Bener!

Gak ada yg gak korupsi di Indonesia kalau ngomong masalah birokrat pemerintah.

Masalahnya korupsi nya itu gede atau tidak; serakah atau tidak. Ini saja.

 

Wong dari bawah coba ambil contoh urus KTP, KK, surat2 lainnya dari RT, RW, 
kelurahan, kecamatan dst. Itu semua duit. Wah kalau keturunan tionghoa lebih 
parah lagi. Gak salah pun dipersusah. Mau sok pakai yg bener sesuai hukum, eh 
bisa gak dapet surat yg dibutuhkan. Ini sudah terjadi dimana2 sejak dulu kala.

 

Ini yg mau dibabat sama Jokowi dan ahok dgn segala e e nya dari ebudgeting, 
eprocurement dll itu sudah dimulai. Banyak loop hole nya jelas wong masih baru 
dan juga orang2/operatornya belum ngerti. Jangankan ngomong integrase, populate 
data saja sudah setengah mati. Semua masih tulisan tangan mau di komputerkan. 
Ini masalah gede broer!

 

Di USA saja, yg Namanya medical record itu sudah belasan tahun belakangan ini 
sudah dilakukan dan sampai sekarang masih belum selesai2. System yg gede spt 
decision support system/ DSS terlalu mahal dan gak efektif. DSS ini adalah 
salah satu course/mata kuliah yg belajar disekolah kedokteran terutama bagian 
computer/informatics. 

Masalah ebudgeting ini kan diributkan sama anies baswedan yg katanya tidak 
smart. Persis omongan2 seperti ini adalah nyinyir. Sama kayak si ajeg. 
Ebudgeting itu dipakai utk nyinyir. Sebetulnya kan ebudgeting itu kan system. 
System itu hrs dijalankan baru bermanfaat. Dalam aplikasi system apapun akan 
selalu ada orangnya. Disini kalau orangnya gak bener ya bakalan gak berhasil. 
Istilah orang computer kan: garbage in garbage out/GIGO.

 

Jauh lebih gampang cari kesalahan. Lebih susah mencari solusi atas kesalahan 
itu. Kalau semangatnya hanya mencari kesalahan ya gak jauh2lah spt anies, rocky 
gerung, ratna sarumpaet, jonathan dan ajeg. Bedanya hanya pada motivasinya 
masing2 saja. Kalau semangatnya memang mau mengeritik dan memperbaiki utk 
mencari betterment, ya kasih argumennya gimana solusinya. Kalau kebanyakan 
kritik tanpa solusinya, ya masuk kategori nyinyirlah.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Friday, November 8, 2019 12:58 PM
To: Gelora 45 <[email protected]>; nesare <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] dana "desa fiktif" tak pernah dicairkan

 

  

Kalau menteri agama saja korupsi apakah bisa diharapkan dari warganegara 
berkedudukan dalam herarki kekuasaan. Makin tinggi kedudukan makin berani dan 
hebaaaat korupsi mereka . Ini contohnya di era yang disebut reformasi, kembali 
ke Pancasila, kembali ke UUD45, sesudah Soeharto jatuh terpelanting dari kursi 
kekuasaan negara :

 

Rezim Megawati - Menteri Agama bernama Said Agil Husni Al Mawar, koruptor 
maasuk penjara, setelah bebas sekarang menjadi ahli tafsir pada Universitas 
Hidayatulah di Jakarta.

Rezim SBY - Menteri Agama bernama Suryadharma Ali, koruptor - mungkin masih 
dalam penjara.

Rezim Joko Widodo (Jokowi) I, menteri Agama bernama Lukman Hakim Saifuddin, 
koruptor, mengakui disuap Rp 70,-- juta selain itu ditemukan oleh KPK sejumlah 
bussar bin banyak fulus di ruang kerjanya di Kementrian Agama. Paduka ini belum 
disidangkan atau mungkin juga tidak akan di bawa ke pengadilan atau dibebaskan 
dari segala tuntutan hukum oleh presiden Jokowi, sekarang beliau masih loleng 
sana sini memberikan chotbah tentang indah hidup bahagia setelah mati duniawi  
dan hidup abadi di dunia seberang. 

 

On Fri, Nov 8, 2019 at 6:35 PM 'nesare' [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> > wrote:

  

Siapa pejabat yang tidak terlibat skandal di RI?

Sebutkan kalau ada!

 

Sok suci itu bagus, tetapi kalau mengharapkan dunia ini seperti surga itu 
namanya mimpi krn dunia itu tidak sama dengan surga.

 

Jadi kalau kerjaannya hanya nyinyir saja, ya pasti ketemu skandalnya. 

Beda kalau mau menerima ketidaksuciannya manusia dan ingin hidup lebih benar 
dan lebih baik, coba kasih kepinterannya supaya gimana RI itu bisa maju kedepan.

 

Kalau hanya nyinyir terus spt yg ente lakukan sekarang ini gak akan ada gunanya 
buat RI. Isinya bakalan sumpah serapah terus.

 

Emangnya kalau sri mulyani ditangkap dimasukin penjara atau dimatikan sekalian 
sama megawati, terus bakalan sudah selesai persoalan RI?

Lalu ente yg suci yg pegang kendali RI, emangnya bisa menjamin RI makmur dan 
sejahtera? Hehehehe banyak maunya ttp sayangnya maunya itu hanya mimpi saja!!!!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
<[email protected] <mailto:[email protected]> > 
Sent: Friday, November 8, 2019 8:37 AM
To: GELORA45 <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: [GELORA45] dana "desa fiktif" tak pernah dicairkan

 

  

Apa sebenarnya yang mau ditutupi Sri Mulyani dengan persoalan fiktif ini?

 

Yang pasti, nama Sri Mulyani tetap tersangkut di skandal Bank Century.

 

-

 


Penjelasan Lengkap Wakil Bupati soal 3 Desa Fiktif di Konawe: Dana Rp 5,8 M Tak 
Pernah Dicairkan


Dana desa sebesar Rp 5,8 miliar masih tersimpan di kas daerah dan tidak 
dipergunakan untuk kegiatan apa pun.

Jika ada pernyataan yang menyebutkan bahwa tiga desa itu masih menerima dana 
desa, Gusli meminta untuk menanyakannya langsung ke Kemendes.

https://regional.kompas.com/read/2019/11/08/05000041/penjelasan-lengkap-wakil-bupati-soal-3-desa-fiktif-di-konawe-dana-rp-58-m?page=all

 

 

 



Kirim email ke