*Biar Krakatau Steel Selamat, Ini Solusi dari Komisaris*

*SHARE*



*Jakarta, CNBC Indonesia* - Dibutuhkan langkah revolusioner untuk
memperbaiki kinerja perusahaan baja pelat merah, PT Krakatau Steel Tbk
(KRAS). Hal tersebut disampaikan Komisaris Krakatau Steel Roy Edison
Maningkas setelah menyampaikan surat pengunduran diri dari jabatannya.

Roy menjelaskan, saat ini KRAS memiliki utang jangka pendek yang harus
dibayarkan oleh perusahaan mencapai US$ 1,59 miliar, naik 17,38%
dibandingkan 2017 senilai US$ 1,36 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar
dibandingkan utang jangka panjang sebesar US$ 899,43 juta.

*PILIHAN REDAKSI*

·        *Komisaris: KRAS Sudah Dijarah Habis-habisan!
<https://www.cnbcindonesia.com/market/20190724093452-17-87088/komisaris-kras-sudah-dijarah-habis-habisan>*

·        *Komisaris Sebut Proyek Blast Furnace Bikin KS Rugi Rp 1,3 T
<https://www.cnbcindonesia.com/news/20190724131234-4-87223/komisaris-sebut-proyek-blast-furnace-bikin-ks-rugi-rp-13-t>*

·        *Serem! Ada Invisible Hand di Krakatau Steel
<https://www.cnbcindonesia.com/market/20190724142954-17-87252/serem-ada-invisible-hand-di-krakatau-steel>*


Menurut Roy jika tidak bisa bertarung di integrated strip mill, maka
perusahaan bisa memperbesar bisnis pendukungnya. Beberapa bisnis perusahaan
yang berkembang pesat misalnya perusahaan PT Krakatau Tirta Industri, PT
Krakatau Bandar Samudera, dan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC).

"Dibutuhkan tindakan yang sifatnya revolusioner, bukan evolutif. Misalnya,
kalau tidak bisa bertarung di integrated strip millnya, kita lihat dong kan
ada industri pendukung yang untung," kata Roy kepada CNBC Indonesia TV,
Rabu (24/07/2019).


Sementara lini produksi baja milik perseroan bisa dilakukan dengan berbagi
risiko dengan perusahaan yang memiliki kompetisi disana. Roy mencontohkan
perusahaan asal Korea Selatan seperti Posco, atau menggandeng perusahaan
asal China yang sudah berpengalaman.

"Misalnya kita produksinya 2,5 juta ton, kemudian kita berdiri sama dengan
Posco, Posco sudah 50 juta ton. Kemudian China 800 juta ton per tahun, kita
tidak ada apa-apanya. Jadi harus lebih cerdik, perusahaan ini harus
untung," ujarnya.

Selain utang, perseroan juga tengah menggarap proyek blast furnace yang
berpotensi membuat perusahaan rugi hingga Rp 1,17 triliun- 1,38 triliun per
tahun (US$ 85-96 juta). Pasalnya, harga pokok produksi dari blast furnace
justru menjadi lebih mahal, otomatis harga produk pun akan lebih mahal di
pasaran.

"Saya menghitung harga pokok produksi akan lebih mahal sekitar US$ 70-82
per ton. Kalau kapasitasnya 1,2 juta ton kan besar sekali kerugiannya,"
kata Roy.

*Proyek Blast Furnace Dilanjutkan, Komisaris KRAS Mundur*


Diapun sudah berkali-kali melayangkan surat pada direksi maupun Kementerian
BUMN perihal proyek untuk menghentikan hot metal tersebut. Pada
kenyataannya proyek dijalankan terus, hingga direksi menyatakan siap
beroperasi. Padahal Roy menilai proyek tersebut belum siap dijalankan.

"Kami berkali-kali kirim surat ke direksi dan Kementerian BUMN, karena ini
bukan lampu kuning tapi lampu merah," tegasnya. *(hps)*

Kirim email ke