Nadiem sebagai Mendikbud sudah sesuai tantangan revolusi industri 4.0
Kamis, 24 Oktober 2019 09:42 WIB
Nadiem sebagai Mendikbud sudah sesuai tantangan revolusi industri 4.0
Dekan FKIP Unismuh Makassar Erwin Akib
Makassar (ANTARA) - Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Erwin Akib menyatakan
penunjukan Nadiem Makarim yang berusia 35 tahun sebagai Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) sesuai dengan tuntutan zaman di
era Revolusi Industri 4.0.
"Sekarang adalah era Revolusi Industri 4.0. Era ini menunjukkan jika
pengalaman, usia dan lainnya itu tidak mutlak menjadi penentu atau
menjadi leader, kita butuh gagasan baru terobosan baru dan langkah awal
ditunjuknya Nadiem Makarim merupakan pintu awal dari era itu," ujar
Erwin Akib di Makassar, Kamis.
Ia mengatakan jika melihat latar belakang usia dan pengalaman menteri
termuda di Indonesia ini, pasti akan muncul keraguan dari berbagai
kalangan, apakah usia muda dan pengalaman itu bisa memberikan perubahan
besar dalam dunia pendidikan.
Namun menurut dia, Mendikbud yang baru cukup relevan dengan tantangan
pendidikan di era disrupsi saat ini. Ia menyatakan tantangan dunia
pendidikan saat ini berbeda dengan tantangan pendidikan pada
dekade-dekade sebelumnya.
"Kita berada di era revolusi industri 4.0. Tantangan yang kita hadapi
berbeda dengan dekade-dekade sebelumnya. Kita butuh sosok leader di
bidang pendidikan yang memahami zaman baru ini," jelasnya.
Meskipun dirinya sangat optimis akan adanya inovasi dan terobosan dalam
dunia pendidikan di bawah kendali Nadiem Makarim, dirinya juga
mengingatkan jika ingin menata lembaga pendidikan, mulai TK hingga
perguruan tinggi, tidaklah mudan.
Apalagi Mendikbud harus memimpin puluhan ribu guru dan dosen, termasuk
para guru besar yang tersebar di berbagai perguruan tinggi.
"Analoginya, Kemendikbud ini pesawat Boeing, besar dan banyak penumpang.
Bukan pesawat tempur seperti F-16. Jika ingin melakukan perubahan, harus
betul-betul dengan kajian matang, agar sesuai dengan kebutuhan semua
stakeholder. Bukan pula kebijakan yang sekadar bersifat sensasional,"
katanya.
*Baca juga:Nadiem, Mas Menteri yang ingin tetap jadi murid
<https://www.antaranews.com/berita/1128835/nadiem-mas-menteri-yang-ingin-tetap-jadi-murid>
Baca juga:Muhadjir serahkan keputusan soal kebijakan pendidikan pada
Nadiem
<https://www.antaranews.com/berita/1128287/muhadjir-serahkan-keputusan-soal-kebijakan-pendidikan-pada-nadiem>
Baca juga:Ketua Forum Rektor nantikan pemikiran "out of the box" Nadiem
Makarim
<https://www.antaranews.com/berita/1128224/ketua-forum-rektor-nantikan-pemikiran-out-of-the-box-nadiem-makarim>*
Erwin Akib menyatakan target Presiden Jokowi menunjuk Nadiem Makarim
sebagai Mendikbud, agar terjadi kesesuaian antara kompetensi alumni
lembaga pendidikan dengan kebutuhan dunia industri.
"Kami memahami cara pandang Pak Jokowi, yang ingin pendidikan dikelola
secara out of the box. Tidak terpasung dengan rutinitas dan tradisi
selama ini. Kita harus melakukan lompatan," terangnya.
Secara khusus di level pendidikan dasar dan menengah, Erwin mengingatkan
sejumlah tantangan dan masalah yang harus ditangani Mendikbud, mulai
dari masalah-masalah klasik hingga kontemporer.
"Pak Nadiem harus menjawab soal nasib guru honorer, maksimalisasi
sertifikasi guru, pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, serta
sebaran tenaga pendidik," urai Erwin.
Selain itu, pihaknya juga mendorong pemerataan akses teknologi dan
informasi bagi seluruh jenjang pendidikan, khususnya di kawasan 3T.
Pengembangan dan penguatan SMK (vocational school) juga perlu mendapat
dukungan maksimal.
Pewarta: Muh. Hasanuddin
Editor: Ganet Dirgantara