Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Jurnalis sekaligus diplomat dan politisi ulung itu bernama Adam Malik
Oleh Dewanto Samodro Sabtu, 31 Agustus 2019 09:19 WIB
Jurnalis sekaligus diplomat dan politisi ulung itu bernama Adam Malik
Adam Malik (ANTARA)
saya waktu itu baru 20 tahun dan memang sedang radikal-radikalnya
Jakarta (ANTARA) - "Sebagai pemuda, meresmikan berdirinya cabang
Indonesia Muda di Pematang Siantar, dan meneriakkan 'Sumpah Pemuda'
untuk pertama kali adalah amat penting," tulis Adam Malik dalam
autobiografinya "Mengabdi Republik Jilid I: Adam Dari Andalas".
Adam Malik Batubara dikenal sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia
yang ketiga. Selain sebagai politisi, Adam adalah juga seorang jurnalis
dan diplomat ulung.
Sebelum menjabat sebagai wakil presiden, Adam pernah menjabat sebagai
Menteri Luar Negeri dan ikut membidani pendirian Asosiasi Negara-negara
Asia Tenggara (ASEAN).
Ketertarikan terhadap politik, dan cita-cita kemerdekaan, sudah ada di
benak pemuda kelahiran Pematangsiantar, 22 Juli 1917 yang hidup di tiga
zaman, yaitu zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan
zaman Indonesia Merdeka itu.
Adam lahir dari sebuah keluarga pedagang yang berkecukupan, hal yang
boleh dikatakan jarang di kalangan masyarakat Pematangsiantar saat itu.
Tolok ukur kekayaan orang tuanya bisa digambarkan dengan sebuah
sedan/Buick/ yang dibeli pada 1928, yang menjadi satu-satunya di seluruh
Pematangsiantar.
Meskipun hidup dari keluarga yang berkecukupan, Adam tidak tumbuh
menjadi pemuda yang bersikap masa bodoh terhadap segala sesuatu yang
terjadi di kota kecil Pematangsiantar.
Dia kerap melihat bagaimana kondisi pekerja-pekerja perkebunan di
Sumatera, yang kebanyakan didatangkan dari Jawa, yang datang berbelanja
kebutuhan hidup ke toko ayahnya.
Dari para pekerja itu, Adam memperhatikan dan merasakan kepahitan
penderitaan hidup yang mereka pikul.
"Mereka secara paksa dikontrak untuk bekerja selama suatu jangka waktu
tertentu. Senantiasa diawasi dengan ketat, diperlakukan dengan kasar,
sedangkan mereka hidup dalam keadaan yang amat menyedihkan, hal mana tak
lain dan tak bukan adalah perbudakan dalam bentuk yang tertutup," tulis
Adam dalam autobiografinya.
Melihat ketidakadilan yang dia hadapi di depan mata, Adam kerap
mengkhayal sebagai "Adam dari Andalas", seorang maharaja dari
Pematangsiantar yang memiliki makanan, pakaian, dan perumahan berlimpah
untuk rakyatnya.
***Baca juga:Istri Narogong beli rumah anak Adam Malik
<https://www.antaranews.com/berita/650601/istri-narogong-beli-rumah-anak-adam-malik>*
*Sekolah Agama*
Meskipun jiwa mudanya bergejolak, Adam tetap menjadi anak yang patuh
pada orang tuanya. Pun ketika dia diperlakukan berbeda dalam hal pendidikan.
Adam menilai ayahnya, Abdul Malik Batubara, mempunyai
peraturan-peraturan yang agak aneh dalam pendidikan. Ketika kakak lelaki
tertuanya mendapatkan pendidikan dan asuhan setinggi-tingginya pada
sekolah-sekolah Belanda, Adam diharuskan masuk ke sekolah agama setamat
dari/Hollands Inlandsche School /(HIS).
Maka Adam pun dikirim ke Bukittinggi untuk memasuki Sekolah Agama
Parebek untuk dididik dan digembleng dalam nuansa Islami, meskipun di
dalam hatinya tidak ada keinginan untuk menjadi seorang ulama.
