Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Pasar perbankan syariah di Indonesia yang belum tergarap maksimal
Selasa, 8 Oktober 2019 07:51 WIB
Pasar perbankan syariah di Indonesia yang belum tergarap maksimal
Hadirnya bank syariah sebagai badan usaha tersendiri akan membuat
konsumen memiliki banyak piihan untuk produk perbankan sesuai syariah
Islam diantaraya untuk kredit pemilikan rumah ANTARA/Ganet Dirgantoro/am.
Jakarta (ANTARA) - Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim
terbesar di dunia, namun pasar perbankan syariah justru masih rendah.
Bahkan pasar perbankan syariah hanya 5,7 persen dibandingkan dengan
perbankan konvensional.
Data juga memperlihatkan dari segi aset, ekonomi syariah di Indonesia
masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Bahkan dibanding
Australia yang masyarakat muslimnya sangat sedikit, Indonesia masih
tertinggal.
Bahkan negara yang selama ini menjadi kiblat industri syariah dunia
masih ditempati Inggris yang notabene penduduk muslimnya juga lebih
sedikit dibandingkan Indonesia.
Dengan demikian, pasar untuk pengembangan produk-produk syariah termasuk
dalam perbankan belum tergarap dengan baik. Banyak bank syariah terutama
bank BUMN yang masih "menempel" sebagai unit usaha bukan sebagai badan
usaha.
Direktur Keuangan & Treasury BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan rencana
pemisahan (spin off) unit usaha Bank BTN Syariah juga sudah masuk ke
dalam agenda perusahaan di tahun depan dengan tujuan agar lebih optimal
dalam menggarap pasar di Indonesia.
Menurut Nixon, potensi pasar perbankan syariah di Indonesia sangat besar
serta belum tergarap dengan baik. Diharapkan dengan adanya pemisahan
tersebut membuat Bank BTN Syariah dapat lebih fokus dalam menggarap
pasar terutama pasar KPR syariah.
Namun untuk melakukan pemisahan ini ternyata tidak sesederhana seperti
yang dibayangkan.
Rangkaian prosedur harus dilewati seperti dipersyaratkan Otoritas Jasa
Keuangan (OJK). Salah satunya berkaitan dengan aspek permodalan jangan
sampai setelah dipisah bank itu/collapse/(ambruk).
Dalam rangka memenuhi rasio kecukupan modal (CAR) 8 sampai dengan 10
persen sesuai ketentuan Bank Indonesia (BI) berarti PT Bank Tabungan
Negara Tbk sebagai induk harus memberikan suntikan dana sebagai modal
awal BTN Syariah nantinya.
Nixon memperkirakan untuk memenuhi rasio kecukupan modal Bank BTN
Syariah dengan mempertimbangkan CAR minimum maka setidaknya membutuhkan
dana segar Rp4,5 sampai Rp5 triliun.
Namun persoalannya, kalau Bank BTN sebagai induk disuruh menyuntikan
dana sebesar itu tentunya bakal memberatkan bisnisnya ke depan. Apalagi
pemerintah bakal melibatkan bank ini sebagai penyalur program Tabungan
Perumahan Rakyat (Tapera).
Agar rencana/spin off/Bank BTN Syariah ini tidak terlalu memberatkan,
direksi Bank BTN sampai masih mempertimbangkan sejumlah opsi. Salah
satunya menyatukan seluruh unit syariah di bank-bank BUMN menjadi
perusahaan baru.
Sedangkan opsi lain yang juga tengah dipertimbangkan menyerahkan Bank
BTN Syariah ini kepada perbankan/lembaga keuangan syariah yang sudah ada
melalui mekanisme akuisisi.
*Baca juga:Tahun 2020, Seluruh perbankan di Aceh wajib terapkan sistem
syariah
<https://www.antaranews.com/berita/1048880/tahun-2020-seluruh-perbankan-di-aceh-wajib-terapkan-sistem-syariah>
Baca juga:OJK dorong pertumbuhan perbankan syariah dengan gelar Expo iB
Vaganza
<https://www.antaranews.com/berita/1026998/ojk-dorong-pertumbuhan-perbankan-syariah-dengan-gelar-expo-ib-vaganza>*
Ratusan warga Dusun Penanggak Timur, Desa Penanggak, Kabupaten Lombok
Barat, NTB, antre menunggu giliran pengisian air bersih dari mobil
tangki yang dilakukan oleh petugas Dinas Sosial NTB bekerja sama dengan
Bank NTB Syariah, Jumat (27/9/2019). ANTARA/HO/Bank NTB Syariah/Awaludin (1)
*Regulasi*
Kepala Ekonom BTN Winang Budoyo menuturkan, relaksasi regulasi yang
dikeluarkan BI terhadap sektor properti bisa menjadi momentum yang tepat
bagi BTN untuk melakukan/spin off/unit syariahnya.
Pasalnya, terdapat hubungan positif antara penyaluran kredit perbankan
ke sektor properti dengan pertumbuhan ekonomi sektor real estat.
