Lho, ... saya perhatikan bung Nesare memberikan argumentasi dimana OON nya bung, ... dalam berbagai masalah yg sedang diperbincangkan!

[email protected] [GELORA45] 於 11/10/2019 10:32 寫道:


mestinya bung sebagai moderator tanya pada orang yg ngomong "OON OON" bukankah postingnya anda puja puji?

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

Seandainya saja bung yg merasa diri "PINTER" coba saja buktikan dimana dan bagaimana "OON, OON" orang lain! Jangan cuma nuduh orang "OON" tanpa ada pembuktian dengan argumentasi kuat yang meyakinkan pembaca lain, ...

Begitu sebaiknya kita melancarkan diskusi sehat, ... TIDAK saling menuduh, mengejek lawan diskusi tanpa ada argumentasi yang meyakinkan!

Mudah2an bisa dimengerti dengan sebaik-baiknya, ... Dan, tidak melanjutkan saling nuduh dan mengejek orang lain!



Jonathan Goeij jonathangoeij@... <mailto:jonathangoeij@...> [GELORA45] 於 11/10/2019 6:17 寫道:



    Benar2 kritik membangun "OON OON itu gak ngerti materi nya" ck ck
    ck membuat moderator tersentuh.


    On Thu, Oct 10, 2019 at 2:58 AM ChanCT SADAR@...
    <mailto:SADAR@...> [GELORA45] <[email protected]
    <mailto:[email protected]>> wrote:

        Satu kritik membangun, yang tentunya PATUT direnungkan
        baik-baik oleh kita semua, ... sungguh saya sebagai moderator
        di GELORA45 ini tidak akan berhasil dengan baik membimbing
        diskusi yang terjadi, jika TIDAK mendapatkan dukungan SIKAP
        kawan-kawan sekalian!

        Mudah2an kita semua bisa lebih memperhatikan jalannya
        diskusi, ... tidak perlu memaksakan orang lain sependapat dan
        menyetujui apa yang diajukan, apalagi saling mengejek dan
        memaki hanya karena tidak menerima pendapatnya sendiri!

        Salam-damai,

        ChanCT


        'nesare' nesare1@... <mailto:nesare1@...> [GELORA45] 於
        10/10/2019 0:11 寫道:

        Bener bung jeli!

        Bagi saya perbedaan pendapat itu normal.

        Yang tidak normal adalah ketika berdiskusi sampai berdebat
        panas sekalipun, gak ada argumennya.

        Setiap orang berhak punya opini. Silahkan ngomong. Tetapi
        ketika ada yg menyanggah ya silahkan disanggah lagi.
        persoalannya belakangan ini di milis ini, OON OON itu gak
        ngerti materi nya. Mereka2 ini menggunakan logika umum.
        Sedangkan substansi yg penting itu adalah knowledge nya.
        Gimana seseorang mau berdiskusi/berdebat ttg 1 + 1 = 2 kalau
        dia gak tahu bahwa 1 + 1 itu = 2?

        Ya setelah mengetahui bahwa 1 + 1 = 2 dulu, barulah kalau
        mau berdiskusi/berdebat bahwa 1 + 1 itu belum tentu 2 bisa
        jadi 1.99999999999 bisa berjalan.

        Belum tahu bahwa 1 + 1 = 2 dulu, eh dia sudah ngotot dulu
        bahwa 1 + 1 = 5. Kan lucu jadinya? Kalau pendapatnya 1 + 1 =
        2.1 mungkin masih masuk akal dan bisa kita tanya kenapa dia
        berpendapat 1 + 1 itu = 2.1 tetapi OON nya itu adalah
        langsung teriak: 1 + 1 = 5????!!!!

        Nesare

        *From:* [email protected]
        <mailto:[email protected]> <[email protected]>
        <mailto:[email protected]>
        *Sent:* Wednesday, October 9, 2019 2:11 AM
        *To:* 'nesare' nesare1@... <mailto:nesare1@...> [GELORA45]
        <[email protected]> <mailto:[email protected]>
        *Subject:* Re: [GELORA45] University Spinoffs : What, Why
        and How ?

        Bung Nesare,

        Ya,sayang sekali milis Gelora sering dipakai hanya untuk
        debat kusir.

        Dan yang paling menjengkelkan kalau tidak menjawab materi
        yang dibicarakan, lalu

        dibelokkan ke persoalan lain, kalau tak sanggup menjawab.

        Yang menyolok, memberi stempel pada sesuatu kwalitatif
        begitu, tanpa argumentasi,

        tanpa didukung data kwantitatif.

        Kan harus ada perubahan kwantitatif dulu, yang begitu besar
        sehingga ada perubahan kwalitatif.

        Salam,

        KH

        Pada tanggal Sel, 8 Okt 2019 pukul 17.46 'nesare'
        nesare1@... <mailto:nesare1@...> [GELORA45]
        <[email protected] <mailto:[email protected]>>
        menulis:

            Terima kasih kembali atas ceritanya tentang Prof. Tjan
            Tjoe Som.

            Saya tidak tahu apakah Prof. Dahana mengajar di USA atau
            tidak.

            Yang saya ketahui dia minggat krn sedih dan marah
            melihat sikon Indonesia. Klimaksnya adalah waktu Ahok
            didakwa sbg penista agama.

            Dia langsung lari. Rumahnya belum terjual waktu lari.
            Itu saja yang saya ketahui. Setelah itu atau sekarang
            saya tidak tahu.

