Berikut analisis Rizal Ramli yang menelusuri kejahatan Mafia Berkeley
di Indonesia bersama kaum oligarkinya. Lusi.-



Rizal Ramli:
 
Mafia Berkeley Bikin Ekonomi Indonesia Dari Awal Babak Belur
 
Submitted by redaksi on Jumat, 11 Oct 2019 - 10:02 


KONFRONTASI -   SEJAK dulu hingga saat ini setiap kali turun ke
lapangan, baik sebagai jurnalis maupun selaku pengamat sosial, saya
kerap menemui sebuah pertanyaan dari sejumlah orang di lapisan bawah.
Begini pertanyaannya: “Kenapa ekonomi Indonesia sejak awal selalu saja
tumbuhnya sangat lambat. Padahal, negara kita punya banyak uang dan
punya kekayaan alam yang lebih melimpah. Ke mana semua itu? Apakah ada
orang jahat (penjahat ekonomi) yang sengaja menguasai untuk kepentingan
kelompoknya saja? Saya memang sudah menjawab pertanyaan itu secara
langsung ke mereka dengan mengikutkan penjelasan singkat.

Misalnya dengan menggambarkan bahwa negara kita memang selalu saja
kecolongan dengan menempatkan sebagian besar pejabat bermental rusak,
dan lain sebagainya. Dan saya yakin, jawaban itu tidaklah membuat
mereka terlalu puas. Sebab memang saya bukanlah orang berkompeten
menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tetapi setidaknya, rakyat
tentu sangat membutuhkan penjelasan riil terhadap sesuatu yang belum
dipahaminya tersebut. Olehnya itu, saya mencoba mengangkat sebuah
jawaban yang telah dikemukakan Dr. Rizal Ramli, Menko Perekonomian era
Presiden Gus Dur, melalui bukunya berjudul: “Rizal Ramli Lokomotif
Perubahan”, cetakan II (edisi revisi: 2009). Dalam buku setebal 232
halaman tersebut, Rizal Ramli yang juga sempat menjabat Menteri
Keuangan itu secara spesifik menggugat Mafia Berkeley sebagai kelompok
yang sejak awal membuat ekonomi Indonesia jadi babak belur.

Rizal Ramli menggambarkan kondisi tersebut melalui penulis bukunya itu,
Didin Abidin Masud dan Edy Mulyadi. Ia menjelaskan, bahwa istilah Mafia
Berkeley ditujukan pada sejumlah menteri ekonomi yang menjadi penentu
strategi pembangunan Indonesia pada awal orde Baru. Sebelum menduduki
berbagai posisi strategis di pemerintahan, mereka menimba ilmu ekonomi
di Universitas California, Berkeley, pada tahun 1960-an. Rizal Ramli
menyebut tokoh sentral Mafia Berkeley adalah Widjojo Nitisastro, yang
menjadi Ketua Bappenas sejak Kabinet pembangunan I, tahun 1969.
Disebutkannya, kolega Widjojo, antara lain, Ali Wardhana, Emil Salim,
Sumarlin (alumnus Pittsburgh University, tapi mengikuti garis kebijakan
Mafia Berkeley), dan Saleh Afiff. Radius Prawiro yang berpendidikan
akuntan dari Belanda, juga masuk kelompok generasi pertama Mafia
Berkeley.

Dikatakannya, sebagai konseptor dan arsitek utama pembangunan ekonomi
Indonesia 1966-1997, Widjojo amat leluasa menempatkan kolega dan
kadernya untuk menduduki posisi penting di berbagai kementrian. Emil
Salim, Sumarlin, Saleh Afiff, diorbitkan ke posisi menteri setelah
“magang” di Bappenas. Demikian pula, katanya, generasi ekonom yang
lebih muda, terus mendaki ke posisi empuk di pemerintahan setelah
berkarier di Bappenas. Mereka, antara lain Adrianus Mooy, BS Moelyana,
Sudradjad Djiwandono, dan Boediono. Kebijakan makro ekonomi yang
diusung Mafia Berkeley, menurut Rizal Ramli, adalah pengendalian laju
inflasi lewat kebijakan fiskal dan moneter yang ketat, liberalisasi
sektor keuangan –dikenal dengan istilah deregulasi dan debirokratisasi
pada tahun 1980-an, liberalisasi sektor industri dan perdagangan, dan
privatisasi alias penjualan aset milik negara. Yang menarik, kehadiran
B.J. Habibie yang dengan cepat merebut simpati Soeharto, membuat kubu
Widjojo Cs menemukan rival yang sepadan dalam sirkulasi elit birokrasi.
Habibie, menurut Rizal Ramli, lewat "markasnya" di Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT) juga berhasil menempatkan orang-orangnya di
kabinet, seperti Wardiman Djojonegoro dan Rahardi Ramelan.

