Apa pemeritah pusat tidak kawatir nanti dari Maluku ke Malu Semua ? Pada tanggal Rab, 16 Okt 2019 pukul 10.21 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis:
> > > > > > https://tabaos.id/beta-kreatif-luncurkan-pisi-mata-uang-maluku/ > > > By > > *Redaksi* <https://tabaos.id/author/redaksi/> > > Kritik ‘Jakarta’, Betkraf Cetak Mata Uang Maluku > > 06/08/2019 > > *TABAOS.ID <http://TABAOS.ID>*,- Berbagai cara digunakan untuk mengkritik > dan mengingatkan pemerintah agar lebih memperhatikan kepentingan daerahnya. > Jika sebelumnya Beta Kreatif (Betkraf) menerbitkan ‘Paspor Kedutaan Besar > Maluku’, kini mereka mengeluarkan pecahan mata uang Maluku dengan nominal > 100 PISI. Adapun PISI diambil dari salah satu bahasa daerah di Maluku yang > artinya uang. > > Menurut Direktur Beta Kreatif, M. Ikhsan Tualeka, dalam release-nya ke > *tabaos.id > <http://tabaos.id>*, peluncuran mata uang Maluku ini juga sebagai bentuk > satire dan kritik simbolik mengingat Maluku masih masuk daerah termiskin di > Indonesia, meski kaya akan sumber daya alam. “Ini kan realitas yang ironis > dan paradoks, padahal menurut Kementrian Perikanan dan Kelautan RI, untuk > sektor kelautan saja setiap tahun lebih dari 40 Triliun Rupiah dicuri dari > laut Maluku, belum lagi dari sektor lain, tapi Maluku APBN-nya tidak lebih > dari 3 Triliun”, kritik Tualeka. > > Menurutnya, situasi ini perlu dikritisi dengan serius, apalagi dalam waktu > yang tidak begitu lama, akan ada eksplorasi Gas Abadi Blok Masela dengan > nilai investasi Blok Masela mencapai US$20 miliar. Jangan kemudian > masyarakat Maluku tidak dilibatkan dalam berbagai pengambilan keputusan dan > hanya kebagian ‘tulang’. Sejarah ekspolarasi sumber daya alam di Indonesia > ini selalu saja meminggirkan hajat hidup dan kepentingan masyarakat lokal > atau daerah. Seperti halnya yang dilakukan PT. Arun di Aceh, atau PT. > Newmont di Nusa Tenggara Timur dan berbagai daerah lainnya. > > “Kondisi ini jangan lagi terjadi di Maluku, dimana nanti Rupiah > dihasilkan dari bumi Maluku tapi masyarakatnya tak pengang Rupiah. Atau > lebih baik orang Maluku yang kelola sendiri alam-nya dan punya mata uang > sendiri seperti PISI?”, sindir dan kritik Tualeka > > Aktivis muda Maluku ini menjelaskan PISI akan menjadi bentuk kritik > simbolik. Ada banyak cerita bagaimana pemakaian simbol dapat menarik > solidaritas bersama dan membentuk perlawanan kolektif terhadap kebijakan > yang tidak adil. Hal ini misalnya dapat kita saksikan dalam gerakan ‘jaket > kuning’ sebagai simbol perlawanan warga terhadap kebijakan Presiden > Prancis, Emmanuel Marcon beberapa waktu lalu, yang ternyata efektif > sehingga kebijakannya soal BBM dan pajak bisa dinegosiasikan ulang. > “Artinya, perlawanan rakyat atas ketidakadilan secara simbolik dan kolektif > dapat mendesak pemangku kewajiban untuk lebih perhatian dan peduli dengan > pemangku kepentingan”, urai Tualeka. > > *Baca Juga* *Juara Lari Ultra Marathon Tour De Malaysia Asal Maluku Tak > Diapresiasi Pemerintah* > <https://tabaos.id/juara-lari-ultra-marathon-tour-de-malaysia-asal-maluku-tak-diapresiasi-pemerintah/> > > Ia menjelaskan, upaya dan gerakan semacam ini yang oleh Jhon C. Cross > dalam bukunya, Informal Politics, Street Vendors, and the State in Mexiko > City, disebut sebagai teori mobilisasi sumber daya atau resource > mobilization theori, yakni apabila kelompok marginal dalam masyarakat mampu > memobilisasi sumber daya mereka, maka mereka akan dapat mempengaruhi > kebijakan negara. Sumber daya yang dimobilisasi bisa berupa jumlah orang, > solidaritas kelompok, jaringan kemampuan lobi dan sebagainya. > > “Artinya, bila ada gerakan kolektif secara simbolik yang mau dilakukan > bersama, antara lain jika sama-sama menjadikan ‘Paspor Maluku’ yang sudah > diluncurkan sebelumnya, serta PISI sebagai ‘Mata Uang Maluku’ atau gimmick > dan satire lainnya sebagai simbol protes kolektif, dan bila berlangsung > secara massif, minimal di media sosial, dipastikan dapat menjadi fenomena > baru dalam menggalang solidaritas orang Maluku, sehingga suara-suara yang > selama ini tak terdengar akan bisa lebih didengar,” tegas Tualeka..*(T04)* > *Share this:* > > > > >