Pendidikan agama di Sekolah Agama Parebek diajarkan oleh anak-anak muda
yang berpikiran modern.
Karena itu, meskipun merasa tertekan, Adam banyak membaca
majalah-majalah berpikiran maju seperti "Seruan Azhar" yang diterbitkan
mahasiswa Indonesia di Kairo, "Medan Muslim" terbitan Yogyakarta, dan
surat kabar "Pewarta Deli".
Melalui "Seruan Azhar", Adam banyak membaca tentang perjuangan
kebangsaan Mesir, yang menurutnya sangat berlawanan dengan keadaan kaum
kuli yang ada di Pematangsiantar.
Sedangkan di "Medan Muslim", Adam membaca tentang Haji Misbach yang
meledakakkan granat di siang hari sebagai bentuk perlawanan terhadap
penjajah Belanda.
Namun, pendidikan di Parebek hanya berjalan satu tahun, orang tuanya
kemudian memindahkannya ke Sekolah Agama Al Masrullah yang berasrama di
Tanjung Pura yang lebih dekat dari Pematangsiantar.
Meskipun tinggal di asrama, karena lokasi sekolah yang dekat, Adam kerap
kali pulang ke rumah, suatu hal yang sebenarnya tidak diharapkan dari
pola pendidikan di sekolah tersebut. Hal itu akhirnya merangsangnya
untuk meninggalkan sekolah dan asrama tersebut.
*Baca juga:Adam Malik Tokoh Yang Perkokoh Hubungan RI-Malaysia
<https://www.antaranews.com/berita/54145/adam-malik-tokoh-yang-perkokoh-hubungan-ri-malaysia>*
*Berdagang dan Berorganisasi*
Setelah membujuk orang tuanya yang tidak mudah, Adam akhirnya hanya
bersekolah selama dua tahun di Sekolah Al Masrullah. Selanjutnya dia
bekerja di toko ayahnya, karena memang keinginannya menjadi pedagang
seperti ayahnya.
Tidak begitu lama, di usia 15 tahun, Adam mulai menjalankan cabang dari
toko ayahnya yang dinamakan "Toko Murah" untuk menarik perhatian
masyarakat. Dagangan Adam lebih banyak ragamnya, tetapi dengan harga
yang bisa dijangkau masyarakat miskin.
Namun, dunia niaga ternyata hanya alat Adam untuk mencapai tujuan yang
lebih tinggi, cita-cita yang tidak diceritakan kepada orang tuanya.
Adam kemudian bergabung dengan organisasi kepanduan Muhammadiyah Hizbul
Wathan, satu-satunya organisasi semipolitik yang ada di Pematangsiantar
saat itu. Dia juga mendirikan Indonesia Muda cabang Pematangsiantar,
yang berpusat di Batavia, dan mengampanyekan Sumpah Pemuda.
Setelah merasa cukup menguasai cara-cara berorganisasi, Adam kemudian
mendirikan Partai Indonesia (Partindo) cabang Pematangsiantar, partai
politik terbesar saat itu.
Aktivitas politik Adam itu kemudian membawanya berhubungan dengan dunia
jurnalistik. Tulisan-tulisan Adam pertama kali dimuat di harian "Pelita
Andalas" asuhan Djauhari Salim dan Hamid Lubis, selain dalam majalah
Partindo yang tersebar di pelosok Sumatera.
Partindo juga membawa Adam mengenal tokoh-tokoh pergerakan dari Batavia
seperti Sukarno, Muhammad Yamin, dan Amir Syarifuddin.
Sampai kemudian, pembubaran Partindo oleh pemerintah kolonial Belanda
membuat Adam masygul. Dia merasa gejolak mudanya di dunia politik
dirintangi oleh pemerintah kolonial Belanda.
*Baca juga:Pemerintah Jangan Risaukan Kontroversi Adam Malik
<https://www.antaranews.com/berita/124990/pemerintah-jangan-risaukan-kontroversi-adam-malik>*
*Hijrah ke Batavia*
Pembubaran Partindo kemudian memantapkan Adam untuk hijrah ke Batavia
demi mematangkan cita-cita politiknya. Satu-satunya kenalan Adam di
Batavia adalah bekas anggota Partindo bernama Yahya Nasution.
