Sekali Lagi soal Papua

Bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan tidak boleh dilupakan, 
terutama oleh kawan-kawan generasi muda. Juga memahami sifat “buas” 
kolonialisme Belanda dengan memisahkan siapa pejuang sejati dan siapa antek 
serta boneka kaum penjajah kolonial dan imperialis Belanda
4 September 2019
Antusias massa rakyat dalam pembebasan Papua Barat dari cengkeraman 
kolonialisme [Foto: Istimewa]
Koran Sulindo – Penindasan brutal aparat militer dan kepolisian terhadap 
manifestasi di berbagai kota untuk memperingati apa yang disebut “Hari 
Kemerdekaan Papua”, 1 Desember 2018 telah melahirkan kutukan dan kemarahan 
besar terhadap rezim boneka imperialis Joko Widodo-Jusuf Kalla. Reaksi keras 
rakyat berbagai sektor, ada yang diiringi dengan dukungan spontan kepada 
tuntutan separatis dari sementara sektor penduduk Papua.

Lepas dari penolakan atau simpati terhadap keinginan memisahkan Papua dari 
Indonesia, ada baiknya kita meninjau kembali dan mempertimbangkan apakah 
kejadian 1 Desember 1961 memang sebuah pernyataan kemerdekaan sejati rakyat 
Papua.

Dalam Manifesto from the First Papuan People’s Congress, 1961, kita temukan 
pernyataan sebagai berikut: “in accordance with the ardent desire and the 
yearning of our people for our independence, through the National Committee and 
our parliament, the New Guinea Council, insist with the Government of 
Netherlands New Guinea and the Netherlands Government that as of November 1, 
1961, a. our flag be hoisted beside the Netherlands flag; b.our national anthem 
(Hai Tanahku Papua) be sung and played in addition to the Netherlands national 
anthem.”

Pertanyaannya kemudian, pertama, apakah Kongres Rakyat Papua itu merupakan 
wakil sejati mayoritas rakyat Papua? Kedua, dari penjajahan siapa Kongres 
Rakyat Papua menyatakan merdeka? Penjajahan Belanda? Penjajahan Indonesia? 
Ketiga, apa arti keberadaan the ‘Government of Netherlands New Guinea’? Apakah 
itu tidak menunjukkan kenyataan bahwa Pemerintah Belanda tidak mau angkat kaki 
dan tetap ingin menguasai Papua? Kemerdekaan macam apa kalau tetap menginginkan 
bendera dan lagu kebangsaan Belanda dikibarkan dan dinyanyikan bersama dengan 
bendera dan lagu kebangsaan Papua? Kemerdekaan sejati atau palsu?

Bandingkan dengan perjuangan rakyat Indonesia untuk mengusir penjajah kolonial 
Belanda sejak 1926, diteruskan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan 
kedaulatan di paruh kedua tahun 40-an sampai pembebasan Irian Barat. Sama 
sekali bukan hadiah dan mendapat restu pemerintah Belanda, tapi perjuangan 
berdarah-darah penuh pengorbanan luar biasa rakyat berbagai suku bangsa 
Indonesia. Sementara orang menuduh Pemerintahan Soekarno sebagai agresor dan 
kekuatan kolonial yang menganeksi dan menjajah Papua.

Orang-orang ini dengan sengaja menutup mata pada fakta sejarah berkaitan dengan 
wilayah Indonesia. Mereka menolak kenyataan bahwa batas-batas wilayah Indonesia 
memang warisan dari penjajahan Belanda. Kalau tidak, apa jalan keluarnya dan 
bagaimana kita menentukan batas-batas wilayah Indonesia yang diproklamasikan 
pada 17 Agustus 1945?

Papua Barat jelas termasuk Hindia Belanda. Kalau tidak, bagaimana mungkin 
ribuan komunis dan patriot Indonesia, setelah pemberontakan 1926, dibuang ke 
Boven Digul?

