Artikel berikut sebagai pengenalan dan memuat jawaban atas pertanyaan
siapa dan bagaimana perjalanan hidup seorang Rizal Ramli yang sering
diperbincangkan orang manakala ada yang mempresentasikan pemikiran atau
tanggapan dia terhadap suatu pendapat yang aktual terutama masalah
ekonomi politik.
Selanjutnya yah saya persilahkan membacanya.




Kepercayaan Diri dan Kerendahan Hati Seorang Rizal Ramli

Submitted by redaksi on Sabtu, 4 Aug 2018 - 15:09 

Oleh: Gede Sandra*


Sebenarnya, yang dikira sebagai sifat sombong dan “sok jago” Rizal
Ramli (RR) oleh sekalangan orang, menurut kami hanya suatu bentuk
kepercayaan diri yang terlalu tinggi.

Dan jelas kepercayaan diri yang tinggi adalah modal RR dapat sampai ke
titik ini dalam kehidupannya.

Harus diketahui, RR kecil memulai langkahnya dari kondisi nyaris
sebatang kara, usia 8 tahun sudah yatim piatu dan hanya diasuh neneknya
yang buta huruf di Bogor.

Remaja RR membantu nafkah neneknya dengan beternak ayam kecil-kecilan
di belakang rumah. Meski tidak seberuntung teman-temannya secara
ekonomi, di sekolah sejak SD hingga SMA, RR selalu menjadi yang terbaik
di kelas. Prestasi inilah yang kemudian mengantarnya diterima di ITB.

Saat mulai kuliah di jurusan Fisika ITB, RR terpaksa cuti satu semester
untuk menjadi mandor percetakan agar bisa bayar uang pangkal kuliah.
Selanjutnya, untuk biaya hidup RR selama kuliah mengandalkan kemampuan
bahasa inggrisnya dengan bekerja sebagai penerjemah dan guru bimbingan
belajar di Bandung.

Susah membayangkan, kesombongan dapat lahir dari perjalanan masa kecil
hingga pemuda seperti yang dialami RR tersebut.

Lalu darimana kemudian datangnya mental jagoan, kepercayaan diri yang
sangat tinggi yang dimiliki RR?

Ceritanya, pada suatu ketika dirinya sebagai mahasiswa pernah
mendapatkan kesempatan pergi ke Jepang. RR terkagum-kagum pada gerak
maju negeri Jepang pada era tersebut, sekitar pertengahan tahun 1970-an.

Saat itu Jepang baru saja mengakhiri era pertumbuhan ekonomi double
dijit selama sepuluh tahun, industri kecil rumahan berkembang pesat
mensupport industri besar yang menjadi jago dunia, tidak ada buta huruf
dan anak putus sekolah, dan pertaniannya mampu swasembada meski
ketersediaan lahan di negara tersebut terbatas (bila dibandingkan
Indonesia).

Kembali ke Indonesia, RR berikrar untuk mewujudkan Bangsa Indonesia
yang dapat mengejar kemajuan Bangsa Jepang. Sejak saat itu, kehidupan
RR diabdikan untuk memenuhi ikrarnya bagi Indonesia (sampai sekarang,
45 tahun setelah saat itu, kita masih sering dengar di berbagai
pidatonya, RR mengeluhkan pertumbuhan ekonomi Indonesia belum pernah
double dijit seperti Jepang di masa jayanya).

Sungguh suatu cita-cita yang mulia untuk anak muda yang baru berusia
20-an awal. Kondisi seperti itulah yang, mau tidak mau, melahirkan
kepercayaan diri yang tinggi dan sikap mental jagoan dalam dirinya.
Jagoan dalam makna yang positif tentunya: kita pasti sanggup mengejar
negara maju!

Langkah pertama yang dilakukan RR untuk dapat mewujudkan ikrarnya bagi
Bangsa adalah dengan mengenal rakyatnya. Turun ke bawah (turba) dari
menara gading kampusnya yang nyaman menuju gubuk-gubuk rakyat, menjadi
orang pergerakan. Bersama seorang temannya sejak di SMA hingga di ITB,
yang bernama Irzadi Mirwan (almarhum), RR berekspedisi ke
kantung-kantung kemiskinan di sepanjang pantai utara Jawa, Bali, dan
Lombok.

Pada suatu perhentian ekspedisi di Tegal, RR sempat hidup menumpang
selama seminggu di sebuah bagan nelayan bersama seorang nelayan dan
anaknya yang membantu kerja sang ayah. Anak nelayan tersebut, yang
bernama Sugriwa, mengadukan nasibnya ke RR. Sugriwa sangat ingin
mencicipi bangku sekolah, tapi tak kesampaian karena kemiskinan.

Ternyata ada sangat banyak “Sugriwa” lain, anak-anak Indonesia yang
terpaksa putus sekolah, yang ditemukan RR sepanjang ekspedisinya.
Menurut penelitian RR dan kawan-kawan pergerakan mahasiswa saat itu,
terdapat sekitar 8 juta anak putus sekolah di seluruh Indonesia. Itulah
yang mendorong RR dan kawan-kawannya membuat Gerakan Anti Kebodohan
(selain disuarakan oleh Dewan Mahasiswa Se Indonesia, kalangan seniman
seperti penyair WS Rendra dan sutradara Sumanjaya mendukung gerakan ini
dengan membuat film “Yang Muda Yang Bercinta) yang bertujuan mendesak
pemerintah Orde Baru untuk menyelesaikan masalah pendidikan ini. Lima
tahun kemudian, Orde Baru menjawabnya dengan mencanangkan Wajib Belajar
6 tahun.

