https://www.newmandala.org/mengapa-media-gagal-meliput-papua/
Mengapa media gagal meliput Papua? FEBRIANA FIRDAUS <https://www.newmandala.org/author/febriana-firdaus/> - 13 DEC, 2017 - 1113 - 927 - <?subject=Thought%20you%20might%20like:%20Mengapa%20media%20gagal%20meliput%20Papua?&body=https%3A%2F%2Fwww.newmandala.org%2Fmengapa-media-gagal-meliput-papua%2F> - <https://www.newmandala.org/mengapa-media-gagal-meliput-papua/#> Dalam sejarah jurnalisme, sangat sulit menemukan jurnalis yang fokus menulis Papua, apalagi jurnalis asal Indonesia. Saya mencatat hanya dua orang jurnalis yang melaporkan Papua dengan sangat detail. Pertama adalah mantan editor investigasi saya di Majalah Tempo, Wahyu Dhyatmika, yang meliput tentang hutan adat. Kedua adalah Michael Bachelard <http://www.smh.com.au/lifestyle/theyre-taking-our-children-20130428-2inhf.html>, wartawan Fairfax Mediayang menulis tentang Islamisasi anak-anak Papua. Michael bahkan bukan orang Indonesia, tapi saya bisa memasukkannya dalam kategori produk jurnalisme tentang Indonesia. Untuk wartawan di Papua, saya menyebut dua nama penting yang merupakan pelopor, yakni Victor Mambor dari Tabloid Jubi dan almarhum Oktovianus Pogau dari Suara Papua. Yang dua terakhir sudah teruji konsistensinya menyuarakan suara warga Papua. Lalu ke mana wartawan lainnya? Saya tidak bisa mengingkari bahwa ada yang salah memang dengan jurnalis kita (terutama di Jakarta), karena sedikit dari mereka yang mengetahui bahwa sebenarnya Papua adalah tajuk utama, terutama dalam hal hak asasi manusia. Karena hanya di Papua militer masih melakukan operasi aktif seperti dalam kondisi perang dan pelanggaran HAM terus terjadi, setiap pekan. Entah karena minat wartawan terhadap isu Papua yang kurang atau ruang redaksi di Jakarta masih setengah hati memberitakan provinsi paling timur di Indonesia ini. Model produk berita tentang Papua antara lain: tentang penembakan. Pada umumnya, dalam tulisan itu digambarkan prajurit TNI atau polisi sedang membasmi kelompok separatis yang menginginkan Papua merdeka. Lalu dengan gagahnya, aparat berhasil menembaki anggota Organisasi Papua Merdeka. Tentu saja, ada anggota TNI/Polisi yang menjadi korban. Mereka disebut pahlawan karena telah mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kata kuncinya adalah: separatis, kedaulatan, NKRI. Saya termasuk dari jurnalis yang pernah menulis demikian, tentu saja karena ketidaktahuan saya. Namun ketika saya melakukan riset, banyak sumber alternatif yang disajikan. Sebuah narasi lain, yang beda dari narasi tunggal yang pernah didoktrinkan kepada saya oleh pemerintahan Orde Baru Soeharto di sekolah. Di sekolah, dan mungkin sampai sekarang, saya diajarkan tentang sejarah Papua versi Orde Baru. Antara lain tentang Operasi Trikora yang digagas oleh Presiden Soekarno dengan menugaskan Mayor Jenderal Soeharto <https://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto> sebagai panglima. Operasi itu merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Akhirnya militer Indonesia menang dan Soeharto jadi “pahlawan”. Papua pun masuk wilayah kedaulatan “NKRI harga mati”. Begitulah sejarah ditulis di buku-buku sekolah dan tidak diubah hingga hari ini. Sayangnya kami sebagai wartawan tak banyak mencari tahu, apakah benar sejarah Trikor sedemikian lurusnya, tanpa kesalahan? Untuk membaca artikel selajutnya , click situs diatas.
