Sogok, suap, terstruktur.
"Ya, korupsi adalah salahsatu taktik andalan pemodal yang terbukti sukses saat 
mengobrak-abrik Uni Soviet melalui korupsi para pejabat negara dan petinggi 
agama (ortodoks)."

--- jonathangoeij@... wrote:
dana otsus itu buat nyogok pejabat2 daerah, dibikin korupsi

--- ajegilelu@... wrote :

Sedikit tentang status Otonomi Khusus.
Kenapa Aceh dan Papua (+ Papua-barat) diberi status "otonomi khusus"? Karena 
kedua daerah di ujung barat dan ujung timur Indonesia itu diarahkan untuk 
terbentuk menjadi daerah "pancasilais" (Islam di Aceh dan Kristen di Papua). 
Karena itulah kedua daerah perlu didukung dana otonomi yang khusus pula (Aceh 
mulai tahun 2006 dan Papua mulai 2001). Barang siapa berani protes / menentang 
kucuran dana khusus ini pastilah dia kafir yang antipancasila! hahaha...
Ya, masih segar dalam ingatan bagaimana ngototnya antek-antek nekolim 
menyematkan status Otonomi Khusus sebagai judul besar dari "dana otsus". 
Padahal jelas sekali guyuran duit gratis macam ini sangat rentan korupsi. Tidak 
salah kalau orang bilang dana otsus itu idem dengan korupsi khusus. 
"Terstruktur". 
Dengan kata lain, infrastruktur-korupsi yang dibangun para antek melalui status 
Otonomi Khusus ya masih seirama belaka dengan gendangan nekolim untuk 
memecahbelah Indonesia. Ya, korupsi adalah salahsatu taktik andalan pemodal 
yang terbukti sukses saat mengobrak-abrik Uni Soviet melalui korupsi para 
pejabat negara dan petinggi agama (ortodoks).
Jelas, penyematan status Otonomi Khusus merupakan bagian dari upaya membubarkan 
RI. Samasekali tidak ada kaitannya dengan sejarah terbentuknya RI yang secara 
resmi memberi status Daerah Istimewa untuk menghormati dukungan Yogya dan Aceh 
serta Daerah Khusus Ibukota sebagai penghargaan terhadap Jakarta. Tentu tanpa 
mengurangi penghormatan kepada semua daerah.
Lantas, apa kabar pemberantasan korupsi di era Jokowi? 
---arif.harsana@... wrote:


Ikut nimbrung.


Dlm mencari solusi untuk Papua, tidak boleh mengulang kekeliruan spt di Aceh. 
Selain tetap miskin karena dana otonomi khusus di Aceh dikorupsi oleh elitenya, 
dg pemberlakuan syariah Islam di Aceh, ada berbagai aturan yg melanggar Hak 
Asasi Manusia (HAM) yg dimuat dlm Konstitusi RI /Pasal 28 A sampai Pasal 28 J.

Usul RR untuk mengkaji ulang status "otonomi khusus" untuk Papua bisa dijadikan 
bahan pertimbangan. 

==>https://www.acehtrend.com/2019/09/04/rizal-ramli-aceh-tidak-bisa-jadi-contoh-yang-baik/




--- Original-Nachricht ---
Von: Lusi D.


Idenya RR itu yalah untuk memotong kejahatan perampokan di tengah
perjalanan uang subsidi oleh birokrasi admininstrasi penguasa
pemerintah pusat maupun daerah, untuk menyulut kehidupan perkembangan
ekonomi sesuai keadaan kongkrit di Papua. Harap metode berfikir kaum
cerdik pandai maupun para sarjana sekolah tinggi-tinggi itu janganlah
membayangkan lebih dulu seperti dengan fantasi sebagai pengusaha atau
pedagang sukses di lingkungan masyarakat yang perputaran perekonomian
sudah berjalan normal. Itu merupakan langkah sangat-sangat permulaan.
Ada yang berfantasi bgm kalau terus mengadakan usaha dagang. Tapi kalau
konsumennya tidak ada siapa yang akan beli barang dagangannya?