Dari cerita tentang ekspedisi ke kantung kemiskinan, kita dapat
menangkap sifat kerendahan hati dari seorang RR. Seorang mahasiswa dari
kampus terbaik di kota besar, yang seharusnya dapat menikmati kuliah
dan pergaulan kampus, tapi bersedia hidup susah di gubuk miskin untuk
mendengar kesusahan rakyat.

Sedangkan, dari Gerakan Anti Kebodohan, kita dapat menangkap suatu
sifat kepercayaan diri yang luar biasa dari RR. Dirinya jelas saat itu
bukan ekonom (RR memutuskan meninggalkan profesi fisika dan memilih
profesi sebagai ekonom ketika sedang menjadi tahanan politik Orde Baru,
ia menyadari ilmu ekonomi akan dapat membantu Bangsa Indonesia mengejar
Negara Maju), tapi berani menyimpulkan data anak putus sekolah. Selain
itu, dia sangat percaya diri  dan juga berani mendesak Orde Baru, yang
saat itu sedang kuat-kuatnya dan ganas-ganasnya, terutama terhadap
segala bentuk gerakan protes kepada pemerintah.

Kepercayaan diri yang telalu tinggi juga lah yang kemudian memaksa
pemerintah Orde Baru memenjarakan RR selama 1,5 tahun. Ini setelah
sebelumnya di tahun 1978 bersama kawan-kawannya, RR menulis Buku Putih
Perjuangan Mahasiswa yang mengkritik strategi pembangunan ekonomi dan
gejala KKN Orde Baru (setelah Buku Putih, sebenarnya RR dan kawan-kawan
ketika dalam pelarian dari kejaran Orde Baru juga sempat menulis Buku
Biru, yang isinya merupakan solusi ekonomi politik Indonesia saat tahun
1978 itu)

Jadi, bila masih ada yang belum paham kenapa hingga saat ini RR tidak
bosan-bosannya menyuarakan kritik, “jurus kepret”, secara blak-blakan,
jawabannya: RR sudah lebih 40 tahun melakukannya, kenapa sekarang harus
berhenti? Toh, cita-cita membawa Indonesia menjadi bangsa maju belum
tercapai.


Bukankah kita semua sepakat? Pemimpin Bangsa Indonesia memerlukan
kepercayaan diri yg tinggi, memerlukan mental jagoan, agar bisa
menghadapi pemimpin bangsa-bangsa besar seperti China dan AS, yg juga
amat sangat percaya diri. Di sini lah kepercayaan diri RR yang sangat
tinggi dibutuhkan Indonesia.

——

Sebagai penutup. Ada beberapa kisah yang juga menggambarkan sifat asli
kerendahan hati RR.

Pertama. Kesaksian dari seorang pengendara ojek online yang mangkal dan
tinggal di kawasan yang sama dengan kediaman RR. Dia mengaku heran
melihat RR sama sekali tidak terganggu dengan acara bazar/pasar rakyat
rutin,  yang lokasinya terpaksa menutup jalanan depan kediaman RR. Bila
terpaksa harus pergi keluar rumah, karena mobil tidak dapat digunakan,
tanpa ragu RR menggunakan ojek untuk sarana transportasi. Para tukang
ojek ini heran karena kebiasaan seperti ini dilakukan oleh seorang yang
berkali-kali menjabat

Kedua. Hanya yang menerimanya yang mengetahuinya. Selama puluhan tahun,
RR telah membantu biaya pendidikan banyak sekali orang. Kadang,
meskipun sedang tidak banyak tabungan, RR tetap berusaha membantu.
Sebagian dari mereka yang dibantu, saat ini sudah menjadi tokoh publik,
sebagian sudah menjadi profesional. Dapat dilihat, seberapa komitmen RR
terhadap dunia pendidikan pemuda pemudi Indonesia. Hanya orang yang
rendah hati lah yang masih ingin memajukan orang lain, karena dia
merasa mungkin saja orang yang dibantunya ini akan lebih hebat dari
dirinya.

Ketiga. Kerendahan hati dan komitmen terhadap dunia pendidikan ini pun
menurun pada anak-anak RR. Dua dari tiga anak RR adalah buktinya. Anak
yang pertama adalah seorang guru sekaligus penggiat pendidikan
alternatif, sejak kuliah aktif mengajar di kampung-kampung miskin di
dekat kampusnya. Anak kedua, seorang wirausaha yang kegiatan usahanya
adalah membantu biaya pendidikan bagi mahasiswa yang tidak mampu tapi
berminat melanjutkan kuliahnya ke tingkat yang lebih tinggi.

Yang terakhir. Bila sudah kenal dengan pribadi RR cukup dekat, sehingga
intens berkomunikasi, kita akan terkejut dengan cara berkomunikasinya
yang sangat rendah hati dan mendidik. RR selalu menggunakan kata
“maaf”, “tolong”, dan “terima kasih” dalam berbicara kepada siapapun
orangnya, muda tua, kaya miskin, elit atau rakyat biasa, tanpa
membeda-bedakan. Kata-kata ajaib yang menurut pakar pendidikan anak
akan melatih anak-anak kita untuk berbesar hati mengakui kesalahan
(“maaf”), menghargai orang lain (“tolong”), dan menunjukkan empati
(“terima kasih”). *

4 Agustus 2018















Kirim email ke