- HOME
 - INTERNASIONAL
 - AUSTRALIA PLUS ABC

Monday, 07 Oct 2019 13:03 WIB


"Pulangkan Mereka ke Jayapura": Warga PNG Tolak OPM

Warga PNG menolak kehadiran para pejuang separatis Papua Merdeka di wilayahnya
Red: Rep: Farid M Ibrahim  Tokoh masyarakat Papua Nugini (PNG) di perbatasan 
dengan Indonesia, Ray Tanji, menolak kehadiran para pejuang separatis Papua 
Merdeka di wilayahnya. Dia meminta aparat berwenang untuk memulangkan mereka ke 
JayapuraDalam wawancara dengan program radio ABC Pacific Beat, Ray Tanji 
menyatakan kehadiran elemen gerakan Papua Merdeka di PNG telah menimbulkan 
banyak masalah bagi warga perbatasan."Saya minta Pemerintah Papua Nugini untuk 
menyingkirkan orang-orang ini dari Vanimo, karena merekalah yang menimbulkan 
masalah di perbatasan selama ini," ujarnya.Tanji merupakan tokoh masyarakat di 
Wutung, Vanimo, Propinsi West Sepik yang berbatasan langsung dengan distrik 
Skouw, Jayapura, Indonesia.Tanji meminta aparat PNG untuk menyelidiki kehadiran 
dan aktivitas elemen separatis Papua Merdeka demi menjaga keamanan warga 
setempat.Menurut dia, warga masyarakat PNG di perbatasan telah menderita akibat 
ulah para pejuang separatis tersebut.Pada 1 Oktober lalu, dilaporkan adanya 
kontak senjata antara aparat militer RI dan elemen yang terkait dengan gerakan 
Papua Merdeka.Akibat peristiwa itu, pihak berwenang langsung menutup akses 
perbatasan Indonesia - PNG di Skouw-Wutung, Distrik Muara Tami, 
Jayapura.Menurut laporan kantor berita Antara, penutupan perbatasan dibenarkan 
oleh Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG 
dari Yonif 713/ST Mayor Inf Dony Gredinand.Menurut dia, bunyi tembakan 
terdengar beberapa kali pada Pukul 06.00 WIT menyebabkan kekhawatiran di 
kalangan warga perbatasan.Mayor Dony juga membantah adanya aparat keamanan RI 
yang terkena tembakan, sebagaimana disebutkan dalam laporan yang belum 
terkonfirmasi bahwa ada dua prajurit RI yang terluka."Tidak ada yang kena 
tembakan atau lainnya, warga di perbatasan aman semua," ujar Mayor Dony.Kontak 
senjata terjadi di wilayah RISecara terpisah Komandan Kepolisian Propinsi West 
Sepik PNG Moses Ibsagi menjelaskan kepada ABC bahwa pihaknya belum pernah 
mendengar adanya aktivitas elemen Papua Merdeka di wilayah itu."Hal ini baru 
saya dengar. Tim saya sudah ke sana dan menemukan bahwa kontak senjata itu 
terjadi di dalam wilayah Indonesia, bukan di wilayah PNG," kata Ibsagi.Dia 
menjelaskan bahwa warga PNG untuk sementara diminta tidak mengunjungi 
perbatasan karena pertimbangan keamanan."Kami minta para warga untuk jangan 
menyeberang perbatasan untuk sementara sampai situasi membaik," 
katanya.Sementara itu, pada Jumat (4/10/2019) pekan lalu, warga Wutung sepakat 
mengajukan petisi kepada Pemerintah PNG untuk merelokasi para pengungsi asal 
Papua yang kini bermukim di Wutung dan wilayah lain di pesisir barat 
Vanimo.Petisi ini, katanya, dimaksudkan untuk mengatasi risiko keamanan bagi 
para pengungsi dan warga setempat di perbatasan.Pemuka masyarakat setempat 
menyatakan selama masih ada pengungsi di wilayah itu, maka warga setempat tetap 
rawan untuk mendapat serangan dari aparat.Sekolah-sekolah diliburkan dan 
angkutan umum diminta untuk tidak mengambil penumpang PNG yang akan berangkat 
ke Pasar Batas yang terletak di wilayah RI.Warga melaporkan kontak senjata 
antara militer RI dan pejuang separatis tersebut terjadi di sekitar Pasar 
Batas.Kelompok yang menamakan dirinya West Papuan Revolutionary Army (WPRA) 
mengaku bertanggung jawab atas kontak senjata tersebut.Selama ini aktivitas 
menyeberang perbatasan baik melalui darat maupun laut terjadi di sekitar 
pesisir utara PNG di dekat Jayapura.Dalam situasi normal, sedikitnya 100 warga 
PNG masuk ke Jayapura dan mengalami peningkatan pesat pada hari pasar di 
distrik Skouw dekat perbatasan.

Kirim email ke