Untuk menghindarkan penghamburan uang seandainya kalau sampai sudah
juga dikemukakan bgm mencegahnya, yaitu dikirimkan langsung ke
emak-emak. Jangan kepada mereka, yang rasa tanggungjawab kehidupan
kurang punya perhatian atas kesejahteraan keluarga. Dan orang akan
berfikir normal dan jernih kalau perutnya kenyang dan beban kehidupan
teratasi. 

Masalah pendiskusian jumlah subsidi bisa disesuaikan dng kebutuhan
kongkrit nanti. Soal penyediaan dana yah hitung saja berapa keuntungan
dan kekayaan Freeport dari hasil pengerukan kekayaan alam tanah tumpah
darah rakyat Papua selama ini. 

Am Thu, 5 Sep 2019 14:35:52 +0200
schrieb kh djie :

> Ideenya Rizal Ramli memang bisa langsung kelihatan hasilnya:
> Penduduk hidup lebih makmur, dan ekonomi mungkin bisa jalan (uang bisa
> berputar) ?
> Tetapi butuh dana besar sekali "Penduduk Pap1ua Barat : 915. 361
> (tahun 2017).
> Penduduk Papua
> :3.265.202 ( 2017).
> Total
> 4.2 juta
> Kalau tiap orang diberi 1 juta per bulan, tiap bulan butuh 4.2 juta X
> 1 juta = 4.2 trilyun.
> Berarti setahun = 4.2 trilyun X 12 = 50.4 trilyun.
> Khusus untuk alokasi dana otonomi khusus Provinsi Papua dan Provinsi
> Papua Barat, pemerintah menganggarkan Rp 8,4 triliun (Papua Rp 5,8
> triliun dan Papua Barat Rp 2,5 triliun).
> https://republika.co.id/berita/pwj7n3370/jokowi-sediakan-dana-otonomi-khusus-papua-rp-84-triliun
> 
> Lalu dari anggaran2 mana untuk Papua dan Papua Barat mau dipakai
> menutup kekurangan 50.4 - 8.4 = 42 trilyun ?
> Yang dikatakan RR sebesar 67 trilyun itu dana dari tahun 2001 hingga
> 2017 : Sejak digelontorkan pada 2001 hingga 2017, total dana otsus
> untuk Papua dan Papua Barat sebesar Rp67 triliun.
> https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46289211
> Bagaimana kalau penduduk selain dapat uang bulanan juga diajari
> bercocok tanam yang paling mudah dengan tanaman tahan penyakit
> misalnya singkong, dan ternak tahan penyakit, misalnya bebek ?
> 
> Pada tanggal Kam, 5 Sep 2019 pukul 13.27 Lusi D. menulis:
> 
> > Berikut sekedar berita tentang perkembangan ekonomi terakhir.
> > Selamat membaca. Lusi.-
> >
> > 1.:
> >
> > Rizal Ramli: Aceh Tidak Bisa Jadi Contoh yang Baik
> >
> > By
> > Muhajir -
> > 04/09/2019
> >
> > ACEHTREND.COM, Jakarta- Pakar Ekonomi Rizal Ramli mengatakan
> > penyelesaian persoalan Papua dan Papua Barat tidak bisa secara
> > simbolik. Otonomi khusus di sana tidak efektif, karena membuka
> > peluang korupsi.
> >
> > Hal ini disampaikan oleh Rizal Ramli dalam acara Indonesa Lawyers
> > Club (ILC) bertema Papua: Mencari Jalan Terbaik di tvOne, Selasa
> > (3/9/2019).
> >
> > Perihal tidak efektifnya pelaksanaan otonomi khusus, Rizal Ramli
> > merujuk kepada Aceh, yang menurutnya tidak bisa menjadi bukti
> > kesuksesan pelaksanaan otonomi khusus. Di Aceh, menurut Rizal Ramli,
> > pelaksanaan otsus tidak sesuai harapan.
> >
> > Sebagai propinsi yang mendapatkan mandat menjalankan otonomi khusus
> > serta mendapatkan uang yang tidak sedikit, Aceh tidak kunjung keluar
> > dari problem klasiknya yaitu kemiskinan. Saat ini Aceh menjadi
> > daerah termiskin di Sumatera. Dengan angka pengangguran tertinggi..
> > Menurut Rizal, dana otsus untuk Aceh dikorupsi oleh elit Aceh.
> >
> > Rizal, pada kesempatan itu mengatakan, bila ingin menyelesaikan
> > persoalan Papua, maka Pemerintah perlu menjadikan negara bagian
> > Alaska, Amerika Serikat, sebagai contoh. Di sana, Pemerintah Alaska
> > memberikan uang tunai setiap bulan untuk warga asli. Meski kemudian
> > warga tersebut tetap bertahan dengan profesi sebagai nelayan, tapi
