Satu2nya cino yg diangkat, yg kwalitasnya kaya gini. Jangan2 ...Kejanggalan 
Terapi 'Brainwash' Dokter TerawanReporter: Mawa Kresna09 April 2018View non-AMP 
version at tirto.id"Penelitian Dokter Terawan Tidak Didukung Kaidah Ilmiah"Di 
Balik Alasan IDI Memecat Dokter TerawanYang Tidak Dipahami Para Pendukung 
Dokter TerawanTerawan Agus Putrantotimeter: -33   tirto.id - Kepala Anung 
Anindito tiba-tiba puyeng saat berolahraga. Ia terjatuh dan nyaris tak sadarkan 
diri. Rupanya ia terserang vertigo. Ia langsung diberi pertolongan pertama dan 
obat.Peristiwa itu terjadi pada 2010. Saat itu, ia menemani Susilo Bambang 
Yudhoyono yang berkunjung ke Bali. Anung adalah fotografer keluarga 
SBY.Sepulang dari Bali, Anung melakukan tes kesehatan di Rumah Sakit Pusat 
Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Hasilnya cukup aneh. Tidak ada masalah 
apa pun pada tubuh Anung. Saat hendak pulang, ia bertemu dengan dokter Terawan 
Agus Putranto. Ia sudah kenal lama dengan si dokter. (Terawan menjabat kepala 
RSPAD sejak 2015 hingga sekarang.)“Kamu sakit apa?" tanya Terawan, dengan 
bahasa Jawa.Anung menjelaskan kondisinya. Ia merasa kepalanya berat dan sering 
pusing. Tanpa basa-basi, Terawan menawarkan tes pencitraan resonansi magnetik 
alias MRI kepada Anung. Tes MRI dapat membantu dokter mengidentifikasi penyakit 
pasien dengan cara menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh si 
pasien.“Gratis," ujar Terawan, meyakinkan.Tawaran itu langsung disambut oleh 
Anung. Hari itu juga ia melakukan MRI. Hasilnya, demikian Anung, menunjukkan 
ada kekurangan suplai darah ke otak.Terawan lantas menawarkan pengobatan lebih 
lanjut lewat apa yang dia sebut metode 'brainwash' alias 'cuci otak' dengan 
Digital Subtraction Angiography (DSA). Karena sudah kenal baik, Anung menurut 
dan percaya. Pada hari yang sama, Anung menjalani operasi tersebut.Sebuah 
selang dimasukkan ke pembuluh darahnya sampai ke belakang leher. Lalu 
disemprotkan heparin. Nama terakhir adalah obat antikoagulan alias pengencer 
darah, yang berfungsi mencegah pembentukan gumpalan darah di pembuluh, arteri, 
atau paru-paru. Heparin juga dipakai sebelum operasi untuk mengurangi risiko 
penggumpalan darah.Sekitar setengah jam, brainwash selesai dilakukan.Anung 
ingat, saat itu Terawan menjelaskan bahwa pengobatan ini adalah pengobatan 
baru.“Dokter Terawan tidak pernah bilang bisa menyembuhkan stroke. Beliau cuma 
bilang kalau ini baru," katanya.Setelah itu, Anung merasa ada perubahan yang 
baik pada tubuhnya, yang ia bilang "lebih segar dan sehat."Ada banyak testimoni 
serupa yang merasakan keberhasilan pengobatan itu. Meski demikian, praktik 
terapi atau pengobatan yang diterapkan dokter Terawan belum memiliki dasar 
kuat. Idealnya, sebuah penemuan baru dalam bidang medis harus melalui uji 
klinis sebelum dipraktikkan pada manusia.Baca juga: Bisakah Testimoni Pasien 
Selamatkan Dokter Terawan dari Pemecatan?Alat Diagnosis Menjadi Alat 
PengobatanKritik pedas disampaikan oleh Moh. Hasan Machfoed, profesor neurologi 
dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Ia mengatakan bahwa 
metode yang dikenalkan Terawan itu tak masuk akal. Salah satu alasannya, DSA 
bukanlah alat terapi penyembuhan, tetapi hanya alat untuk diagnosis 
penyakit.Dalam dunia kedokteran, DSA sudah lazim digunakan. Di bidang 
neurologi, DSA disebut cerebral angiography, digunakan untuk memeriksa gejala 
gangguan pembuluh darah otak (stroke iskemik).“Kalau misalnya Anda sakit batuk 
dua bulan, Anda pasti sakit paru-paru. Oleh spesialis paru-paru, Anda 
dirontgen. Anda divonis menderita TBC (tuberkulosis). Terbukti rontgen itu alat 