Bahwa dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia, tidak terdapat putra/putri 
atau tokoh Papua, bukanlah alasan untuk membenarkan pemisahan Papua dari 
Indonesia. Ada suku bangsa lain, seperti Dayak atau Bugis yang juga tidak 
terwakili dalam perjuangan kemerdekaan. Karena perkembangan kesadaran politik 
rakyat berbagai suku bangsa memang tidak merata. Itu bukan kesalahan Bung Karno 
dan merupakan alasan untuk menunda kemerdekaan Indonesia, atau membenarkan 
pemisahan Papua.

Deklarasi kemerdekaan adalah permulaan dari proses panjang Indonesia nation 
building, pembangunan bangsa Indonesia. Bukan hanya di Papua, tapi juga di 
daerah pedalaman Indonesia lainnya, belum ada atau masih sangat kecil 
perkembangan politik di kalangan rakyatnya.

Penerapan pendapat Lenin tentang self determination atau hak menentukan nasib 
sendiri dalam hal Papua juga tidak tepat, karena Indonesia bukan penjajah 
kolonial Papua. Sebaliknya, prinsip self determination Leninis dapat diterapkan 
dan diwujudkan melalui dukungan kepada perjuangan anti-kolonial Belanda, bahkan 
yang dipimpin kaum bangsawan-feodal, seperti misalnya kasus Perang Diponegoro, 
Perang Aceh, Perang Tondano, Perang Puputan di Bali, dan masih banyak lagi.

Kita tahu pemerintah Belanda tidak pernah bersedia menerima kenyataan Indonesia 
merdeka. Sikap itu jelas diwujudkan dengan agresi militer tahun 1947 dan 1948, 
berbagai macam perundingan, dari Linggarjati 1946, Renville 1948, Roem-Royen 
Mei 1949, hingga Konferensi Meja Bundar November 1949. Hasil dari semua 
perundingan ini sama sekali tidak menguntungkan usaha mempertahankan 
kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Sampai akhirnya Pemerintah Indonesia, 
tahun 1956, di bawah tekanan kekuatan rakyat progresif ketika itu, membatalkan 
secara sepihak KMB.

Belanda sangat berkepentingan Indonesia terpecah belah untuk dapat 
mendominasinya. Jadi jangan lupa Belanda hadir di KMB dengan membawa para 
bonekanya: Nugini Belanda, Kesultanan Pontianak, Negara Indonesia Timur, Negara 
Madura, Negara Pasundan dan Negara Sumatra Timur. Mengapa Kongres Rakyat Papua, 
1 desember 1961, menginginkan bendera dan lagu kebangsaannya berkibar dan 
dinyanyikan bersama dengan bendera dan lagu kebangsaan Belanda? Salahkah kalau 
orang menginterpretasinya sebagai boneka Belanda?

Buas
Bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan ini tidak boleh dilupakan, 
terutama oleh kawan-kawan generasi muda. Penting sekali memahami sifat “buas” 
dari kolonialisme Belanda, tidak mengacaukan dan menghilangkan garis pemisah 
jelas antara pejuang kemerdekaan sejati dengan antek serta boneka kaum penjajah 
kolonial dan imperialis Belanda.

Secara formil Indonesia telah merdeka dan berhasil mengusir pasukan kolonial 
Belanda dari seluruh wilayahnya. Tapi, apakah Indonesia sudah merdeka secara 
politik dan ekonomi? Apakah kemerdekaan sudah mendatangkan kemakmuran, 
kebebasan dan keadilan bagi semua rakyatnya dari Sabang sampai Merauke? Semua 
orang tahu jawabannya. Kemakmuran hanya dinikmati oleh kelompok elite dan 
segelintir kelas menengah atas. Kesenjangan semakin melebar antara mereka yang 
di atas dan rakyat jelata berbagai suku bangsa di segala pelosok tanah air.

