Satu Perahu, Kabinet Jokowi Diminta Tidak Gaduh di Ruang Publik
On Nov 9, 2019
Oleh: Azhar AP


Balicitizen.com, Jakarta – Sejak awal, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah 
mengingatkan agar para anggota kabinet tidak gaduh di luar. Namun, belum juga 
sampai satu bulan, peringatan tersebut sudah dilanggar.

Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing, mengimbau 
menteri-menteri kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak saling gaduh di 
ruang publik.

Hal itu diungkapkan menyusul beda pandangan terkait “desa fiktif” antara 
Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal 
dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar.

“Dua pandangan yang sangat berseberangan ini sejatinya diungkapkan dan dibahas 
tuntas dalam rapat internal kabinet,” ujar Sihombing, dalam keterangannya di 
Jakarta, Jumat (8/11).

Menurut dia, bila terdapat perbedaan pandangan di antara menteri-menteri 
Jokowi, hal itu sebaiknya dibicarakan dalam forum internal. Di antaranya pada 
rapat kabinet paripurna yang dipimpin presiden, rapat kabinet terbatas yang 
dipimpin wakil presiden, atau rapat kabinet khusus yang dipimpin menteri 
koordinator terkait.

“Di dalam rapat kabinet inilah mereka berdua adu fakta, data, bukti, landasan 
hukum yang terkait, argumentasi dan bila diperlukan saling mengemukakan dalil 
untuk membuat kesepakatan dan atau keputusan sebagai landasan kedua menteri 
tersebut dalam berwacana di ruang publik,” kata dia.

Sihombing mengatakan tidak sepatutnya dua menteri beradu argumen di ruang 
publik. Alasannya, keduanya berada dalam satu perahu yang sama, yakni Kabinet 
Indonesia Maju.

Lebih lanjut dia mengatakan persoalan antara Mulyani dan Iskandar sudah 
terlanjur mengemuka, sehingga keduanya harus dapat mempertanggungjawabkan hal 
tersebut ke publik.

“Jika dua pandangan yang berbeda tersebut ada kecocokan fakta, data dan bukti, 
hanya yang berbeda dari sudut pandang saja, ini lebih mudah melakukan 
klarifikasi di ruang publik,” kata dia.

“Lain halnya bila ditemukan ada perbedaan data, fakta, dan bukti yang sangat 
signifikan, maka perlu dilakukan uji validitas secara menyeluruh terhadap 
sajian lontaran pernyataan dari dua menteri tersebut,” sambung dia.

Bila hasilnya ditemukan bahwa fakta, data, dan bukti yang bersumber dari dua 
menteri itu tidak valid, Sihombing menyarankan agar kedua menteri itu harus 
meminta maaf kepada publik.

Sebelumnya Mulyani mengatakan ada laporan banyak desa baru yang tidak 
berpenduduk yang dibentuk agar bisa mendapatkan kucuran dana desa setiap tahun. 
Desa tersebut kemudian disebut sebagai desa fiktif.

Namun Iskandar mengatakan tidak ada desa fiktif seperti yang disebutkan 
Mulyani. “Sejauh ini belum ada desa fiktif,” kata Iskandar, di Kantor 
Kepresidenan, Jumat (8/11).

Pada pemerintaha Jokowi yang pertama, beda pendapat di antara 
menteri-menterinya juga pernah terjadi dan menjadi polemik yang menyita 
perhatian publik.. Ari/INI/Balicitizen



Kirim email ke