Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Kisah Yadi sempat minta maaf sebelum tewas saat demo
Oleh Taufik Ridwan, Livia Kristianti dan Devi Nindy SariJumat, 4 Oktober
2019 08:47 WIB
Kisah Yadi sempat minta maaf sebelum tewas saat demo
Pemakaman Maulana Suryadi, pedemo yang meninggal dunia usai berunjuk
rasa berakhir ricuh di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Rabu
(25/9/2019). (ANTARA/HO/Dokumen pribadi)
Terus cium tangan, maafin Yadi ya bu, cium tangan lagi
Jakarta (ANTARA) - Pedemo Maulana Suryadi alias Yadi (23) sempat meminta
maaf kepada ibunya, Maspupah (50) sebelum meninggal dunia usai berunjuk
rasa yang berakhir rusuh di sekitar Gedung DPR/MPR RI Jakarta Pusat,
Rabu (25/9).
"Terus cium tangan, maafin Yadi ya bu, cium tangan lagi," kata Maspupah
di Jakarta, Jumat.
Dengan nada pilu, Maspupah menuturkan Yadi juga sempat memijat badan
dirinya seraya terus meminta maaf dan mencium tangan.
Selain itu, Maspupah mengisahkan temannya Yadi bernama Aldo yang
bercerita ditangkap petugas kepolisian saat berunjuk rasa di sekitar
Slipi, Jakarta Barat.
*Baca juga:Kapolri: Tak ada pelajar atau mahasiswa pedemo DPR tewas
<https://www.antaranews.com/berita/1083432/kapolri-tak-ada-pelajar-atau-mahasiswa-pedemo-dpr-tewas>*
"Temannya baru keluar tuh si Aldo, di dalam penjara katanya. Tangkapnya
berdua sama Yadi. Saya tanya sama Aldo bagaimana kejadiannya," ujar
Maspupah.
Berdasarkan penjelasan Aldo, Maspupah menuturkan saat itu Aldo dan Yadi
berdemo di Flyover Slipi ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam mobil.
Di dalam mobil terdapat beberapa orang, kemudian Aldo dan Yadi tidak
sadarkan diri, setelah siuman Aldo sudah berada di dalam penjara
sedangkan keberadaan Yadi tidak diketahui.
Selanjutnya, polisi menghubungi Maspupah menanyakan keberadaannya saat
itu Maspupah sudah berada di rumah usai pulang kerja.
Pada Kamis (26/9) sekitar pukul 20.00 WIB, Maspupah kedatangan delapan
orang yang menumpang dua mobil dan diperlihatkan jasad Yadi.
*Baca juga:Amnesty soroti taktik pengamanan polisi tak jamin keamanan
pedemo
<https://www.antaranews.com/berita/1083918/amnesty-soroti-taktik-pengamanan-polisi-tak-jamin-keamanan-pedemo>*
"Polisi ngajak makan dulu. Nggak ah makasih udah kenyang. Polisi bilang
Maulana udah gak ada, sabar ya. Saya kaget, nangis. Orang dia masih
keadaan sehat," ujar Maspupah.
*Sakit asma*
Maspupah juga sempat ke Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur untuk
mengurus jasad Yadi dengan disodorkan surat pernyataan mengenai penyebab
kematian Yadi.
Menurut Maspupah, surat pernyataan itu berisi Yadi meninggal dunia
akibat terkena gas air mata dan penyakit asma.
"Abis itu saya dipanggil sama polisi ke kamar, ngasih amplop buat ngurus
biaya jenazah Yadi, Rp10 juta. Saya gak banyak omong, takut," Maspupah
menceritakan.
Maspupah juga melihat jasad Yadi yang mengeluarkan darah dari telinga
bahkan sempat menanyakan hal itu, namun jawaban dari petugas disebabkan
karena penyakit asma.
Saat dimakamkan pun menurut Maspupah, tidak ada petugas kepolisian yang
hadir dan jasad mengeluarkan darah.
Wanita berusia 50 tahun itu mengungkapkan teman Yadi bernama Aldo sempat
mendekam di penjara selama tiga hari dan membantah ikut demo.
*Baca juga:Anies belum tentukan langkah atas kabar warga jadi korban
demonstrasi
<https://www.antaranews.com/berita/1095180/anies-belum-tentukan-langkah-atas-kabar-warga-jadi-korban-demonstrasi>*
"Dia cerita bukan demo, cuma lihat," tutur Maspupah.
*Tidak terima*
Ibu korban menyatakan tidak terima jika Yadi dipukuli hingga meninggal
dunia karena dituduh ikut demo yang berujung ricuh.
"Dunia akhirat saya tidak terima. Tapi kalau anak saya meninggal karena
dari Allah, saya ikhlas," ujar Maspupah.
Wanita yang bekerja menjaga lahan parkir itu mengakui putranya mengidap
asma karena turunan dari sang ayah, bahkan terkadang Yadi merasakan
sesak nafas saat kambuh.
Maspupah mengatakan suaminya sudah meninggal dunia sehingga Yadi menjadi
tulang punggung untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
*Baca juga:Kapolri: Demo rusuh mirip kerusuhan 21-22 Mei
<https://www.antaranews.com/berita/1082982/kapolri-demo-rusuh-mirip-kerusuhan-21-22-mei>*
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan seorang
pedemo tewas saat demonstrasi yang berujung rusuh di sekitar Gedung
DPR/MPR RI pada pada Rabu (25/9).
Tito menegaskan pedemo yang tewas itu bukan dari kalangan pelajar dan
mahasiswa namun kelompok perusuh.
Kapolri juga membantah penyebab kematian korban bukan karena tindakan
represif dari aparat yang menangani aksi massa rusuh.
Oleh Taufik Ridwan, Livia Kristianti dan Devi Nindy Sari
Editor: Edy Sujatmiko
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com