diagnosis, kan? Tapi rontgen itu diklaim bisa menyembuhkan Anda," kata Machfoed 
kepada Tirto, 6 April lalu, mengilustrasikan bagaimana rontgen sebagai metode 
diagnosis tapi kemudian diklaim sebagai alat penyembuh.Sebagaimana gambaran 
itu, Terawan mengklaim bahwa alat DSA—seyogyanya sebagai diagnosis—yang 
diterapkannya "sudah dimodifikasi", dan digunakan untuk memasukkan 
heparin—biasanya dipakai untuk obat campuran saat pasien melakukan tes darah di 
rumah sakit.Tapi, Machfoed berkata bahwa Digital Subtraction Angiography 
tetaplah alat untuk mengetahui kelainan pembuluh darah. "Hanya diagnosis. Nah, 
supaya kelihatan arteri di otak, dikasih juga heparin. Heparin itu maksudnya 
supaya nanti mencegah gumpalan darah." "Jadi heparin itu untuk mencegah, 
mencegah, dan mencegah pembekuan darah," tegas Machfoed.Irawan Yusuf, guru 
besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, yang menjadi promotor 
disertasi Terawan, bahkan mengatakan fungsi brainwash bukan untuk penyembuhan, 
melainkan hanya meningkatkan aliran darah dalam otak pada stroke kronis, 
memperbaiki suplai darah ke jaringan tersumbat ke otot jantung.Uji Penelitian 
dr. Terawan: Lemah dan CacatDalam kesaksiannya di persidangan Majelis 
Kehormatan Etik Kedokteran IDI, Prof. Dr. dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp.A(K) 
telah menganalisis dua penelitian brainwash. Analisis itu dilakukan dari tiga 
aspek: praktik kedokteran, bukti ilmiah, dan penilaian teknologi kesehatan.Dari 
analisis itu, Sastroasmoro mempertanyakan praktik kedokteran Terawan: Apakah 
sudah ada Pedoman Nasional Praktik Kedokteran dan Pedoman Praktik Klinik untuk 
rumah sakit bagi pengobatan stroke. Sementara lewat bukti ilmiah, penelitian 
Terawan yang diterbitkan Bali Medical Journal dan Indonesian Biomedical Journal 
tak disunting dengan baik serta ditulis dalam jurnal terakreditasi B, menurut 
klasifikasi riset teknologi dan pendidikan tinggi.Baca juga: IDI Mempersilakan 
Dokter Terawan Membela DiriTemuan lain terkait kualitas laporan merujuk 
kriteria Consolidated Standard of Reporting Trials (CONSORT) tahun 2015. Riset 
Terawan dinilai "lemah" dan "cacat" dari validitas studi secara metodologi. 
Penelitiannya mengabaikan aspek desain penelitian, besaran sampel, cara 
pengambilan sampel, dan penulisan, terutama Terawan tidak memahami prinsip uji 
acak terkendali—lemah dalam uji coba obat atau prosedur medis.Selain itu, 
Sastroasmoro menilai penelitian Terawan bukanlah berbasis studi eksperimen 
nyata, tetapi pra-eksperimen yang berpotensi bias karena bersandar pada 
asumsi.Kritik lain disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Teguh AS Ranakusuma Sp.S(K) 
dalam keterangannya pada sidang Majelis. Menurutnya, penelitian Terawan terkait 
clinical biomarker tidak dapat digunakan sebagai terapi atau pengobatan kepada 
pasien stroke.Karena itu, Ranakusuma meminta Terawan untuk mengubah judul 
disertasinya, yang semula memakai istilah brainwash menjadi intra arterial 
heparin flushing (IAHF).Klaim sang Dokter yang MeragukanMeski belum melawati 
uji klinis dan penelitian ilmiah yang memadai, pasien yang ditangani oleh 
Terawan sudah membeludak. Pada 2016, Terawan pernah mengklaim ada 30 ribuan 
pasien yang sudah ditanganinya. Jumlah ini terus meningkat. Terakhir, ia bahkan 
mengklaim lebih dari 40 ribu pasien yang ditanganinya lewat metode 'cuci otak' 
tersebut.Angka ini fantastis. Sampai-sampai pada Agustus 2016, Terawan tercatat 
dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pengerjaan DSA terbanyak. Terawan 
mengaku metodenya itu dikenalkan sejak 2004.Dengan klaim 40 ribu pasien selama 
13 tahun, artinya dalam sehari ia melakukan DSA kepada 8 sampai 9 pasien. Ini 
