Patut dicatat bahwa untuk projek Oceografi dan Maritim dikirim  25
mahasiswa Maluku untuk belajar di Uni Soviet.  Sebagian mesin-mesin untuk
pendidikan, begitupun buku-buku sudah dikirim, datang peristiwa 1965  semua
dibiarkan terbengkali, dan mangket untuk bangun univeristas agaknya diambil
over untuk dibangun salah satu universitas di .....  Proyek Oceanografi itu
sebesar US$ 200,-- juta.

Tahun 1999 didatangkan laskar jihad dari Jawa, membakar perpustakaan
Universitas Pattimura dan Universitas Kristen.


https://tabaos.id/mena-muria-hantu-rms-vs-blok-masela/


Mena Muria: Hantu RMS vs Blok Masela

By

 *Redaksi* <https://tabaos.id/author/redaksi/>

25/10/2019


*
<https://i2.wp.com/tabaos.id/wp-content/uploads/mena-muria-2.jpg?fit=800%2C443&ssl=1>**RMS
pernah menggunakan Mena Muria sebagai simbol perjuangannya. Namun, kalau
sekarang banyak generasi muda di Maluku yang menggunakan istilah tersebut,
janganlah dikait-kaitkan lagi dengan RMS.*

*TABAOS.ID <http://TABAOS.ID>*,– Banyak proyek, baik di masa orde lama
maupun orde baru tidak berjalan di Maluku, hanya karena adanya isu Republik
Maluku Selatan (RMS). Kini Maluku memiliki proyek besar. Blok Masela.

Jangan sampai proyek ini gagal hanya karena isu lama yang tak berujung
tersebut. Dulu ada istilah “Mena Muria” yang pernah digunakan RMS sebagai
sebuah simbol.

Sekarang istilah itu lagi ngetrend di kalangan anak muda di Maluku. Hal
yang membuat masyarakat dan tokoh Maluku perlu hati-hati dan jangan ada
fobia dengan Mena Muria.

Demikian disampaikan Ketua Forum Perjuangan Kebangsaan Maluku, Amir Hamzah,
di Jakarta, Selasa (31/5). Ia menjelaskan,  masyarakat Maluku punya budaya
dan peradaban seperti halnya daerah lain.

Ada istilah Nunu Saku, yang melahirkan doktrin Siwa Lima dan memunculkan
konsep Mena Muria. Nunu Saku berarti pohon rindang, tempat berlindung dan
bernaung bagi semua orang. Nunu Saku adalah kekuatan besar yang melindungi
masyarakat Maluku.

Sementara Siwa Lima memberikan gambaran bahwa masyarakat berasal dari dua
kelompok, yakni pata siswa yang berarti rumpun sembilan dan pata lima yang
artinya rumpun lima.

Rumpun masyarakat ini ciri khasnya akan terlihat dari model bangunan
desanya yang memiliki balai agung sebagai tempat pertemuan, tempat rapat.

Sedangkan Mena Muria menjelaskan bahwa dalam hidup bermasyarakat, setiap
orang harus peka terhadap lingkungan sekitar. Nah, Mena Muria ini adalah
konsep geopolitik masyarakat Maluku.

RMS pernah menggunakan Mena Muria sebagai simbol perjuangannya. Namun,
kalau sekarang banyak generasi muda di Maluku yang menggunakan istilah
tersebut, janganlah dikait-kaitkan lagi dengan RMS.

*Baca Juga*  *Protes Lonjakan Harga Tiket, Warga Bikin 'Paspor' Maluku*
<https://tabaos.id/protes-lonjakan-harga-tiket-warga-bikin-paspor-maluku/>

Mena Muria, kata Amir Hamzah, tidak bisa dipisahkan dari kehidupan
masyarakat Maluku sebagai masyarakat yang punya peradaban. Menurutnya, Mena
Muria seperti diungkap oleh dr Alexander J. Patty, teman Presiden Soekarno
ketika mendirikan Partai Indonesia Maluku, istilah Mena Muria juga
digunakan dan sebagai simbol perjuangan untuk merdeka.

Nah, mengapa ada permintaan agar istilah Mena Muria jangan jadi fobia? Di
masa lalu, banyak proyek untuk membangun Maluku agar menjadi lebih baik dan
sejahtera gagal atau dibatalkan karena isu RMS. Mena Muria dianggap sebagai
separatis! Padahal tidak demikian halnya.

“Sekarang ini, bila bertemu teman, satu mengucapkan “Mena” dan lainya
menjawab Muria,” katanya.

*Proyek Gagal*

Proyek di masa lalu yang gagal karena slogan Mena Muria adalah pengadaan
Fakultas Oceanografi di Universitas Pattimura, yang merupakan bantuan dari
Unisoviet dalam bidang penelitian kelautan dan kemaritiman dan proyek Dok
Terapung, bantuan dari Belanda untuk perbaikan, reparasi kapal.

Proyek yang kedua ini berada di Wayane Teluk Ambon tahun 1964. Namun
digagalkan hanya karena ada kabar RMS. Padahal kapal sudah sampai ke Ambon
bahkan beberapa kapal sudah sempat naik dok. Proyek ini akhirnya ditarik
dan tidak jelas kelanjutannya. Lagi lagi hanya karena isu RMS.

Pada orde baru, awal tahun 1973 ada rencana program pabrik gula di Makariki
di Seram Utara. Masyarakat sudah menyediakan ratusan hektar lahan untuk
petani tebu. Lagi-lagi batal hanya karena isu RMS.

Tahun 1987 juga ada rencana pembangunan pabrik semen di Pulau Buru dan
Seram Barat dan bahan baku dinyatakan telah memenuhi syarat. Sayang, hantu
bernama RMS seakan-akan masih bergentayangan.

Nah, sekarang ada Blok Masela. Jangan sampai batal dan gagal hanya karena
hantu tak berwujud bernama RMS.

Kirim email ke