Kutipan : Dosen ilmu politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah 
Jakarta, Adi Prayitno, menyebut fenomena politik seperti sekarang ini sebagai 
"the winner takes all", pemenang pemilihan umum mengambil semua posisi 
strategis. "Kondisi ini ada sisi baik dan buruknya," ujar Adi saat dihubungi, 
Kamis, 3 Oktober 2019.(kutipan selesai). huruf tebal dari saya.

REFLEKSI :

 

Rumus``the winner takes all`` bersandar pada rumus survival of the fittest.

 

Jika dianalisa sedalam-dalamnya maka rumus "the winner takes all", yang 
dilontarkan oleh Dosen ilmu politik Universitas Islam Negeri Syarif 
Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, dapat dibenarkan!!! 

Dalam konteks ini saya berpendapat bahwa rumus "the winner takes all", memang 
benar adanya, jadi jelas bukan Hoax . Rumus tersebut, saya tanggapi sebagai 
rumus yang bermuatan  ideologi ``Social Darwinism`` yang pernah terjadi di era 
terjadinya benturan-benturan kekuasaan/budaya yang besar, yang terjadi dalam 
gelombang ke-II dalam Evolusi Kebudayaan Manusia. Dalam masa gelombang ke II 
itu, Herbert Spencer, yang hidup selama hidup Darwin telah mengembangkan suatu 
ideologi ``Social Darwinism``, yang bersandar pada survival of the fittest, 
yaitu ``Siapa yang menang bersaing adalah yang benar``. Dengan cara apa dan 
bagaimana bisa menang bersaing tidak di persoalkan. Dalam konteks seperti ini 
berarti Oposisi Mati, karena dimatikan.

 

Ideoligi ``Social Darwinism``, yang bedasarkan pada rumus Survival oft he 
fittest  inilah yang  di halalkan dan dipraktekkan oleh rezim NKRI (Jokowi-JK) 
beserta KPU dan MK –nya, dalam proses Pemilu 2019, yang bermuatan kecurangan 
TSM (Terstruktur, Sistematis dan Masif), namun demikian kecurangam TSM itu 
tetap di halalkan untuk memenangkan pasalon 01 (Jokowi-Ma´ruf), dengan alasan 
bahwa paslon 01 memiliki jumlah pemilih yang lebih beasar menurut hitungan KPU, 
dibandingkan dengan paslon 02 (Prabowa-Sandi) menurut itungannya KPU.. Jadi 
dengan cara apa dan bagaimana paslon 01 (Jokowi-Ma´ruf) harus dimenagkan oleh 
KPU dan MK tidak dipersoalkan. Dengan alasan bahwa MK hanya berhak untuk 
menilai pemilu 2019 secara kwantitatif, dan menolak penilaian secara 
kualitatif. Dengan demikian terkesan kuat bahwa KPU dan MK  dalam melakukan 
penilaian Pemilu 2019 telah melakukan pelanggaran berat terhadap UUD 45 dan 
Pancasila yang mengharuskan pelaku pemilu (KPU dan MA)  harus menggunakan rumus 
pemilian umum yang Jurdil (jujur dan Adil). 

 

Ini berarti bahwa adanya kecurangan TSM dalam pemilu 2019 tidak dipersoalkan. 
Ini membuktikan bahwa sebenarnya KPU dan MK telah keluar dari bingkai-bingkai 
UU45, dan Pancasila, dan selanjutnya mereka (KPU dan MA) mengganti dengan 
ideologi ``Social Darwinism`` yang bersandar pada Survival of the fittest, yang 
tercermin dalam rumus `"the winner takes all". Dalam menjalankan Pemilu 2019.

