Catatan Ekonomi: Dua Kali Deflasi Tahun Ini
Kamis , 03 Oktober 2019 | 09:19
Catatan Ekonomi: Dua Kali Deflasi Tahun Ini
Sumber Foto rri.go.id
Ilustrasi
POPULER
Jokowi Lanjutkan Proyek Pesawat R80 Habibie
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/8646/jokowi_lanjutkan_proyek_pesawat_r80_habibie>Jokowi
Segera Keluarkan Skema Konsesi Terbatas
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/8645/jokowi_segera_keluarkan_skema_konsesi_terbatas_>Jelang
HUT TNI, Sejumlah Penerbangan di Halim Dialihkan ke Soekarno-Hatta
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/8642/jelang_hut_tni__sejumlah_penerbangan_di_halim_dialihkan_ke_soekarno_hatta>IHSG
Terjun Bebas ke Level 6.055
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/8644/ihsg_terjun_bebas_ke_level_6_055>Ini
3 Formasi Pembangunan Infrastruktur Pada Periode Kedua Jokowi
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/8639/ini_3_formasi_pembangunan_infrastruktur_pada_periode_kedua_jokowi>
Listen to this
Untuk kedua kali dalam tahun ini terjadi deflasi, yang terakir pada
September lalu sebesar 0,27%. Sebelumnya terjadi deflasi pada Februari
lalu. Kondisi ini sering dipandang sebagai indikasi terjadinya
pelambatan aktivitas eonomi dan penurunan daya beli masyarakat.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan deflasi September 2019 tak menunjukkan
terjadinya penurunan daya beli pada masyarakat. Dia mengatakan bahwa
inflasi inti masih tinggi di angka 0,29% pada September atau 3,32%
secara year on year (yoy). "Dengan angka inflasi ini saya masih akan
menyimpulkan tidak ada penurunan daya beli," katanya di Jakarta, Selasa
(1/10/2019).
Menarik utuk diamati bahwa berbagai komoditas menunjukkan penurunan
harga sepanjang September lalu, seperti cabai merah, cabai rawit, ayam
ras dan telur ayam ras. Data BPS juga menunjukkan bahwa dari 82 kota di
Indonesia, 70 kota mengalami deflasi sementara 12 kota mengalami
inflasi. Adapun deflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,94
persen, yang paling rendah di Surabaya sebesar 0,02 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memandang
terjadinya deflasi tersebut sebagai hal biasa. Hal ini justru menandakan
sesuatu yang positif karena deflasinya berasal dari kelompok bahan
pangan. Harga barang non makanan masih tercatat naik, artinya, aktivitas
ekonmi masih berjalan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga membantah terjadinya
penurunan daya beli. "Kalau deflasi adalah karena harga turun, bisa
karena koreksi terhadap sebelumnya, mungkin ada ongkos produksi yang
menurun," ujarnya, Rabu.
Deflasi menunjukkan turunnya harga-harga yang bisa jadi disebabkan
menurunnya aktivitas ekonomi di masyarakat. Dalam pandangan ekonomi,
semakin kecil inflasi semakin bagus. Untuk diketahui, bahan makanan
merupakan kebutuhan primer dari masyarakat, sehingga tingkat konsumsinya
akan cenderung stabil, kecuali pada saat periode libur panjang di mana
konsumsi biasanya akan naik secara signifikan. Penurunan harga bahan
makanan bisa diinterpretasikan sebagai keberhasilan dari pemerintah
dalam upayanya mengontrol pasokan di seluruh tanah air.
Namun di sisi lain kejatuhan harga bahan pokok juga berakibat langsung
teradap penurunan pendapatan petani. Petani yang merupakan lapisan
terbesar rakyat kita sangat terpukul dengan penurunan harga barang, stok
produksi mereka menumpuk. Pada akhirnya pendapatan mereka tidak seimbang
dengan biaya produksi yang telah mereka keluarkan.
Aspek ini yang sering diabaikan karena kita hanya memandang pada
stabilitas harga barang di pasaran, namun kurang mempertimbangkan
kesejahteraan produsen. Politik stabilitas harga barang telah
menempatkan petani pada posisi yang sulit karena biaya produksi terus
meningkat sedangkan harga barangnya ditekan. Politik perekonomian kita
tidak berpihak terhadap perbaikan nasib petani.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri pernah menyoroti masalah
ini sebagai fakta kegagalan upaya pemerintah untuk menyejahterakan
masyarakat kelas bawah. Kenaikan kesejahteraan hanya dirasakan oleh
masyarakat kelas menengah lantaran perkembangan sejumlah sektor misalnya
sektor jasa keuangan. Namun nasib 40 persen masyakarat terbawah justru
stagnan.
"Pemerintah ini gagal untuk mendongak nasib 40 persen (masyarakat) yang
terbawah yang mayoritas itu petani," ujar Faisal Basri dalam sebuah
diskusi beberapa waktu lalu.
Kita perlu berhati-hati dalam melihat terjadinya deflasi tersebut karena
terdapat lapisan besar rakyat yang justru dirugikan. Para petani
mengalami kerugian karena harga jatuh sehingga daya bei mereka turun.
Pendapatan masyarakat yang bekerja di pertanian dan perkebunan terpukul
oleh anjloknya harga komoditas. Akhirnya kemampuan membeli barang
menjadi berkurang.
Produsen dan pedagang di pasar pun tidak berani menaikkan harga, karena
khawatir pembeli berkurang. Artinya inflasi rendah bukan kabar baik bagi
ekonomi.
Maka, kita sebenarnya masih membutuhkan politik ekonomi yang lebih
berpihak ke sector pertanian, dimana 40% rakyat menggantungkan hidupnya.
Pengendalian alih fungsi lahan pertanian harus dilakukan secara ketat
agar petani tidak kehilangan sandaran kehidupannya. Pemerintah harus
membantu petani dalam menurunkan biaya produksi, melalui penyuluhan,
teknologi tepat guna, mekanisasi petanian, subsidi dan sebagainya.
Sektor pertanian harus tetap dijaga dan dikembangkan agar bisa lebih
kompetitif dan mampu bersaing dengan sektor pembangunan lainnya.
Maka kita harus berhati-hati melihat keadaan ini. Kita juga mendorong
pemerintah untuk berusaha mendorong ekspansi fiscal, selain meningkatkan
ekspor. Jangan sampai kita melihatnya secara kurang tepat sehingga
langkah yang ditempuh pun tidak mengenai sasaran.
Sumber Berita:Berbagai sumber
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com