https://mediaindonesia.com/read/detail/265595-belajar-dari-kesongo
*Rabu 16 Oktober 2019, 01:40 WIB *
/*Belajar dari Kesongo*/
*Akhmad Safuan | Nusantara <https://mediaindonesia.com/nusantara>*
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/265595-belajar-dari-kesongo>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Belajar dari Kesongo
https://mediaindonesia.com/read/detail/265595-belajar-dari-kesongo via
@mediaindonesia>
Belajar dari Kesongo
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/10/270c5554bd14a4566f4e5698c11e51c4.jpg>
/MI/Akhmad Safuan/
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau pengolahan sampah di
Desa Kesongo, Kabupaten Semarang
JANGAN pernah mencari serakan sampah di Desa Kesongo. Anda pasti tidak
akan menemukannya.
Desa yang berada di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah,
itu dikenal sebagai desa dengan lingkungan yang bersih dan rapi. Di
Kesongo, warga terbiasa hidup bersih dengan mengelola sampah sesuai
dengan jenisnya.
"Kami mengelola sampah mulai dari rumah, dengan memilah sampah organik
dan nonorganik dikumpulkan dalam kantong yang berbeda," ungkap Mareta,
warga Dusun Sejambu, Desa Kesongo.
Ada dua keranjang sampah terbuat dari anyaman bambu di setiap halaman
rumah. Bertuliskan 'Iso Bosok' dan keranjang lainnya 'Ora Iso Bosok'.
Kedisiplinan warga dalam pengelolaan sampah diawasi oleh satgas sampah
yang sudah dibentuk.
Inspirasi dari desa inilah yang membuat Kongres Sampah Jawa Tengah
digelar di Kesongo, akhir pekan lalu. Kongres yang diinisiasi Gubernur
Ganjar Pranowo itu digelar untuk mencari solusi terhadap permasalahan
sampah di provinsi ini.
"Kongres merekomendasikan pembentukan satgas sampah di setiap desa. Kami
berharap gubernur segera menindaklanjuti hasil rekomendasi itu dalam
waktu dekat," ungkap panitia kongres, Putut Yulianto, kemarin.
Satgas, lanjutnya, bertugas melakukan penegakan regulasi pengelolaan
sampah. Kongres dihadiri ribuan pegiat lingkungan dan perwakilan desa.
Pengelolaan sampah di Kesongo menjadi percontohan. Setelah dipilah mulai
dari rumah, sampah organik diangkut ke tempat penampungan sementara.
Adapun sampah nonorganik didaur ulang menjadi beragam hasil kerajinan.
"Selain satgas sampah, kami juga sepakat membentuk Dewan Konsorsium
Sampah Jawa Tengah di bawah kendali Dinas Lingkungan Hidup. Dewan
melibatkan wakil pemerintah, akademisi, aktivis, pengusaha, dan
masyarakat," tandas Putut.
Gubernur Ganjar berjanji menindaklanjuti hasil kongres itu. "Pembentukan
satgas segera dilaksanakan di semua desa."
*Andalkan kades*
Kepala desa juga menjadi ujung tombak bagi pengelolaan sampah di
Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali
Masruri meminta para kepala desa mengelola sampah rumah tangga dengan
cara didaur ulang.
Pekan lalu, sebanyak 295 kepala desa dikumpulkan pada sosialisasi
pengelolaan sampah tingkat desa. "Dalam acara ini, kami ingin
menyadarkan masyarakat bahwa membuang sampah sembarangan, terutama ke
sungai, akan merugikan masyarakat," tambahnya.
Sementara itu, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mening-katkan
pengelolaan sampah dengan membangun hanggar sebagai lokasi pengolahan
sampah terpadu. Tahun ini sudah 10 hanggar yang dibangun dengan anggaran
total mencapai Rp5 miliar. Sebelumnya, daerah ini juga sudah membangun
lima hanggar dan sudah dioperasikan.
"Sepuluh hanggar baru akan beroperasi awal November. Setiap hanggar
mampu mengelola 3-6 ton sampah yang berasal dari dua truk per hari,"
papar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Suyanto.
Saat ini, Banyumas memproduksi sampah hingga 70 truk per hari. Pada 2020
diharapkan seluruh sampah bisa ditangani dan dikelola. (WJ/LD/Ant/N-2)
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/265595-belajar-dari-kesongo>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Belajar dari Kesongo
https://mediaindonesia.com/read/detail/265595-belajar-dari-kesongo via
@mediaindonesia>