajari
seorang perempuan hanya sebatas akidah dan fikih ibadah, Syaikhah
berpandangan bahwa penting bagi seorang perempuan untuk paham ilmu jiwa,
ilmu kesehatan, ilmu kriminologi, ilmu sosiologi, dan ilmu politik.
Tentu saja ini sebuah pemikiran yang sangat berani, apalagi sebagai
muslimah hal tersebut tak hanya berupa pemikiran, namun juga ia praktikkan.
Mengapa? Tentu karena pengalaman Syaikhah sebagai perempuan yang sejak
zaman kolonial, zaman Jepang, hingga zaman Sukarno membentuk seutuhnya
kedirian dan martabat nilai kemanusiaan perempuan yang ia yakini.
Syaikhah terkenal banyak berseberangan dengan kebijakan-kebijakan Sukarno.
Selain itu, pandangan keulamaan perempuan ala Syaikhah pun semakin
menarik sebab berkaitan dengan adat matriarki Minang yang ia alami
secara autentik. Adat perempuan yang mewarisi /pusako/ dalam rumah
tangga, diartikan Syaikhah bahwa perempuan harus mampu mewarisi /pusako/
itu dengan siap dan untuk kepentingan kemanusiaan. Bukan semata-mata
pandangan sempit sebagian orang bahwa perempuan terkait dengan materi
dan ujung-ujungnya adalah mendomestifikasi perempuan.
Syaikhah Rahmah El Yunusiyyah adalah ulama perempuan yang sangat
menyejarah. Warisan yang ia tinggalkan abadi sepanjang zaman. Warisan
yang ia tinggalkan sesungguhnya juga adalah mengambil Islam dengan
nilai-nilai kemajuan yang berani mendobrak kejumudan berpikir dan sangat
peduli pada pengalaman perempuan.
*Kalis Mardiasih* /menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset
dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan
pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa
lewat @mardiasih
/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*