*Sesak nafas itu tanda panggilan sang Maha Kuasa atas bumi dan langit untuk
ke Taman Firdaus yang penuh dengan kebutuhan jamaniah dan rochaniah nan
kekal.*


https://www.gatra.com/detail/news/452845/kebencanaan/asap-makin-parah-kondisi-udara-palembang-bikin-sesak-napas



*Asap Makin Parah, Kondisi Udara Palembang Bikin Sesak Napas*

Gatra.com | 23 Oct 2019 22:43


*Palembang, Gatra.com* – Kondisi udara di kota Palembang, kian memburuk
akibat asap hasil pembakaran lahan dan hutan (Karhutla). Sedari pagi dan
sampai dengan sore hari, kualitasnya kian mengalami penurunan. Berdasarkan
pemantuan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLH-P)
Sumsel, kualitas udara Palembang sudah berada di level berbahaya.

Kondisi ini, baru pertama kalinya terjadi di kota Palembang, selama musim
kemarau sepanjang tahun ini. Berdasarkan keterangannya, udara di Palembang
sudah mencapai level berbahaya berdasarkan konsentrasi PM10 di udara yang
mencapai 391. Selain PM 10, juga terdapat konsentrasi SO2 mencapai 8, dan
CO mencapai 2.

“Kualitas udara makin memburuk akibat asap. Udara bercampur asap hasil
kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sudah mencapai level berbahaya dengan
nilai PM 10 yakni 391,”kata Kepala DLH-P Edward Chandra, Rabu (23/10).

Status udara dalam kondisi berbahaya ini berlaku selama 24 jam, yakni pada
Rabu (23/10) pukul 15.00 wib sampai dengan Kamis (24/10) pada pukul yang
sama. DLH-P melakukan pengecekkan kualitas udara berdasarkan alat yang
dipasang di jalan radial simpang jalan DPRD Sumsel.

Kondisi ini, diakui warga makin sesak napas. Imran, warga di pasar 16
Palembang menyatakan kualitas udara di Palembang kian memburuk pada sore
hari. Meski angin bertiup tidak kencang, namun udara bercampur asap
mengakibatkan ia semakin sulit bernafas.

“Padahal sudah menggunakan masker, namun masih saja sesak nafas. Selain
sesak nafas, udara bercampur asap membuat mata perih,”ucap dia, Rabu
(23/10).

Kondisi udara bercampur asap yang kian pekat juga mengakibatkan jarak
pandang mengalami penurunan. Setidaknya, kata Imran, jarang pandang saat
dia mengendarai kendaraan pada pukul 18.00 wib, hanya puluhan meter. “Ada
juga abu atau potongan bahan sisa pembakaran yang bertebaran, membuat sesak
napas, mata perih dan jarak pandang menurun,” pungkasnya.

Kirim email ke