 

Jadi tidaklah mengherankan  jika dampaknya telah merusak kepercayaan Rakyat 
Indonesia terrhadap Pemerintahnya, KPU, MK,  dan lembaga-lenbaga hukum yang 
lainnya, yang selalu mengaku bahwa dirinyalah  yang setia membela ideologi 
Pancasila, karena dirinya telah melakukan apa yang disebut Badan Pengelola 
Ideologi Pancasila (BPIP). Padahal yang mereka lakukan adalah budaya "the 
winner takes all",yang bermuatan Ideologi ``Social Darwinism``; yang sangat 
membahayakan kesatuan bangsa dan NKRI; karena budaya tersebut adalah budaya 
yang anti Pancasila dan UUD 45, dampaknya adalah memicu terjadinya perpecahan 
negara dan bangsa Indonesia. Dengan  ideologi ``Social Darwinism```inilah, maka 
Oposisi Mati; karena memang dengan sengaja dimatikan oleh pihak penguasa negara.

 

Kesimpulan akhir.

 

Mengapa rumus``the winner takes all`` yang bermuatan ideology ``Social 
Dawinism`` itu buruk?

 

Sejarah telah membuktikan bahwa ideologi ``Social Darwinism`` ,yang bersandar 
pada Survival of the fittest, yang muncul pada Gelombang ke II dalam Evolusi 
Kebudayaan Manusia; yang digerakkan oleh Herbert Spencer, telah banyak 
menyababkan penderitaan di seluruh dunia.  Dimana sumber daya alam, termasuk 
sumber daya alam genetika tanaman, binatang dan manusia, telah banyak mengalami 
erosi dan pemusnahan. Kesejangan yang menyolok antara kaya dan miskin, antara 
negara kaya dan negara miskin dan antara tuantanah dan budak belian. Budaya 
seperti itulah yang terjadi dalam perang dunia ke II,yang telah memperlihatkan 
secara jelas kegagalan manusia untuk mengatur evolusi perkembangan 
kebudayaannya.

 

Keadaan seperti itulah yang kini telah kembali terjadi di era ``reformasi`` 
Indonesia, setelah 21 tahun berlalu; Sungguh sangat menyedihkan kondesi seperti 
itu!!! Sebagai contoh misalnya: Kita tealah menyaksikan pembakaran hutan-hutan 
secara besar-besaran dimana-mana untuk ditanami klapa Sawit, Karet, Teh, dan 
entah apalagi secara monokultur, untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku bagi 
Negara-negara maju. Pelanggaran HAM, pelanggaran AMDAL, penggusuran lahan-lahan 
pertanian rakyat, penyedotkan kekayaan alam bumi Indonesia dijual atau 
digadaikan pada pihak asing,AS, Cina, Hongkong , Sigapura dll, samuanya itu 
telah dihalalkan oleh rumus 

``the winner takes all``yang besandar pada rumus Survival oft he fittest

Sehigga terjadilah kesejangan yang menyolok antara kaya dan miskin, dimana 
ekonomi rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya dan tetap berada dalam posisi 
tertindas sebagai struktur terbawah dalam konstelasi ekonomi Indonesia.

Semua perbuatan tersebut telah dihalalkan oleh rumus ``the winner takes all`` 
yang bermuatan ideologi ``Social Dawinism``.yang bersandar pada survival of the 
fittest.

 

Seluruh masyarakat Dunia, beserta seluruh pakar-pakar Iimu Pengetahuan, telah 
menyadari bahwa seleksi alammiah ``Social Darwinism`` sangat boros dan telah 
menyebabkan kehancuran dan erosi banyak sumber-daya-alam dan genetika Dunia. 
Baru setelah berakhirnya perang dunia ke II, manusia negara-negara Industri 
mulai melihat kedunguan ideologi ``Social Darwinism``, dan lambat laun  
kolonialisne hilang dari permukaan bumi.

 

Sangat disayangkan dan menyedihkan bahwa budaya "the winner takes all" yang 
bemuatan ideologi ``Social Darwinism`, yang bersandar pada Survival of the 
fittest``,yang justru di era ``reformasi``di Indonesia ini di kembangkan lagi 
oleh rezim ``reformasi`` Jokowi-JK ,yang menggunakan jubah BPIP yang diberi 
parfum yang beraroma Pancasila.  Ini namanya sudah keterlaluan. Oleh karena itu 
sangat halal jika saya katakan bahwa ``reformasi`` akhirnya menghasilkan 
kedunguan dan pengkhianatan terhadap Pancasila dan UUD 45 asli.

 

Roeslan.