            Point saya menceritakan itu adalah: walaupun ada tetapi
            sudah tidak banyak dosen2 dan orang2 waras di Indonesia
            yang mangkel sedih marah dengan sikon Indonesia. Disini
            tantangannya. Ketika orang2 baek dan waras ini
            meninggalkan Indonesia, kan yang tertinggal adalah
            mereka2 yang tidak baek dan tidak waras. Seorang
            pengajar lulusan bandung sekolah di spanyol, dan belanda
            lalu ngajar di belanda akhirnya pulang Indonesia buka
            restoran. Financial freedom katanya sbg pemilik restoran
            memberikan kegembiraan buat dia.

            Ini adalah contoh2 yang mesti dipikirkan bahwa ada
            tantangan dalam kehidupan di Indonesia. Seyogyanyalah
            tantangan2 ini dijawab bersama dicari solusinya bersama
            dalam koridor berbangsa dan bernegara NKRI.

            Coba lihat di milis ini, semangat itu kan gak ada
            (walaupun tidak semua). Semangat yg kelihatan menonjol
            itu kan pameran mau jadi pahlawan HAM lah, demokrasi
            lah, pembela rakyat lah dlsbg.

            Sedangkan kita2 ini kan orang2 indonesia terlepas dari
            kewarganegaraan masing2 tetapi kecintaan atas hubungan
            dengan Indonesia itu kan tidak bisa dipungkiri?! Ini
            saja yang saya gak tahan melihat tingkah laku orang2 ini
            karena penginnya A, lalu menggunakan berbagai cara utk
            melegitimasi A itu. Mestinya kan bisa duduk2 dan kalau
            perlu gebrak2 meja ala aidit vs agus salim ttp pulang
            boncengan sepedaan barengan.

            Ini enggak terjadi dimilis kita ini. Ini sample kecil
            loh. Milis ini kecil sekali dibandingkan NKRI itu.
            Bayangkan mentalitas orang2 ini bak orang paling pinter
            sedunia dengan Bahasa yg indah2, tetapi mereka2 ini
            melupakan suatu masalah besar yg sedang dihadapi oleh
            bangsa Indonesia yaitu: MASALAH KEBANGSAAN!!!

            Nesare

            *From:*[email protected]
            <mailto:[email protected]>
            <[email protected]
            <mailto:[email protected]>>
            *Sent:* Monday, October 7, 2019 6:03 PM
            *To:* 'nesare' nesare1@... <mailto:nesare1@...>
            [GELORA45] <[email protected]
            <mailto:[email protected]>>
            *Subject:* Re: [GELORA45] University Spinoffs : What,
            Why and How ?

            Bung Nesare,

            Banyak terimakasih untuk penjelasannya.

            Sayang kok sampai Prof. Dahana pindah mengajar ke USA .

            Bekas murid saya mengorganisir dulu seminar Cheng Ho
            bersama keraton Cirebon..

            Antaranya tentang kisah Puteri Ong Tien, istri Sunan
            Gunung Jati.

            Pembicaranya Prof. Dahana dan Dr. Tan Tah Sen dari
            Singapore.

            Prof. Dahana itu dulu mahasiswanya Prof. Tjan Tjoe Som,
            yang dipecat

            dari jabatannya sebagi kepala bagian Sinologi.
            Saudaranya Prof. Tjan Tjoe Siem

            dari Javanologi tidak sampai dipecat.

            Tjan Tjoe Som dipecat karena dia salah satu pendiri HSI
            bersama Drs. Jan Ave. Waktu Tjan Tjoe Som

            meninggal dikubur di Pajang, di makam kerabat raja
            Mataram. Orang tuanya dulu

            adalah pendukung pangeran Diponegoro, dan mereka
            beragama Islam.

            Tjan Tjoe Siem keluar masuk istana Mangkunegoro sampai
            dikenalkan oleh Mangkunegoro

            pada seotang pendeta Kristen, yang kemudian mengurus
            supaya dia bisa belajar di Leiden.

            Tan Tah Sen, orang Singapore, dapat beasiswa dari
            Indonesia di zaman bung Karno. Dia

            ambil PhDnya di bawah Prof. Dahana dan Prof. Leirissa.
            tentang Cheng Ho and Islam in

            Southeast Asia. Ia jadi President, International Zheng
            He Society dan juga Direktur Cheng Ho Cultural Museum..

            Ia jadi Prof. di Nanyang Uniersity. Dia multilingual,
            lancar berbahasa Sanskrit, Arab, Melayu, Indonesia, Jawa

            (Kromo dan Kromo Inggil), Batak, Belanda, Inggris dan
            Mandarin (modern dan klassik).

            Orang dari Indonesia yang belajar di luar negeri banyak
            yang hebat. Ada satu teman punya 2 Phd Fisika dan
            kedokteran,

            gara2 tidak bisa balik Indonesia dan tidak mau asil.
            Jadi bisa tinggalnya di jerman dengan cara belajar terus
            jadi mahasiswa

            sambil kerja.

            Suatu hari dia menyembuhkan patient wanita kena kanker.
            Wanita itu sangat berterimakasih dan tanya apa yang dia
            bisa

            bantu kembali.

            Teman saya cerita kalau dia itu bisa tinggalnya di
            Jerman hanya karena universitas tanggung dan perlu pakai
            dia.

            Wanita itu bilang, nanti dia bilang pada suaminya yang
            punya jabatan tinggi. Luar biasa, teman saya dapat ijin
            tinggal

            dan kerja seminggu kemudian.

            Salam,

            KH

            Pada tanggal Sen, 7 Okt 2019 pukul 23.11 'nesare'
            nesare1@... <mailto:nesare1@...> [GELORA45]
            <[email protected]
            <mailto:[email protected]>> menulis:

                Coba saya bandingkan pengalaman bung dengan USA.

                Kayaknya dijaman bung 70an Lembaga Affiliasi ITB itu
                ambil duit dari perusahaan yg ingin mengadakan riset
                dan uang itu digunakan

                (Message over 64 KB, truncated)




--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke