https://www.jawapos.com/nasional/28/09/2019/palu-setahun-setelah-gempa-besar-itu/


*Palu, Setahun setelah Gempa Besar Itu…*

NASIONAL <https://www.jawapos.com/nasional/>

28 September 2019, 13:51:38 WIB

[image: Palu, Setahun setelah Gempa Besar Itu...]*Bertahan di Tenda :
Sebanayk 251 KK korban gempa dan likuefaksi kawsan Balaroa Palu bertahan di
tenda di area perbukitan Balaroa 26/9/2019. Mereka menunggu pembangunan
hunian tetap yang akan dibangun untuk korban gempa tsunami Palu oleh
Pemerintah. (Boy Slamet/Jawa Pos)*


*JawaPos.com* – Hari ini, tepat setahun silam, gempa berkekuatan 7,4 skala
Richter mengguncang Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong
(Padagimo). Mengakibatkan gelombang tsunami dan likuefaksi yang total
menewaskan 4.845 orang.

Kini, setelah setahun bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng) itu terjadi,
pembangunan kembali infrastruktur dan pemulihan masih lambat. Penderitaan
warga terdampak bencana belum sepenuhnya usai.

Pantauan *Jawa Pos* sejak Rabu lalu (25/9) sampai kemarin (27/9)
menunjukkan hal itu. Misalnya saja kondisi di sepanjang pantai taman ria
dan Talise, Palu.

Tempat yang menjadi pusat rekreasi warga ibu kota Sulteng tersebut kini
terlihat seperti kota mati. Sepanjang hari sepi. Kondisi hotel dan kafe
yang reyot tersapu tsunami masih sama dengan setahun lalu.

Jalan di sepanjang pantai juga belum normal. Satu ruas jalan yang dibawa
gelombang tsunami belum kembali. Jembatan kuning yang menjadi bangunan
ikonik juga tetap patah tanpa bisa dilalui. Tiang listrik memang sudah
tersambung di pesisir pantai. Tapi, penerangan jalan umum (PJU) masih padam..

Belum rampungnya pembangunan infrastruktur juga terlihat di Kelurahan
Balaroa. Salah satu titik likuefaksi yang menenggelamkan ratusan rumah di
Perumnas Balaroa. Akses ke lokasi sekitar Perumnas Balaroa berupa pasir dan
batu.

Belum pulihnya infrastruktur juga dirasakan oleh warga yang tinggal di
sekitar Pelabuhan Wani, Kecamatan Tanantovea, Donggala. Kapal-kapal yang
karam karena diterjang tsunami masih ditemui di pelabuhan. Juga banyak
hunian sementara (huntara) di sekitar pelabuhan yang kosong.

Pantauan Jawa Pos, masih ada 12 huntara. Mayoritas penghuni masih trauma
tinggal di pesisir pantai. Mereka memilih untuk tinggal di huntara yang
disediakan di perbukitan. Sebagian lain masih mengungsi ke sanak saudara
yang rumahnya jauh dari ancaman gelombang tsunami dan gempa.

Warga terdampak mengeluhkan kebutuhan hunian. Terutama hunian tetap
(huntap) yang sebelumnya dijanjikan oleh pemerintah. Warga sudah jenuh
tinggal di pengungsian untuk menunggu huntap mereka jadi.

”Saya jenuh. Tenda juga penuh dengan keluarga. Di tenda panas sekali,”
tutur Bahmit, warga Perumnas Balaroa, Palu.

Soal huntap, Sekdaprov Sulteng Hidayat Lamakarate mengatakan, pemprov
menargetkan membangun 6.050 unit rumah. Baik yang dibangun pemerintah pusat
maupun pihak swasta. ”Data per 16 September mencatat, sudah ada 30 unit
huntap yang selesai dibangun atas bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi,” terang
dia.

Rencana tahun ini, bekerja sama dengan Jepang, Pemprov Sulteng menggarap
sejumlah proyek. Salah satunya tanggul laut yang dibuat dari bebatuan besar
untuk pemecah ombak.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : elo/c11/ttg

Kirim email ke