http://www.sinarharapan.co/hukumdanpolitik/read/8632/la_nyalla__dari_sopir_angkot_kini_ketua_dpd





http://www.sinarharapan.co/hukumdanpolitik/read/8632/la_nyalla__dari_sopir_angkot_kini_ketua_dpd

*La Nyalla, dari Sopir Angkot Kini Ketua DPD*

Rabu , 02 Oktober 2019 | 12:04



JAKARTA - La Nyalla Mattalitti telah terpilih menjadi Ketua Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2019-2024. Dia terpilih secara voting
mengalahkan tiga pesaingnya, yakni: Sultan Bachtiar, Mahyudin, dan Nono
Sampono.

Dari 134 anggota DPD yang hadir dalam rapat paripurna III dalam agenda
pemilihan Ketua DPD RI, La Nyalla meraih suara sebanyak 47 suara.
Sedangkan, Nono Sampono sebanyak 40 suara, Mahyudin sebanyak 28 suara, dan
Sultan Bachtiar mendapat 18 suara.

La Nyalla yang lahir 10 Mei 1959 itu kemudian diambil sumpah jabatan di
ruang rapat Nusantara V dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung, Hatta Ali.

Berikut adalah profil Ketua DPD RI 2019 2024, La Nyalla Mattalitti seperti
dirangkum *detik.com <http://detik.com>*:

1. Biodata La Nyalla

Pria berdarah Bugis ini memiliki nama lengkap La Nyalla Mahmud Mattalitti.
Ayahnya, Mahmud Mattalitti merupakan seorang dosen Fakultas Hukum
Universitas Airlangga. Sedangkan kakeknya, Haji Mattalitti adalah seorang
saudagar terkenal asal Bugis-Makassar yang berpengaruh besar di Surabaya.
Meskipun begitu, ia tidak memanfaatkan nama besar keluarganya dalam
merintis kehidupannya saat ini.

Ia merupakan sosok bengal semasa duduk di bangku sekolah, hingga berani
membawa senjata tajam di ujung senapan (sangkur) untuk berkelahi. Oleh
karena itu, keluarganya memutuskan untuk memasukkannya ke pondok pesantren
di wilayah Bekasi dan pesantren di daerah komplek Makam Sunan Giri Gresik
setelah ia beranjak dewasa.

2. Awal Karier

La Nyalla awalnya menjadi sopir angkot di sekitar tempat dia mondok
pesantren. Sejumlah preman dia ajak taubat dan membantu menjadi sopir
agkut. Dia sempat membuka bisnis dan merugi hingga sekitar Rp 180 juta.
Namun La Nyalla tak putus asa dan terus mengembangkan usaha hingga namanya
besar di Surabaya. Dia pun kemudian terpilih menjadi Ketua Kamar Dagang dan
Industri Indonesia (Kadin) Jawa Timur.

3. Aktif di Dunia Olahraga & Politik

Sosok aktif dan tekun ini juga memiliki pengaruh sebagai kader di partai
politik, seperti menjadi Ketua Pemuda Pancasila (PP) Jawa Timur dan Ketua
DPW Partai Patriot periode 2008-2013.

Tak hanya itu, ia juga terjun ke dunia olahraga dan menjabat sebagai Wakil
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur. Lalu, setahun
kemudian, La Nyalla memimpin PSSI Jawa Timur sekaligus menjadi anggota Exco
PSSI. Pada tahun 2015, ia terpilih sebagai Ketua Umum PSSI dalam Kongres
Luar Biasa (KLB) di Surabaya hingga ia harus mundur karena kasus dugaan
korupsi.

4. Kasus Dugaan Korupsi

Setelah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin)
Jawa Timur, La Nyalla pernah dituding terlibat dugaan korupsi mengenai dana
hibah dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada Kadin sebesar Rp 5,3
miliar. Hal tersebut menyebabkan ia pernah dituntut hingga 6 tahun penjara.
Namun, menurut hasil persidangan pada 17 Desember 2016, La Nyalla
dinyatakan bebas dan tak bersalah.

5. Konflik La Nyalla-Prabowo Subianto

Pada tahun 2018, sejumlah daerah di Indonesia akan mengadakan Pemilihan
Kepala Daerah (Pilkada) serentak. La Nyalla yang saat itu menjadi politikus
Partai Gerindra mengaku diminta mahar berupa uang sebesar Rp 40 miliar oleh
Prabowo Subianto jika ingin maju ke Pilgub Jawa Timur.