Meskipun tidak membawa banyak uang, Adam bertekad tidak mau menumpang
hidup pada Yahya. Karena itu, dia banyak bergaul dengan pemuda-pemuda
Pasar Senen yang memperdagangkan buku-buku bekas.
Namun, kedekatan Adam dengan Yahya rupanya juga menjadi pantauan polisi
rahasia Belanda yang sedang mengawasi gerak-gerik Yahya, seorang
agitator dalam Partai Republik Indonesia (Pari).
Akhirnya, ketika pemerintah kolonial Belanda mulai menangkap siapa saja
yang menjadi anggota Pari pada 1935, Adam ikut ditangkap ketika sedang
berada di Pasar Senen dan ditahan selama satu tahun di penjara Struiswijk.
"Sebenarnya tidak ada satu bukti pun yang dapat menunjukkan bahwa saya
berhubungan rapat dengan Yahya Nasution atau pun Partai Pari.
Penyelidikan tentang kegiatan saya tercela sebagaimana lazimnya
dijalankan oleh polisi rahasia kolonial," tulis Adam dalam autobiografinya.
Di penjara Struiswijk itulah Adam kemudian berkenalan dengan Pandoe
Kartawigoena, aktivis pemuda Republik Indonesia.
Persahabatan dengan Pandoe itu kemudian membawa Adam menorehkan sejarah
penting bagi hidup dan perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan,
yaitu mendirikan Kantor Berita ANTARA.
*Baca juga:LKBN Antara raih penghargaan Adam Malik Kementerian Luar
Negeri
<https://www.antaranews.com/berita/605999/lkbn-antara-raih-penghargaan-adam-malik-kementerian-luar-negeri>*
*Kantor Berita ANTARA*
Adam dan Pandu kemudian dibebaskan pada 1936. Mei 1937, partai antifasis
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) mempertemukan mereka dengan dua
sekawan Soemanang dan Albert Sipahoetar.
Dalam buku "80" yang diterbitkan Perum LKBN ANTARA untuk memperingati 10
windu kantor berita tersebut, disebutkan keempat pemuda itu kemudian
sepakat mendirikan sebuah kantor berita atas usulan Soemanang.
"Saya bersemangat lagi, penuh antusias, dan optimisme. Usia saya waktu
itu baru 20 tahun dan memang sedang radikal-radikalnya," kata Adam.
Kantor Berita ANTARA pun akhirnya didirikan. Soemanang, yang paling tua
dan berpengalaman, menjadi pemimpin umum dengan Adam Malik sebagai
wakilnya. Pemimpin redaksi dipegang Albert Sipahoetar dengan Pandoe
Kartawigoena sebagai wakilnya. Saat itu, mereka berempat belum ada yang
berusia 30 tahun.
Kantor Berita ANTARA terus berkembang dengan segala dinamikanya.
Termasuk ketika Jepang masuk ke Indonesia, dan mengambil alih serta
menggantinya dengan nama "Yashima", kemudian "Domei".
Ketika ANTARA dikuasai Jepang, para pekerjanya, termasuk Adam Malik
tetap bekerja seperti biasanya, tetapi tetap bergerak di bawah tanah
untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Adam Malik pun terlibat ketika para pemuda mendesak Soekarno-Hatta untuk
segera memproklamasikan kemerdekaan, yang puncaknya dengan membawa kedua
tokoh itu ke Rengasdengklok.
Peran penting Adam dalam menyiarkan berita proklamasi terjadi ketika dia
sudah mengantongi naskah proklamasi, kemudian menelepon Asa Bafagih di
kantor ANTARA untuk membacakan naskah proklamasi dan menyiarkannya ke
seluruh dunia.
*Baca juga:Jenazah Nelly Adam Malik Akan Dimakamkan di TMP Kalibata
<https://www.antaranews.com/berita/57035/jenazah-nelly-adam-malik-akan-dimakamkan-di-tmp-kalibata>*
Oleh Dewanto Samodro
Editor: Dewanti Lestari
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com