https://www.suara.com/news/2019/08/23/073302/ylbhi-33-pelanggaran-ham-timpa-mahasiswa-papua-paling-banyak-di-surabaya

*YLBHI: 33 Pelanggaran HAM Timpa Mahasiswa Papua, Paling Banyak di Surabaya*

Dwi Bowo Raharjo

Jum'at, 23 Agustus 2019 | 07:33 WIB

[image: YLBHI: 33 Pelanggaran HAM Timpa Mahasiswa Papua, Paling Banyak di
Surabaya]Sejumlah pemuda dan mahasiswa asal Papua yang tergabung dalam
Aliansi Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme
melakukan aksi di depan Istana Merdeka,Jakarta, Kamis (22/8).
[Suara.com/Arya Manggala]


*Peristiwa pelanggaran hak asasi itu berupa intimidasi, tindakan rasial,
penggerebekan, dan penyerangan asrama.*


*Suara.com - *Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (*YLBHI*
<https://www.suara.com/tag/ylbhi>) mencat selama dua tahun terakhir ada 33
peristiwa *pelanggaran hak asasi manusia*
<https://www.suara.com/tag/pelanggaran-hak-asasi-manusia> (HAM) yang
dialami mahasiswa Papua di berbagai daerah di Indonesia.

Seperti diberitakan *Jatimnet.com* - jaringan *Suara.com*, sembilan
peristiwa terjadi di Surabaya, di Semarang dan Jakarta masing-masing empat
peristiwa, serta tiga di Yogyakarta dan lima di Bali. Adapun di wilayah
Papua, tercatat ada delapan peristiwa.

“Jumlah korban mahasiswa mencapai lebih dari 250 orang,” kata Kepala Bidang
Pengembangan Organisasi YLBHI Febionesta melalui keterangan tertulisnya,
Kamis (22/8/2019).

Febionesta menuturkan, peristiwa pelanggaran hak asasi itu berupa
intimidasi, tindakan *rasial* <https://www.suara.com/tag/rasial>,
penggerebekan, dan penyerangan asrama, pembubaran diskusi, serta pembubaran
aksi.

Selain itu beberapa mahasiswa Papua juga ada yang ditangkap
sewenang-wenang, terjadi penganiayaan, penggeledahan, dan penyitaan, serta
pembiaran pelanggaran hukum.

Menurutnya, para pelaku dalam peristiwa itu tak hanya ormas. Tapi juga
aparat negara, semisal tentara, polisi, petugas Satpol PP, serta pegawai
setempat.

“Aparatur negara tak mampu menjawab tantangan untuk mencegah terjadinya
pelanggaran HAM, malah menjadi pelaku pelanggaran,” katanya.


Spanduk di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. (Suara.com/Dimas).

Dalam kasus ini YLBHI juga mengecam pengiriman pasukan tambahan ke Papua
dalam dua hari terakhir.

Berdasarkan informasi yang didapat YLBHI, alasan pengiriman pasukan untuk
mengamankan obyek vital pascakerusuhan, dianggap tak tepat. Sebaliknya,
penambahan aparat keamanan itu justru berpotensi melahirkan pelanggaran dan
konflik baru.

“Semestinya penyelesaian persoalan diskriminasi rasial ini dilakukan
melalui pendekatan penegakan hukum dan HAM,” katanya.

Menurutnya, pemerintah mengirimkan 18 kompi pasukan Brimob dan TNI ke *Papua
Barat* <https://www.suara.com/tag/papua-barat>, menyusul pecahnya
demonstrasi massa yang berujung *kerusuhan*
<https://www.suara.com/tag/kerusuhan> di Manokwari, Sorong, dan Fakfak.
Pasukan tambahan itu didatangkan dari Sulawesi, Maluku, dan Bali.

Meski demikian, Juru bicara Polri Irjen Pol M.Iqbal mengatakan pasukan ini
tak dibekali peluru tajam dan akan mengutamakan pendekatan persuasif untuk
meredam konflik.

“Kami ingin mengedepankan upaya komunikasi dengan saudara-saudara kita
sesuai dengan SOP,” katanya.

Spanduk di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. (Suara.com/Dimas).

Dalam kasus ini YLBHI juga mengecam pengiriman pasukan tambahan ke Papua
dalam dua hari terakhir.

Berdasarkan informasi yang didapat YLBHI, alasan pengiriman pasukan untuk
mengamankan obyek vital pascakerusuhan, dianggap tak tepat. Sebaliknya,
penambahan aparat keamanan itu justru berpotensi melahirkan pelanggaran dan
konflik baru.

“Semestinya penyelesaian persoalan diskriminasi rasial ini dilakukan
melalui pendekatan penegakan hukum dan HAM,” katanya.

Menurutnya, pemerintah mengirimkan 18 kompi pasukan Brimob dan TNI ke *Papua
Barat* <https://www.suara.com/tag/papua-barat>, menyusul pecahnya
demonstrasi massa yang berujung *kerusuhan*
<https://www.suara.com/tag/kerusuhan> di Manokwari, Sorong, dan Fakfak.
Pasukan tambahan itu didatangkan dari Sulawesi, Maluku, dan Bali.

Meski demikian, Juru bicara Polri Irjen Pol M.Iqbal mengatakan pasukan ini
tak dibekali peluru tajam dan akan mengutamakan pendekatan persuasif untuk
meredam konflik.

“Kami ingin mengedepankan upaya komunikasi dengan saudara-saudara kita
sesuai dengan SOP,” katanya.

Kirim email ke