Pernyataan La Nyalla ini pun menimbulkan polemik di internal garuda, juga
masyarakat umum. Akhirnya La Nyalla memilih keluar dari Gerindra. Beberapa
kali dia membuat pernyataan yang menyerang Ketua Umum Gerindra Prabowo.


Rabu , 02 Oktober 2019 | 12:04



JAKARTA - La Nyalla Mattalitti telah terpilih menjadi Ketua Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2019-2024. Dia terpilih secara voting
mengalahkan tiga pesaingnya, yakni: Sultan Bachtiar, Mahyudin, dan Nono
Sampono.

Dari 134 anggota DPD yang hadir dalam rapat paripurna III dalam agenda
pemilihan Ketua DPD RI, La Nyalla meraih suara sebanyak 47 suara.
Sedangkan, Nono Sampono sebanyak 40 suara, Mahyudin sebanyak 28 suara, dan
Sultan Bachtiar mendapat 18 suara.

La Nyalla yang lahir 10 Mei 1959 itu kemudian diambil sumpah jabatan di
ruang rapat Nusantara V dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung, Hatta Ali.

Berikut adalah profil Ketua DPD RI 2019 2024, La Nyalla Mattalitti seperti
dirangkum *detik.com <http://detik.com>*:

1. Biodata La Nyalla

Pria berdarah Bugis ini memiliki nama lengkap La Nyalla Mahmud Mattalitti.
Ayahnya, Mahmud Mattalitti merupakan seorang dosen Fakultas Hukum
Universitas Airlangga. Sedangkan kakeknya, Haji Mattalitti adalah seorang
saudagar terkenal asal Bugis-Makassar yang berpengaruh besar di Surabaya.
Meskipun begitu, ia tidak memanfaatkan nama besar keluarganya dalam
merintis kehidupannya saat ini.

Ia merupakan sosok bengal semasa duduk di bangku sekolah, hingga berani
membawa senjata tajam di ujung senapan (sangkur) untuk berkelahi. Oleh
karena itu, keluarganya memutuskan untuk memasukkannya ke pondok pesantren
di wilayah Bekasi dan pesantren di daerah komplek Makam Sunan Giri Gresik
setelah ia beranjak dewasa.

2. Awal Karier

La Nyalla awalnya menjadi sopir angkot di sekitar tempat dia mondok
pesantren. Sejumlah preman dia ajak taubat dan membantu menjadi sopir
agkut. Dia sempat membuka bisnis dan merugi hingga sekitar Rp 180 juta.
Namun La Nyalla tak putus asa dan terus mengembangkan usaha hingga namanya
besar di Surabaya. Dia pun kemudian terpilih menjadi Ketua Kamar Dagang dan
Industri Indonesia (Kadin) Jawa Timur.

3. Aktif di Dunia Olahraga & Politik

Sosok aktif dan tekun ini juga memiliki pengaruh sebagai kader di partai
politik, seperti menjadi Ketua Pemuda Pancasila (PP) Jawa Timur dan Ketua
DPW Partai Patriot periode 2008-2013.

Tak hanya itu, ia juga terjun ke dunia olahraga dan menjabat sebagai Wakil
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur. Lalu, setahun
kemudian, La Nyalla memimpin PSSI Jawa Timur sekaligus menjadi anggota Exco
PSSI. Pada tahun 2015, ia terpilih sebagai Ketua Umum PSSI dalam Kongres
Luar Biasa (KLB) di Surabaya hingga ia harus mundur karena kasus dugaan
korupsi.

4. Kasus Dugaan Korupsi

Setelah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin)
Jawa Timur, La Nyalla pernah dituding terlibat dugaan korupsi mengenai dana
hibah dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada Kadin sebesar Rp 5,3
miliar. Hal tersebut menyebabkan ia pernah dituntut hingga 6 tahun penjara.
Namun, menurut hasil persidangan pada 17 Desember 2016, La Nyalla
dinyatakan bebas dan tak bersalah.

5. Konflik La Nyalla-Prabowo Subianto

Pada tahun 2018, sejumlah daerah di Indonesia akan mengadakan Pemilihan
Kepala Daerah (Pilkada) serentak. La Nyalla yang saat itu menjadi politikus
Partai Gerindra mengaku diminta mahar berupa uang sebesar Rp 40 miliar oleh
Prabowo Subianto jika ingin maju ke Pilgub Jawa Timur.

Pernyataan La Nyalla ini pun menimbulkan polemik di internal garuda, juga
masyarakat umum. Akhirnya La Nyalla memilih keluar dari Gerindra. Beberapa
kali dia membuat pernyataan yang menyerang Ketua Umum Gerindra Prabowo.

Kirim email ke