Meski Habibie menjadi rival kuat dalam “memperebutkan” kursi kabinet,
toh dalam cetak biru pembangunan ekonomi, posisi Mafia Berkeley tak
tergoyahkan. Rizal Ramli melihat generasi kedua dan ketiga Mafia
Berkeley masih bertebaran di Bappenas, Departemen Keuangan, dan Bank
Indonesia. “Banyak anggota dan murid Mafia Berkeley yang menduduki
posisi kunci di bidang ekonomi menjadi saluran strategi dan kebijakan
yang dirumuskan oleh IMF, Bank dunia, dan USAID,” kata Rizal Ramli
dalam seminar “50 Tahun Mafia Berkeley vs Gagasan Alternatif
pembangunan ekonomi indonesia”, di Jakarta, beberapa tahun lalu. Rizal
Ramli memandang, meski ditopang rezim otoriter selama lebih dari tiga
dekade, Mafia Berkeley nyatanya memang gagal menjadikan Indonesia
sebagai negara besar di Asia. Rizal Ramli pun menunjuk pada pertengahan
tahun 1960-an GNP perkapita Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan,
China nyaris sama, yaitu kurang dari US$100 per kapita. Namun setelah
lebih dari 40 tahun, GNP perkapita negara-negara tersebut pada tahun
2004, Indonesia mencapai sekitar US$ 1.000; Malaysia US$ 4.520; Korea
Selatan US$ 14.000; Thailand US$ 2.490; Taiwan US$ 14.590; China US$
1.500. Dan ini sekaligus menunjukkan, bahwa ternyata kekuasaan dan
peranan Mafia Berkeley yang nyaris 40 tahun itu tidaklah mampu
meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan hanya mewariskan
potensi sebagai salah satu negara gagal (failed state) di Asia.

Atau dengan kata lain, Mafia Berkeley telah gagal membawa Indonesia
menjadi negara yang sejahtera dan besar di Asia walaupun didukung rezim
otoriter selama 32 tahun. Dan hal ini menurut Rizal Ramli tentu sangat
menyedihkan dan amat memprihatinkan, sebab selain ketinggalan dari segi
pendapatan per kapita, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang
memiliki distribusi pendapatan paling timpang, stok utang paling besar,
serta memiliki landasan struktural dan industri yang sangat rapuh.
Padahal negara-negara seperti Taiwan, Malaysia, Korea Selatan, Cina dan
Thailand tidak memiliki sumber daya alam yang besar seperti Indonesia.
Bahkan, menurut Rizal Ramli, di bawah pengaruh dan kekuasaan Mafia
Berkeley, utang yang besar dan habisnya kekayaan alam dan hutan yang
rusak, ternyata hanya menghasilkan pendapatan per kapita sekitar US$
1.000. Dan pemenuhan kebutuhan dasar sangat minimal serta
ketergantungan mental maupun finansial terhadap utang luar negeri. Bagi
Rizal Ramli, Mafia Berkeley juga gagal melakukan reformasi terhadap
birokrasi dan justru mendorong pegawai negeri dan TNI untuk bertindak
koruptif karena penentuan skala gaji yang sangat tidak manusiawi.

Anggota dan murid Mafia Berkeley sendiri direkayasa untuk mendapatkan
pendapatan yang sangat tinggi melalui penunjukan mereka sebagai
komisaris di BUMN-BUMN, double/tripple billing di BI, depKeu dan
Bappenas. Dengan pendapatan yang tinggi tersebut, Rizal Ramli menilai,
Mafia Berkeley tidak memiliki empati terhadap nasib pegawai negeri dan
TNI sehingga tidak berupaya melakukan reformasi penggajian pegawai
negeri dan TNI. “Dengan sengaja maupun tidak sengaja, mereka mendorong
pegawai negeri dan TNI menjadi koruptor,” tulis Rizal Ramli dalam
bukunya tersebut. Kegagalan penting lainnya yang dilakukan oleh Mafia
Berkeley adalah mengundang keterlibatan IMF untuk mengatasi krisis
ekonomi pada bulan oktober 1997. Keterlibatan IMF tersebut membuat
krisis menjadi lebih parah. Padahal, menurut Rizal Ramli, tanpa
keterlibatan IMF pun krisis ekonomi akan tetap terjadi, tetapi skalanya
akan relatif lebih kecil (pertumbuhan ekonomi antara -2% sampai 0%)
pada tahun 1998, tetapi keterlibatan IMF malah telah mengakibatkan
ekonomi indonesia anjlok luar biasa -12,8% pada tahun 1998.