Untuk memenuhi retrospektif modal di awal 2020 direncanakan aksi
permodalan melalui subdebt di 2019 sebesar Rp3 triliun hingga Rp5
triliun yang dilakukan melalui junior Global Bond dan pinjaman subordinasi.
Pinjaman subordinasi direncanakan dilakukan bersama dengan PT Sarana
Multigriya Finance (SMF) sebesar Rp3 triliun dengan jangka waktu 5
hingga 7 tahun.
Direktur Consumer Banking Budi Satria menyatakan optimistis kalau
rencana/spin off/ini bakal mendongkrak kinerja Bank BTN Syariah karena
lebih lincah bergerak. Berbeda dengan saat masih di unit usaha yang
ruang gerak ekspansinya serba terbatas.
Apa yang dikemukakan Budi ada benarnya ketika BTN Syariah sudah menjadi
perseroan terbatas (PT) dalam hal kebutuhan pembiayaan maka banyak
pilihan yang bisa diambil, salah satunya dengan melakukan/go public/atau
penawaran umum saham perdana.
Selain itu, BTN Syariah juga bisa menerbitkan berbagai instrumen produk
pasar modal seperti obligasi ataupun Kontrak Investasi Kolektif Efek
Beragun Aset (KIKEBA).
Dengan demikian nantinya ada dua bank BTN. Satunya memiliki bisnis inti
di bidang layanan syariah, sedangkan satunya lagi bergerak di bidang
layanan konvensional.
*Baca juga:Transaksi Festival Ekonomi Syariah Sumatera 2019 tembus Rp2,1
triliun
<https://www.antaranews.com/berita/994454/transaksi-festival-ekonomi-syariah-sumatera-2019-tembus-rp21-triliun>
Baca juga:Pangsa pasar kecil, BI serukan perluas jangkauan perbankan
syariah
<https://www.antaranews.com/berita/990050/pangsa-pasar-kecil-bi-serukan-perluas-jangkauan-perbankan-syariah>*
Area Manager Bank Mandiri Syariah Bogor Fitria Ekayani (kiri) dan Branch
Manager Bank Mandiri Syariah Cibinong Nasrudin Anas (kanan) saat
mengunjungi nasabah pengelola peternakan domba MT Farm Budi Susilo
(tengah) di Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/6/2019) ANTARA FOTO/Yulius
Satria Wijaya/hp.
*Relaksasi*
Pandangan lain kebijakan relaksasi yang diberikan oleh BI dan OJK
terhadap sektor perumahan berbuah pada terus meningkatnya pertumbuhan
sektor perumahan selama satu tahun terakhir, yaitu dari 3,07 persen di
kuartal II/2018 menjadi 5,74 persen di kuartal II/2019.
Pertumbuhan ekonomi sektor real estate sudah melampaui pertumbuhan PDB
sejak kuartal I/2019, yaitu 5,46 persen dan 5,74 persen di kuartal
II/2019 (yoy).
Namun karena sumbangan sektor ini ke PDB masih kecil, yaitu hanya2,8
persen terhadap PDB, maka tidak mempunyai daya dorong yang cukup untuk
dapat mendongkrak pertumbuhan PDB Indonesia.
Pengamat pasar modal Haryajid Ramelan menuturkan, instrumen syariah
sangat dibutuhkan masyarakat di Indonesia sebagai alternatif untuk
pembiayaan rumah melalui KPR syariah.
Adanya BTN Syariah yang masuk ke bisnis inti yang sama dengan induknya
dengan cara syariah menjadikan masyarakat tidak lagi berpindah bank.
Besarnya masyarakat muslim yang mulai hijrah ke instrumen syariah bakal
memberikan peluang besar bagi BTN Syariah ke depan.
Menurut Haryajid, lesunya pasar properti saat ini dengan pembiayaan
konvensional tentu akan bagus jika dilakukan pembiayaan secara syariah.
Banyaknya yang beralih dari instrumen konvensional ke instrumen syariah
menjadi ceruk tersendiri bagi BTN Syariah.
Pembiayaan syariah maupun penyimpanan secara syariah menunjukkan tren
peningkatan. Tentu hal ini tak akan disia-siakan oleh perbankan termasuk
dalam hal ini BTN yang selain selama ini bermain di sektor properti dan
juga/demand/yang masih besar.
Hingga akhir Juni 2019, BTN Syariah mencatatkan pertumbuhan aset di
ttingkat 19,67 persen (yoy) menjadi Rp29,17 triliun. Kenaikan aset
tersebut disokong peningkatan pembiayaan sebesar 16,54 persen (yoy)
menjadi Rp23,16 triliun per Juni 2019.
Sedangkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 18,15
persen (yoy) menjadi Rp23,03 triliun pada akhir Juni 2019. Dengan
capaian kinerja tersebut, per Juni 2019, BTN Syariah meraup laba senilai
Rp105,23 miliar.
Pewarta: Ganet Dirgantara
Editor: Sri Muryono
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com