Munir menjadi contoh, bahwa rezim neo-Mojopahit main sikat dengan meracun,
tabrak lari, bayar hitman. Papua mempunyai kekayaan alam yang
berlimpah-limpah untuk mengisi pundi-pundi kaum neo-Mojopahit. Semboyan
mereka harga mati, jadi harga untuk rakyat ialah mati. Apakah Papua harus
dalam NKRI karena diberikan oleh Alloh kepada kaum neo-Mojopahit?



https://www.suara.com/news/2019/10/23/201613/bela-papua-barat-veronica-koman-dapat-penghargaan-ham-dari-australia



*Veronica Koman Diancam Dibunuh: Karena Mereka Tahu Saya Benar soal Papua*

Reza Gunadha | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana

Jum'at, 04 Oktober 2019 | 15:36 WIB

[image: Veronica Koman Diancam Dibunuh: Karena Mereka Tahu Saya Benar soal
Papua]Veronica Koman, pengacara sekaligus aktivis HAM yang kekinian diburu
Polri dan pemerintah Indonesia. [SBS News]

*Mereka mencoba membunuh si pembawa pesan. Mereka tidak bisa menyangkal
data saya, semua rekaman, mereka tidak bisa membuktikan itu salah, sehingga
berusaha menghancurkan saya* *Suara.com - *Pengacara *cum *aktivis HAM
*Veronica
Koman* <https://www.suara.com/tag/veronica-koman>, yang ditetapkan sebagai
buronan oleh Polri dan diajukan masuk daftar red notice Interpol,
memberikan sejumlah pernyataan kepada media asing.

Veronica yang kekinian berstatus pengungsi politik di Australia setelah
paspornya dicabut pemerintah Indonesia, mengungkapkan banyak teror dan
ancaman terhadap dirinya dan keluarga.

Beragam ancaman tersebut terjadi setelah ia bergiat mengungkap banyak hal
mengenai situasi di Papua, yang selama ini jarang atau tak bisa ditampilkan
pada media-media massa Indonesia.

Hal itu diungkapkan Veronica saat melakukan sesi wawancara eksklusif dengan
kantor berita Australia, *SBS News*.

Dalam wawancara tersebut, Veronica Koman mengatakan menerima ancaman
pemerkosaan dan pembunuhan setiap hari, seiring dengan memanasnya situasi
di Papua dan Indonesia.

*SBS News,* Kamis (3/10/2019), menyebutkan, pengacara HAM yang disegani di
Indonesia itu kekinian tinggal di Australia.

[image: Mama Yosepa Alomang, pejuang hak asasi manusia Papua, bersama
pengacara Aliansi Mahasiswa Papua Veronica Koman. [Jubi]]Mama Yosepa
Alomang, pejuang hak asasi manusia Papua, bersama pengacara Aliansi
Mahasiswa Papua Veronica Koman. [Jubi]

Veronica masih dikejar-kejar oleh aparat Polri karena menyebarkan
bukti-bukti pasukan keamanan melakukan kekerasan di Papua dan Papua Barat.



"Saya mulai menerima ancaman pembunuhan sejak dua tahun lalu, dan sekarang,
menerima ancaman pembunuhan serta pemerkosaan di media sosial itu rasanya
hampir seperti pengalaman sehari-hari," kata perempuan 31 tahun itu kepada *SBS
News.*

"Mereka mencoba membunuh si pembawa pesan. Mereka tidak bisa menyangkal
data saya, semua rekamannya, mereka tidak bisa membuktikan itu salah,
sehingga mereka berusaha menghancurkan kredibilitas saya."

Veronica Koman, dikutip dari *SBS News*, mulai terlibat dalam perjuangan
kemerdekaan Papua Barat sejak 2014.

Persisnya, setelah lima demonstran Papua tewas dan 17 lainnya terluka
akibat ulah pasukan militer Indonesia dalam tragedi yang dikenal sebagai
peristiwa Paniai Berdarah.

"Saya berpikir pada saat itu... wow, kok tidak ada reaksi kemarahan?
Anak-anak sekolah dibunuh oleh pasukan keamanan,'" katanya.

"Sudah menjadi misi pribadi saya untuk mengekspose apa yang terjadi di
Papua Barat."

Pekan lalu, salah satu kerusuhan yang melibatkan pertumpahan darah selama
20 tahun belakangan terjadi lagi di Papua dan Papua Barat, dengan
setidaknya 33 orang tewas di pusat kota Wamena.



Sejumlah mahasiswa Papua yang tergabung dalam Komite Mahasiswa Anti
Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme Dan Militerisme melakukan unjuk rasa di
depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/8). [Suara.com/Arya Manggala]

Cuplikan dari insiden tersebut, yang diperoleh *SBS News,* menunjukkan
pasukan Indonesia melepaskan tembakan ketika para siswa SMA di Papua
menggelar aksi unjuk rasa anti-rasisme.

Menurut pemerintah, sebagian besar korban tewas karena kebakaran. Presiden
Indonesia Joko Widodo (Jokowi) kemudian menyalahkan "kelompok kriminal
bersenjata" tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

*Keluarga Diintimidasi*

Saat ini, meskipun tinggal di luar negeri, Veronica Koman mengatakan,
keluarganya di Indonesia masih dalam bahaya.

Bahkan, baru-baru ini, rumah keluarga Veronica Koman di Jakarta digerebek.

"Keluarga saya di Jakarta sudah pindah lebih dari sebulan terakhir untuk
menghindari intimidasi itu," katanya, seraya menambahkan, banyaknya ancaman
yang ia terima juga ditujukan kepada keluarganya.

"Orang bilang, 'kamu di Australia, tapi keluargamu ada di Indonesia dan
kami bisa mencarinya.'



Di lain sisi, Veronica Koman—yang memiliki tato Indonesia di lengan
kirinya—tidak dapat kembali ke negara asalnya karena takut akan
penganiayaan, tetapi memilih untuk melihat sisi positif dari situasi
tersebut.

"Ini adalah awal yang baru, ini adalah babak baru," katanya.

Kirim email ke