jika dikerjakan tanpa libur. Seandainya seorang pasien menjalani DSA 
membutuhkan waktu satu jam, setiap hari Terawan bekerja selama 8 sampai 9 jam 
khusus untuk DSA.Baca juga: Menkes Minta Masalah Dokter Terawan Diselesaikan 
Secara InternalKlaim lain yang meragukan adalah pengakuan paten yang dia sebut 
"Terawan Theory" dari Jerman. DSA dengan metode Terawan disebut-sebut sudah 
dipraktikkan di sejumlah rumah sakit di Jerman. Salah satu rumah sakit yang 
disebut menggunakan metode "Terawan Theory" adalah Augusta Krankenhaus di 
Düsseldorfer, Jerman.Namun, dalam laman layanan medis di situsweb rumah sakit 
tersebut, kita tak menemukan informasi apa pun terkait "Terawan Theory". Kami 
juga sudah menghubungi rumah sakit tersebut. Kami juga minta seorang warga 
Indonesia, yang tinggal di Jerman, untuk mengeceknya. Kami tidak mendapatkan 
informasi apa pun bahwa rumah sakit ini menyediakan layanan medis 'cuci otak', 
brainwash, atau heparin flushing. Bahkan rumah sakit tersebut tak punya 
departemen neurologi.Itu berbeda dengan situsweb milik RSPAD Gatot Soebroto, 
yang mencantumkan DSA sebagai salah satu layanan unggulannya. Dengan 
menampilkan foto doker Terawan yang memegang alat medis dan muka menghadap 
kamera, laman ini menulis bahwa layanan medis tersebut "menangani gangguan 
sirkulasi darah otak pada kasus Cerebro Vaskular Disease (CVD), memberikan 
pelayanan komprehensif dan holistik dengan menggabungkan multi disiplin ilmu 
kedokteran (neurologist, radiologist, cardiologist dan bidang lainnya) melalui 
konsultasi dan evaluasi para ahli di bidang terkait." Nadanya meyakinkan; bahwa 
jika ada kelainan sirkulasi otak, dokter di layanan tersebut "[...] menggunakan 
alat Digital Substraction Angiography (DSA) yang dimodifikasi dengan lntra 
Arterial Cerebral Flushing." Menurut Moh. Hasan Machfoed, Ketua Umum Pengurus 
Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, yang juga hadir dalam 
pemeriksaan etik terhadap dokter Terawan, apa yang disebut "modifikasi" pada 
DSA itu "tidak ada manfaatnya"—alias hanya akal-akalan."DSA itu sebagai alat 
diagnosis, namun oleh Dokter Terawan dijual sebagai pengobatan stroke. Bahkan, 
yang lebih celakanya lagi, orang menganggap bisa terhindar dari stroke. Rupanya 
orang dibohongi," ujar Machfoed.Saya berusaha mendapatkan pernyataan dokter 
Terawan. Pada Kamis pekan lalu, 5 April, saya datang ke RSPAD Gatot Soebroto 
untuk minta bertemu dengan sang dokter. Namun, upaya konfirmasi ini 
dihalang-halangi oleh Imam Suhada, provos rumah sakit. Ia mengatakan, "Kami 
merasa tidak penting untuk menyampaikan klarifikasi apa pun. Pimpinan kami 
tetap dr. Terawan."Di hari yang sama, sekitar jam 2 siang, rombongan politikus 
dari Komisi I DPR, yang tak ada sangkut pautnya mengurusi bidang kesehatan, 
datang ke rumah sakit tersebut. Mereka disambut oleh manajemen rumah sakit. 
Sesudah pertemuan, Abdul Kharis Almasyhari, Ketua Komisi I dari Fraksi PKS, 
mengatakan bahwa kedatangan mereka lantaran RSPAD Gatot Soebroto adalah "mitra" 
Komisi I.“Kalau kepala rumah sakitnya dijatuhi sanksi seperti ini, tentu kami 
harus memberikan dukungan moral," kata Kharis. ==========Catatan: Kami 
menambahkan keterangan soal upaya kami mengecek sebuah rumah sakit di Jerman, 
yang diklaim mengakui dan menerapkan hak paten "Terawan Theory". Kami juga 
memberi tambahan pada upaya konfirmasi kami kepada Terawan, yang belum 
direspons hingga artikel ini dirilis. [Redaksi]Baca juga artikel terkait KASUS 
DOKTER TERAWAN atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna(tirto.id - 
krs/fhr)Reporter: Mawa KresnaPenulis: Mawa KresnaEditor: Fahri SalamSent from 
my Verizon, Samsung Galaxy smartphone

Kirim email ke