> > mereka punya uang untuk hidup sejahtera.
> >
> > “Beri warga Papua satu juta per orang setiap bulan. Jadi kalau ada
> > empat orang dalam satu keluarga, beri mereka empat juta. Pemerintah
> > bisa meminta BRI untuk menyediakan ATM buat mereka. Transfer
> > langsung ke warga. Tapi berikan pada mama-mama, sebab jika
> > diberikan pada laki-laki, itu akan habis dibuat untuk mabuk,” ujar
> > Rizal Ramli.
> >
> > Sumber: ILC
> >
> > 2.:
> >
> > Rizal Ramli Ungkap Salah Penanganan Aceh dan Timor Timur, Jangan
> > Ulangi di Papua!
> >
> > By Mahameru Alfaraby |
> > September 4, 2019
> >
> > KedaiPena.Com – Tokoh Nasional Rizal Ramli kembali menegaskan tidak
> > boleh menggunakan pendekatan kekerasan dalam menangani masalah
> > Papua.
> >
> > Ia pun meminta Pemerintahan Jokowi meniru langkah pendahulunya
> > Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menganggap Papua sebagai
> > saudara.
> >
> > “Saya ini menteri kabinet Gus Dur. Pendekatan Gus Dur beda karena
> > Gus Dur anggap kita semua saudara,” kata Rizal Ramli di Jakarta,
> > ditulis Rabu (4/9/2019).
> >
> > Ia pun mengambil analogi jika dalam satu keluarha, ada seorang anak
> > bilang mau ke luar rumah. Maka ada tiga pilihan, yang pertama
> > ditangani dengan kekerasan atau dipukuli. Kedua mengusir anak
> > tersebut. Dan yang ketiga, adalah instropeksi diri.
> >
> > “Bapak yang benar instropeksi. Mungkin saya kurang adil, kurang
> > sayang. Jadi kita duduk bareng, jangan main gebuk. Sama seperti
> > Papua. Kalau kita main gebuk sama saja membantu kampanye Papua
> > merdeka,” tegas dia.
> >
> > Rizal pun menceritakan awal mula kemerdekaan Timor Leste dari
> > Indonesia yang dimulai dari sekelompok kecil orang. Namun menjadi
> > besar karena Indonesia salah urus konflik.
> >
> > “Xanana (Gusmao, tokoh Fretilin Timor Leste) itu temen deket saya..
> > Saya sempet tanya dulu bagaimana bikin gerakan politik, lalu sayap
> > politik. Ternyata modalnya kurang dari 100 orang,” cerita Menko
> > Ekuin era Presiden Gus Dur ini.
> >
> > Tapi karena aparat Indonesia main kekerasan kepada sipil, maka
> > rakyat Timor Timur, ketika itu, ikut gerakan politik dan bersenjata
> > ini.
> >
> > Demikian juga di Aceh. Informasi yang dihimpun Rizal dari salah satu
> > Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mereka merintis gerakan politik
> > dan sayap militer hanya dengan 60 orang.
> >
> > Sama seperti cerita Timor Leste, karena aparat juga main kekerasan,
> > maka rakyat bergabung dan GAM makin berkuasa. Barulah setelah
> > tsunami pada 2004, barulah tercipta perdamaian di bumi Serambi
> > Mekah.
> >
> > “Gerakan bersenjata harus ditangani dengan sepatutnya. Tapi jangan
> > represif ke sipil di mana saja di Indonesia termasuk Papua. Karena
> > kalau kita represif bantu kampanye gerakan tersebut,” tandas Gus
> > Romli, sapaan Rizal di kalangan Nahdliyin.
> >
> > Laporan: Muhammad Lutfi
> >
> > 3.:
> >
> > Sri Mulyani Akui Ekonomi RI Tidak Mencapai Target, Menkeu Era
> > Soeharto Prediksi Lebih Buruk
> >
> > By Irfan Murpratomo |
> > September 4, 2019
> >
> > Fuad melanjutkan prediksi tersebut bisa lebih buruk, jika melihat
> > dan menghitung dampak yang ditimbulkan dari kerusakan lingkungan
> > khususnya pembakaran hutan yang saat ini marak di Indonesia.
> >
> > “Itupun tanpa mengukur dan mempertimbangkan kerusakan yang
> > ditimbulkan bisa mencapai dua persen dan tiga persen. Kerusakan
> > yang saya maksud adalah kerusakan kehutanan dan lain- lain,” tutur
> > Fuad.
> >
> > 
> >
> 