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Freitag, 4. Oktober 2019 05:07
An: GELORA_In
Betreff: [GELORA45] Parlemen Dikuasai Pendukung Pemerintah, Pengamat: Oposisi 
Mati

 

  


Parlemen Dikuasai Pendukung Pemerintah, Pengamat: Oposisi Mati


Reporter:  


Dewi Nurita


Editor:  


Endri Kurniawati


Jumat, 4 Oktober 2019 08:58 WIB

 <https://statik.tempo.co/data/2019/10/04/id_877787/877787_720.jpg> Ketua MPR 
RI Bambang Soesatyo (keenam kanan), besertaWakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah 
(kelima kanan), Ahmad Muzani(keempat kiri), Jazilul Fawaid (keempat kanan), 
Lestari(ketiga kanan), Syarief Hasan (kedua kiri), Hidayat Nur Wahid(kiri), 
Zulkifli Hasan (ketiga kiri), Arsul Sani (kanan), danFadel Muhammad (kedua 
kiri) berfoto bersama dengan PimpinanMPR RI sementara Abdul Wahab Dalimunthe 
(keenam kiri) danHillary Brigitta Lasut (kelima kiri) dalam Sidang 
ParipurnaPelantikan Pimpinan MPR RI 2019-2024 di Gedung Nusantara,Kompleks 
Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019.TEMPO/M Taufan Rengganis

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (keenam kanan), beserta Wakil Ketua MPR RI Ahmad 
Basarah (kelima kanan), Ahmad Muzani (keempat kiri), Jazilul Fawaid (keempat 
kanan), Lestari (ketiga kanan), Syarief Hasan (kedua kiri), Hidayat Nur Wahid 
(kiri), Zulkifli Hasan (ketiga kiri), Arsul Sani (kanan), dan Fadel Muhammad 
(kedua kiri) berfoto bersama dengan Pimpinan MPR RI sementara Abdul Wahab 
Dalimunthe (keenam kiri) dan Hillary Brigitta Lasut (kelima kiri) dalam Sidang 
Paripurna Pelantikan Pimpinan MPR RI 2019-2024 di Gedung Nusantara, Kompleks 
Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Pimpinan di parlemen kini dikuasai partai pendukung 
pemerintah. Kursi Ketua DPR diduduki Puan Maharani dari PDIP dan Ketua MPR 
dijabat Bambang Soesatyo dari Golkar, partai pendukung pemerintah. La Nyalla 
Mattalitti, pendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi, juga menjadi Ketua 
Dewan Perwakilan Daerah.  <https://www.tempo.co/tag/oposisi> Oposisi tersisih.

Dosen ilmu politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi 
Prayitno, menyebut fenomena politik seperti sekarang ini sebagai "the winner 
takes all", pemenang pemilihan umum mengambil semua posisi strategis. "Kondisi 
ini ada sisi baik dan buruknya," ujar Adi saat dihubungi, Kamis, 3 Oktober 2019.

Sisi baiknya adalah bisa dipastikan semua kebijakan politik pemerintah aman 
tanpa protes berarti dari parlemen. "Kabar buruknya adalah matinya oposisi di 
parlemen."

Kosongnya pos-pos kritis ini, ujar Adi, bisa memantik munculnya oposisi jalanan 
seperti yang dilakukan mahasiswa belakangan.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin 
memprediksi, beberapa partai  
<https://nasional.tempo.co/read/1236144/kata-pakar-jika-semua-partai-politik-merapat-ke-pemerintah>
 oposisi akan merapat ke pemerintahan jika menilik kondisi saat ini.

"Mungkin Gerindra melepas ketua MPR. Kemungkinan Gerindra akan ditempatkan di 
posisi yang lain. Bisa di eksekutif atau bisa juga di legislatif," ujar Ujang 
Komarudin. Prediksi Ujang terjadi. Calon ketua MPR dari Gerindra, Ahmad Muzani 
kalah dari Bambang Soesatyo dari Golkar dalam perebutan ketua MPR..

 


 
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
 https://ipmcdn.avast.com/images/icons/icon-envelope-tick-green-avg-v1.png

不含病毒。 
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
 www.avg.com 



Kirim email ke