Biaya sosial ekonomis dari krisis tersebut dalam bentuk kerusuhan
sosial (IMF-provoked riots), justru hanya meningkatkan puluhan juta
pengangguran, kebangkrutan ekonomi nasional dan swasta, biaya
rekapitalisasi bank lebih dari Rp 600 trilliun, serta tambahan beban
utang puluhan miliar dollar masih terasa sampai saat ini. Dan ini
ibarat dokter yang dimintai pertolongannya untuk menyembuhkan penyakit
pasien. Dokter tersebut tak hanya gagal menyembuhkan penyakit, tetapi
juga telah melakukan berbagai amputasi yang tidak perlu, karena
ternyata semua itu hanya membebankan biaya kegagalannya kepada sang
pasien. Dalam menjawab berbagai kegagalan tersebut, anggota Mafia
Berkeley biasanya menggunakan alasan klasik yang menyesatkan, yaitu
mereka menuding bahwa semua itu adalah akibat perilaku mantan presiden
Soeharto. Rizal Ramli yang pernah dipenjara pada era Orde Baru karena
aktif menentang keras pemerintahan Presiden Soeharto itu pun menampik,
bahwa memang Soeharto penuh KKN, tapi berbagai kegagalan yang timbul
tentunya tidak dapat dibebankan hanya kepada Soeharto. Rizal Ramli pun
menggugat Mafia Berkeley ikut bertanggungjawab karena selama ini
merekalah yang merumuskan strategi, kebijakan dan terlibat dalam
implementasinya.

“Banyak dari berbagai kegagalan tersebut berada pada tataran sangat
teknis dan operasional yang tidak dipahami oleh Soeharto,” ujar Rizal
Ramli. Adalah sangat tidak bertanggungjawab dan tidak ksatria, bisa
menikmati jabatan selama 32 tahun, ikut merasakan privileges dan ekses
kekuasaan Soeharto, tetapi kemudian mereka malah menimpakan semua
kegagalan dan kesalahan hanya kepada Soeharto, itupun baru berani
mereka katakan setelah Soeharto tidak berkuasa. Mengapa Mafia Berkeley
gagal membawa Indonesia menjadi negara yang sejahtera dan besar di Asia
walaupun berkuasa selama nyaris 40 tahun? “Karena strategi dan
kebijakan ekonomi Indonesia yang dirancang oleh Mafia Bekeley akan
selalu menempatkan Indonesia sebagai subordinasi (sekadar kepanjangan
tangan) dari kepentingan global,” ungkap Rizal Ramli. Padahal,
lanjutnya lagi, tidak ada negara menengah yang berhasil meningkatkan
kesejahteraannya dengan mengikuti model Konsensus Washington.
Kemerosotan selama tiga dekade di Amerika Latin (1970-2000) menurut
Rizal Ramli adalah contoh monumental dari kegagalan tersebut. Justru
negara-negara yang melakukan penyimpangan dari model Konsensus
Washington seperti jepang, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, dan Cina
berhasil meningkatkan kesejahteran dan memperbesar kekuatan ekonominya.
Negara-negara yang berhasil tersebut mengikuti model pembangunan Asia
Timur yang memberikan peranan yang seimbang antara negara dan swasta,
serta ketergantungan utang yang minimal.

“Dua negara Asia, Indonesia dan Filipina yang patuh pada Konsensus
Washington, mengalami kemerosotan ekonomi terus-menerus, ketergantungan
utang yang permanen, dan ketimpangan pendapatan sangat mencolok,” kata
Rizal Ramli. Dengan memahami penjelasan di atas dari Rizal Ramli
sebagai tokoh terkemuka di bidang ekonomi yang tak pernah berhenti
memperjuangkan ekonomi kerakyatan ini, tentulah dapat ditebak bagaimana
kondisi dan wajah ekonomi Indonesia ke depan apabila para mafia ini
masih bercokol nantinya dalam pemerintahan yang baru.

(Jft/Kompasiana/Ilustrasi/Desain repro Abdul Muis Syam S) 

Tags: Rizal Ramli : Mafia Berkeley ekonomi Babak Belur
  • [GELORA45] RR - Kejahata... 'Lusi D.' lus...@rantar.de [GELORA45]
    • [GELORA45] Re: RR -... Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com [GELORA45]
      • [GELORA45] Re: ... 'B.H. Jo' b...@yahoo.com [GELORA45]
        • [GELORA45] ... Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com [GELORA45]
          • Re: [GE... ChanCT sa...@netvigator.com [GELORA45]
            • Re... kh djie dji...@gmail.com [GELORA45]
              • ... ajeg ajegil...@yahoo.com [GELORA45]
                • ... 'Lusi D.' lus...@rantar.de [GELORA45]
                • ... ajeg ajegil...@yahoo.com [GELORA45]
            • Re... 'Lusi D.' lus...@rantar.de [GELORA45]
              • ... ChanCT sa...@netvigator.com [GELORA45]

Kirim email ke