#yiv4506838925 #yiv4506838925 -- #yiv4506838925ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-mkp #yiv4506838925hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-mkp #yiv4506838925ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-mkp .yiv4506838925ad 
{padding:0 0;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-mkp .yiv4506838925ad p 
{margin:0;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-mkp .yiv4506838925ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-sponsor 
#yiv4506838925ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-sponsor #yiv4506838925ygrp-lc #yiv4506838925hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-sponsor #yiv4506838925ygrp-lc .yiv4506838925ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4506838925 #yiv4506838925actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4506838925
 #yiv4506838925activity span {font-weight:700;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv4506838925 #yiv4506838925activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4506838925 #yiv4506838925activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv4506838925 #yiv4506838925activity span 
.yiv4506838925underline {text-decoration:underline;}#yiv4506838925 
.yiv4506838925attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv4506838925 .yiv4506838925attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv4506838925 .yiv4506838925attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv4506838925 .yiv4506838925attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4506838925 .yiv4506838925attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv4506838925 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv4506838925 .yiv4506838925bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4506838925 
.yiv4506838925bold a {text-decoration:none;}#yiv4506838925 dd.yiv4506838925last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4506838925 dd.yiv4506838925last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4506838925 
dd.yiv4506838925last p span.yiv4506838925yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv4506838925 div.yiv4506838925attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv4506838925 div.yiv4506838925attach-table 
{width:400px;}#yiv4506838925 div.yiv4506838925file-title a, #yiv4506838925 
div.yiv4506838925file-title a:active, #yiv4506838925 
div.yiv4506838925file-title a:hover, #yiv4506838925 div.yiv4506838925file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv4506838925 div.yiv4506838925photo-title a, 
#yiv4506838925 div.yiv4506838925photo-title a:active, #yiv4506838925 
div.yiv4506838925photo-title a:hover, #yiv4506838925 
div.yiv4506838925photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4506838925 
div#yiv4506838925ygrp-mlmsg #yiv4506838925ygrp-msg p a 
span.yiv4506838925yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4506838925 
.yiv4506838925green {color:#628c2a;}#yiv4506838925 .yiv4506838925MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv4506838925 o {font-size:0;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925photos div {float:left;width:72px;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4506838925
 #yiv4506838925reco-category {font-size:77%;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925reco-desc {font-size:77%;}#yiv4506838925 .yiv4506838925replbq 
{margin:4px;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-mlmsg select, #yiv4506838925 input, #yiv4506838925 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-mlmsg pre, #yiv4506838925 code {font:115% 
monospace;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-mlmsg #yiv4506838925logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-msg 
p#yiv4506838925attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-reco #yiv4506838925reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-sponsor 
#yiv4506838925ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-sponsor #yiv4506838925ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-sponsor #yiv4506838925ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv4506838925 #yiv4506838925ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv4506838925 
#yiv4506838925ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv4506838925   

Kirim email ke