"Dalam laporan itu dibeberkan bahwa pemerintah dan partai-partai politik di 
Indonesia menggunakan buzzer untuk menyebarkan propaganda pro 
pemerintah/partai, menyerang lawan politik, dan menyebarkan informasi untuk 
memecah-belah publik."
"Mereka lazimnya dibayar di kisaran harga Rp 1 juta sampai Rp 50 juta."

"China, menurut penelitian itu, adalah negara yang paling aktif dalam 
propaganda di media sosial. Tidak hanya memengaruhi publik di dalam negeri, 
propaganda China juga sudah menyasar khalayak global."


-

Peneliti Oxford: Indonesia Biayai Buzzer untuk Manipulasi Publik




Pemerintah dan partai-partai politik Indonesia mengerahkan serta membiayai 
pasukan siber alias buzzer di media sosial untuk memanipulasi opini publik.

Liberty Jemadu

Kamis, 03 Oktober 2019 | 17:56 WIB

Suara.com - Pemerintah dan partai-partai politik Indonesia mengerahkan serta 
membiayai pasukan siber alias buzzer di media sosial untuk memanipulasi opini 
publik, demikian hasil penelitian para ilmuwan dari Universitas Oxford, Inggris 
baru-baru ini.

Pengerahan buzzer oleh pemerintah Indonesia itu diulas dua ilmuwan Oxford, 
Samantha Bradshaw dan Philip N Howard dalam laporan bertajuk The Global 
Disinformation Order, 2019 Global Inventory of Organised Social Media 
Manipulation.

Dalam laporan itu dibeberkan bahwa pemerintah dan partai-partai politik di 
Indonesia menggunakan buzzer untuk menyebarkan propaganda pro 
pemerintah/partai, menyerang lawan politik, dan menyebarkan informasi untuk 
memecah-belah publik.

Selain itu ditemukan juga bahwa di Indonesia, pemerintah dan partai-partai 
politik memanfaatkan pihak swasta atau kontraktor serta politikus untuk 
menyebarkan propaganda serta pesan-pesannya di media sosial.

Sementara alat yang digunakan adalah akun-akun palsu yang dioperasikan oleh 
orang-orang dan oleh bot.

Berdasarkan isinya konten-konten yang disebarkan oleh pemerintah dan partai 
politik di Indonesia terdiri dari dua jenis: informasi yang menyesatkan media 
atau publik dan yang kedua, memperkuat pesan dengan terus-menerus membanjiri 
media sosial dengan tagar.

Para buzzer di Indonesia, menurut penelitian itu, dikontrak oleh pemerintah 
atau partai politik tidak secara permanen. Mereka lazimnya dibayar di kisaran 
harga Rp 1 juta sampai Rp 50 juta.

Di Indonesia para buzzer ini bergerak di tiga media sosial utama, Facebook, 
Twitter, Instagram, serta di aplikasi pesan WhatsApp. Para buzzer belum banyak 
bergerak di Youtube.

Para peneliti dalam laporan ini secara umum menemukan bahwa manipulasi opini 
publik memanfaatkan media sosial dilakukan oleh 70 negara di seluruh dunia pada 
2019, naik dari hanya 48 negara pada 2018 dan 28 negara pada 2017.

"Penggunaan propaganda komputasional untuk membentuk perilaku publik via media 
sosial sudah menjadi umum, sudah bukan lagi aksi dari segelintir aktor jahat," 
tulis para peneliti dalam laporan itu.

China, menurut penelitian itu, adalah negara yang paling aktif dalam propaganda 
di media sosial. Tidak hanya memengaruhi publik di dalam negeri, propaganda 
China juga sudah menyasar khalayak global.

"Pada 2019 pemerintah China mulai menggerakan platform media sosial global 
untuk mencemarkan perjuangan demokrasi di Hong Kong," bunyi laporan itu lebih 
lanjut.

Temuan menarik lain dari laporan itu adalah bagaimana Facebook menjadi alat 
utama yang digunakan oleh pasukan siber atau buzzer di seluruh dunia.



Kirim email ke