Apa inti pendapat RR ini?

Koq bisa2nya disebut RR  Begawan ekonomi kerakyatan? “Begawan ekonomi 
kerakyatan Rizal Ramli pun angkat bicara terkait ‘super holding‘”

Sedangkan pendapatnya adalah BUMN BUMN itu harusnya disuruh berkompetisi 
seperti Indosat dan Telkom dipisahkan ketika RR Menko Ekuin“ tahun 2000.

Kompetisi ini apa? Kompetisi ini adalah salah satu ciri dari kapitalisme.

BUMN itu central economy sesuai dengan Pancasila yg kiri. 

 

Dimana RR adalah Begawan ekonomi kerakyatan?!!!

 

Nesare

 

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Saturday, November 2, 2019 12:29 AM
To: Jaringan Kerja Indonesia <[email protected]>; 
Gelora 45 <[email protected]>; Sastra Pembebasan 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Fw: [nasional-list] RR ttg kompetisi

 

  

 

 

----- Pesan yang Diteruskan -----

Dari: 'Lusi D.' [email protected] <mailto:[email protected]>  [nasional-list] 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >

Kepada: "[email protected] <mailto:[email protected]> " 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >; Chalik 
Hamid [email protected] <mailto:[email protected]>  
[nasional-list] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >

Terkirim: Jumat, 1 November 2019 23.30.47 GMT+1

Judul: [nasional-list] RR ttg kompetisi

 

  


Berikut ulasan Rizal Ramli ttg kompetisi.
Lusi.-

Antara ‘Succes Story’ Rizal Ramli dan ‘Super Holding’ BUMN

By Mahameru Alfaraby | Oktober 31, 2019 

KedaiPena.Com – Pemerintah ngotot membuat ‘super holding‘ BUMN.
Diharapkan ada banyak keuntungan yang didapat ketika para BUMN menjadi
‘super holding‘. Begawan ekonomi kerakyatan Rizal Ramli pun angkat
bicara terkait ‘super holding‘.

“Kita tanya dulu mau gimana bikin ‘super holding‘, kok ribet amat. Pada
dasarnya dengan ‘super holding‘ diharapkan ada manfaat. Baik dalam
mencari modal maupun ‘cost input‘, karena skala gede, karena ada posisi
tawar,” kata Menko Ekuin era Presiden Gus Dur itu di Jakarta, ditulis
Kamis (31/10/2019).

“Kemudian, ada ‘efisiensi gain‘ yang didapat dari ‘cost reduction‘ dan
lain-lain. Tapi pertanyaannya, dari ‘super holding‘ sudah ada belum
yang sampai seperti itu, terutama ‘economic of scale‘ ada ‘efisiensi
gain‘? Sayang kalaupun ada, tidak terlalu besar,” papar Rizal.

Eks Tim Panel Ekonomi PBB ini menambahkan, bahkan ada juga BUMN yang
terus rugi walaupun ‘holding‘ sana-sini. Ini karena kulturnya tidak
berubah. Contohnya, seperti yang mantan Menteri BUMN Tantri Abeng
katakan, ‘holding‘ perkebunan. Ini terjadi karena kulturnya tidak
berubah.

“‘Output‘ masih banyak dijual di belakang layar, ‘cost‘-nya tinggi dan
sebagainya,” Menko Maritim Kabinet Pertama Jokowi melanjutkan.

Hal lain yang patut dilihat dalam konteks ‘super holding‘ BUMN adalah
kepentingan konsumen. Kalau semua dimerger, digabung jadi satu,
konsumen tidak akan diuntungkan. Karena tidak ada kompetisi.

Rizal lalu mencontohkan kebijakan sewaktu dirinya menjadi Menko Ekuin
yang memisahkan Telkom dan Indosat. Tadinya kedua perusahaan itu ‘cost
ownership‘, ‘cross management‘. Anak perusahaannya ada 40, dan semua
dimiliki keduanya.

“Tahun 2000 kita pisahkan keduanya. Maka ada kompetisi, konsumen
diuntungkan,” ujar RR, sapaannya.

Misal, kalau bank semua digabungkan. Maka akan menciptakan birokrasi
baru, sudah direksi ‘holding‘, pun ada direksi bank. Yang kedua
‘economic of scale‘ tidak tercapai.

Contoh lain yang Rizal ceritakan terkait kompetisi adalah di sektor
penerbangan komersil. Di tahun 2000, ‘airline‘ yang beroperasi di tanah
air cuma Merpati, Garuda dan Mandala. Karena krisis, Pemerintah Gus Dur
meminta turunkan harga tiket. Sayang, para maskapai itu tidak mau
menjalankan permintaa pemerintah, karena adanya oligopoli.

“Lalu kita berikan izin pada lima pemain baru swasta, termasuk Lion Air
dan lain-lain. Akhirnya ‘cost per passanger drop‘ lebih setengahnya.
Total penumpang naik tujuh kali. Jadi, yang kita butuhkan adalah
kompetisi. Kalau tidak, mereka seenak-enaknya sama konsumen,” Rizal
menekankan.

Laporan: Sulistyawan



Kirim email ke