Sejak kudeta militer 1965, Indonesia dengan semua kekayaan alamnya diserahkan 
kepada kekuatan imperialis, lembaga keuangan dan perdagangan serta korporasi 
multinasionalnya. Tak peduli siapa presidennya. Hutan-hutan habis digunduli, 
penyusutan tanah pertanian membuat semakin jauh swasembada pangan. Isi perut 
bumi menjadi sasaran pertambangan yang merampas tanah petani dan komunitas 
adat, menghilangkan mata pencaharian penduduk, meninggalkan pencemaran 
lingkungan dan penyakit. Ini terjadi di semua pulau besar dan kecil dan juga 
Papua.

Sifat masyarakat setengah jajahan setengah feodal berlaku bagi Indonesia secara 
keseluruhan, tak terkecuali Papua. Soal tanah adalah kontradiksi pokok yang 
harus diselesaikan sebelum kita dapat maju membangun industri nasional. Musuh 
yang dihadapi rakyat berbagai suku di Papua adalah juga musuh rakyat berbagai 
suku di seluruh kepulauan Indonesia, yaitu kapitalisme birokrat, tuan tanah 
besar, kaum kapitalis birokrat dan komprador yang merupakan antek dan kaki 
tangan kaum imperialis.

Usaha memisahkan Papua dari Indonesia justru mengalihkan perhatian penduduk 
Papua dari masalah pokok yang dihadapinya: perampasan tanah, penggundulan 
hutan, penghilangan mata pencaharian dan sumber makanannya yang terus 
memiskinkan dan melaparkan mereka. Rakyat Papua tidak membutuhkan pembangunan 
model neo-liberal Jokowi seperti jalan tol ribuan kilometer. Bukan penduduk 
Papua yang akan menggunakannya, melainkan para penanam modal untuk mempercepat 
transportasi kekayaan alam yang dieksplotasi dan penetrasi barang konsumsi yang 
akan “mendidik” dan menciptakan masyarakat konsumen di pedalaman.

Yang sungguh-sungguh dibutuhkan rakyat Papua adalah sekolah, rumah sakit, 
pekerjaan dengan upah layak, pengembangan dan penghormatan terhadap gaya hidup 
dan kebudayaan berbagai suku bangsanya. Kebutuhan pokok ini juga dirasakan oleh 
semua suku bangsa di kepulauan Indonesia lainnya. Persatuanlah yang dibutuhkan 
guna mencapai tujuan mulia semua suku bangsa Indonesia, yaitu kedaulatan 
rakyat, bukannya perpecahan berdasarkan pada ras, warna kulit dan kepercayaan 
atau agama.

Pengalaman Afrika Selatan menunjukkan, pergantian ras dan warna kulit para 
penguasa sama sekali tidak membawa kemuliaan dan kemakmuran kelas pekerja 
berkulit sama dengan kaum elite. Hanya dalam sebuah pemerintahan di mana rakyat 
sungguh-sungguh berdaulat, segala macam aspirasi, termasuk pemisahan diri, dari 
semua suku bangsa dapat dibicarakan dengan bebas dan damai. Kedaulatan rakyat 
sejati menjamin tak satupun suku bangsa akan hidup di bawah kekuasaan kaum 
kapitalis birokrat dan komprador serta tuan tanah pengabdi kaum imperialis.

Aspirasi kemerdekaan rakyat Papua yang bisa sungguh-sungguh mendatangkan 
kemakmuran dan keadilan harus dipimpin oleh kelas termaju yang tak punya 
kepentingan lain kecuali membebaskan dirinya dari belenggu pengisapan dan 
penindasan. Sudah lewat zaman di mana kelas borjuasi nasional dapat memimpin 
dan membawa perjuangan rakyat terisap dan tertindas ke kemenangan terakhir. 
Seperti dicanangkan oleh Bung Karno, hanya satu hari depan yang harus 
diperjuangkan oleh rakyat Indonesia, yaitu sosialisme: tanpa exploitation de 
l’homme par l’homme. [Tatiana Lukman]

Kirim email ke