Dahulu ada H.B. Jasin yang sering menulis artikel mengoreksi bahasa Indonesia yang kurang tepat. Dia pernah menulis tentang memanjatkan doa. Dia tulis, yang bisa dipanjatkan itu kera, disuruh memanjat pohon kelapa, untuk memetik kelapa. Lha, kalau doa dipanjakan, yang memanjatkan siapa naik ke atas. Kalau ada team yang khusus mengoreksi bahasa dari artikel di koran2, pasti dengan cepat bahasa Indonesia yang tidak tepat akan terkoreksi. Mungkin banyak istilah2 asing bisa ditemukan padanannya yang kena. Dulu zaman SMP/SMA untuk bahasa Indonesia siswa2 dengan susah payah dapat 7, sedangkan untuk bahasa Inggris dan Jerman dengan mudah bisa dapat 9. Jadi memang berbahasa Indonsia yang baik, dengan tata bahasa benar tidak mudah.
Pada tanggal Rab, 30 Okt 2019 pukul 06.25 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > > > Kedaulatan Bahasa Indonesia Harus Kembali Ditegakkan > > Suara Pembaruan > Selasa, 29 Oktober 2019 - 14:27 > > Jakarta, Beritasatu.com - Kemendikbud akan terus berkomitmen untuk > menegakkan kedaulatan bahasa Indonesia di Tanah Air dengan melestarikan > bahasa dan sastra daerah. Salah satunya dengan menyelenggarakan > kegiatan rutin, Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) sejak 39 tahun lalu. > > Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, > yang diwakili oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, > Dadang Sunendar mengatakan, seiring dengan perkembangan yang terjadi di > masyarakat, bahasa dan sastra Indonesia juga terus berkembang. > > Beliau mengatakan perkembangan bahasa dan sastra Indonesia berlangsung > secara alami atau pun terencana sesuai dengan garis haluan kebahasaan > yang menjadi kebijakan nasional. Hal tersebut dimaksudkan agar > perkembangan bahasa dan sastra Indonesia dapat selaras dengan tuntutan > kebutuhan masyarakat dalam berbagai bidang. > > "Baik dalam bidang sosial, budaya, politik, ekonomi, hukum, ilmu > pengetahuan dan teknologi, komunikasi massa, pemerintahan maupun > bidang-bidang lain," kata Mendikbud dalam kata sambutan yang diwakili > oleh Dadang Sunendar, di Hotel Bidakara Pancoran, Jakarta Selatan, > Senin (28/10/2019). > > Oleh karena itu, Nadiem lewat kata sambutannya menyampaikan apresiasi > kepada Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan yang telah mempersiapkan > dan menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka menyemarakkan Bulan > Bahasa. > > Pengembangan bahasa di Tanah Air, katanya, harus terus dilakukan oleh > Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Perlindungan terhadap bahasa > dan sastra daerah juga harus secara paralel dilakukan bersama dengan > pemuda di Indonesia. > > "Karena pelindungan ini berarti pula perlindungan terhadap keberagaman > Indonesia yang multietnis dan multilingual," jelasnya. > > Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Pembinaan Badan Bahasa, Hurip > Danu Ismadi, mengatakan BBS merupakan kegiatan kebahasaan dan > kesastraan yang secara rutin di laksanakan setiap Oktober sebagai bulan > lahirnya Sumpah Pemuda. > > "Sumpah Pemuda memiliki tiga ikrar yang sangat sakral. Termasuk ikrar > ketiga yaitu menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Hal > ini menandakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa > Indonesia," tutur Hurip Danu. > > Kegiatan yang mengambil tema "Maju Bahasa dan Sastra, Maju Indonesia" > ini tidak hanya digelar untuk memperingati 91 tahun Sumpah Pemuda, > tetapi juga untuk membina dan mengembangkan bahasa dan sastra > Indonesia, serta bertekad memelihara semangat dan meningkatkan peran > masyarakat luas dalam menangani masalah bahasa dan sastra. > > Dengan misi tersebut, maka Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan > menggelar berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Salah satunya > adalah meluncurkan beberapa beberapa produk inovatif seperti Kamus > ASEAN, Kamus Vokasi, dan KBBI Disnetra. > > Tak hanya itu, masih ada beberapa produk lain yang diluncurkan meliputi > Buku Seri Penyuluhan, Buku Sastrawan Berkarya, Bahan Belajar Bahasa > Asing, Bahan Diplomasi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), > Bahan Terjemahan Pendukung Diplomasi Kebahasaan, Buku Gerakan Literasi > Nasional (GLN), dan Aplikasi Layanan Ahli Bahasa. > > "Produk-produk perbukuan ini sangat inovatif, berguna bagi masyarakat > serta bisa meningkatkan literasi bahasa dan sastra di Tanah Air, " > jelas Hurip. > > Raih Penghargaan > Untuk meramaikan BBS 2019, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan > menggelar berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Beberapa di > antaranya, Simulasi dan Layanan Kebahasaan, Pameran Kebahasaan dan > Kesastraan, dan Penilaian Penggunaan Bahasa Media Massa Cetak. > > Surat kabar Suara Pembaruan kembali masuk urutan 10 besar dalam ajang > penilaian penggunaan bahasa Indonesia pada media massa cetak. Selain > Suara Pembaruan, media massa cetak lain yang meraih penghargaan adalah > Republika, Tribun Jabar, dan Bisnis Indonesia. > > Hurip mengatakan, penghargaan ini diberikan kepada media massa yang > secara konsisten menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. > Selain itu, kegiatan ini juga dimaksud untuk mendorong media massa agar > meningkatkan kualitas bahasanya. > > "Peran media massa sangat penting untuk mensosialisasikan penggunaan > bahasa Indonesia yang baik kepada masyarakat luas," terangnya. > > Sumber : Suara Pembaruan > >
