[Catatan Wartawan Indonesia di Xinjiang] Mencegah Radikalisme di
 Xinjiang Islamic Institute

http://indonesian.cri.cn/20191118/1dba381e-ad29-508d-6db0-565fd3a3b0ca.html
2019-11-18 14:32:12

XINJIANG Islamic Institute di Urumqi, Provinsi Otonomi Xinjiang Uigur di Tiongkok beberapa waktu lalu menjadi pemberitaan media. Diberitakan Pemerintah Tiongkok menjadikan institut ini untuk mengisolasi warga muslim Uygur.

Rombongan Indonesia dipimpin Dirut PT Adaro Garibaldi Thohir mengunjungi institut tersebut, Jumat (15/11). Turut serta dalam rombongan sejumlah pimpinan media di Indonesia.

图片默认标题_fororder_x1

Rektor Xinjiang Islamic Institute Abdurekep Tumniyaz dan mahasiswa./(MI/Usman Kansong)/

Abdurekep menjelaskan kampus Xinjiang Islamic Institute berdiri di atas tanah 10 hektare dengan luas bangunan 5 hektare yang terdiri dari ruang kelas, asrama, gedung olahraga, kantin, masjid, dan kantor.

Pembangunannya menelan dana 279 juta yuan. "Sebanyak 250 juta yuan dibantu pemerintah pusat dan 29 juta yuan dibantu pemerintah lokal," jelas Abdurekep

Mahasiswa saat ini berjumlah 1.100 orang. Sebanyak 60% di antaranya mendapat beasiswa Rp8 juta sampai Rp16 juta per bulan. Di antara mahasiswa terdapat guru agama Islam, penceramah, atau imam yang berusia 40 tahun sampai 50 tahun.

图片默认标题_fororder_x2

/Rektor Xinjiang Islamic Institute Abdurekep Tumniyaz.(MI/Usman Kansong)/

Mereka menempuh pendidikan sarjana, vokasi D3, dan D2. Mereka dipersiapkan menjadi khatib atau penceramah. "Mereka mempelajari Islam, hukum dan konstitusi, serta sejarah dan kebudayaan dengan bahasa pengantar Mandarin, Uygur, dan Arab," ucap Abdulrekep.

Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi mengatakan, pendidikan seperti di Xinjiang Islamic Institute bertujuan deradikalisasi. "Pelatihan dan pendidikan yang kami lakukan ialah untum deradikalisasi dan membantu mereka mengenal  undang-undang dan memperoleh keterampilan kejuruan. Ini sesuai dengan aspirasi masyarakat," kata Arken saat menjamu rombongan makan malam di kantor gubernur di Urumqi, Jumat (15/11) malam.

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/271967-mencegah-radikalisme-di-xinjiang-islamic-institute


 [Catatan Wartawan Indonesia di Xinjiang] Provinsi Xinjiang Edukasi
 Bahaya Terorisme lewat Pameran

http://indonesian.cri.cn/20191118/234f416e-2ae4-e95a-3ea4-3521c99a6811.html
2019-11-18 14:39:06

PEMERINTAH Provinsi Xinjiang mengadakan ekshibisi peristiwa terorisme yang pernah terjadi di provinsi tersebut. Ekshibisi berlangsung di Xingiang International Convention and Exhibition Center di Kota Urumqi, Provinsi Otonomi Xingiang Uygur, provinsi di Tiongkok yang 11 juta penduduknya beragama Islam.

图片默认标题_fororder_x3

图片默认标题_fororder_x4

Pameran berlangsung sejak tahun lalu hingga beberapa tahun ke depan. Pameran menampilkan 41 peristiwa terorisme yang terjadi sejak 1992 hingga 2015.

Para teroris yang umumnya mengatasnamakan agama itu melakukan serangan dengan senjata tajam, senjata api, bahan peledak rakitan, racun  atau menabrakkan mobil ke kerumunan.

Pameran menampilkan foto dan video peristiwa maupun korban terorisme, senjata serta bahan peledak yang digunakan teroris. Sejumlah foto dan video menampilkan peristiwa dan korban terorisme secara vulgar seperti apa adanya. Karena itu, anak-anak tidak diizinkan menyaksikan pameran ini.

Tujuan pameran ini ialah mengedukasi masyarakat Xinjiang bahwa terorisme sangat kejam, merugikan rakyat, dan mengoyak harmoni masyarakat.

Rombongan dari Indonesia yang dipimpin Direktur Utama Adaro Garibaldi Thohir berkesempatan mengunjungi pameran itu, Jumat (15/11).

图片默认标题_fororder_x5

图片默认标题_fororder_x6

Sejak akhir 2015, tidak terjadi lagi peristiwa terorisme di Xinjiang. Menurut Wakil Gubernur Xinjiang, Arken Tuniyazi, itu antara lain karena pemerintah melaksanakan deradikalisasi.

"Kami melakukan deradikalisasi antara lain melalui pendidikan agama, hukum, dan konstitusi serta sejarah dan kebudayaan," kata Arken saat menjamu delegasi dari Indonesia untuk makan malam di Kantor Gubernur di Kota Urumqi, Jumat (15/11) malam.

Foto by /MI/Usman Kansong/

Sumber:https://mediaindonesia.com/read/detail/271933-provinsi-xinjiang-edukasi-bahaya-terorisme-lewat-pameran


 [Catatan Wartawan Indonesia di Xinjiang] Wagub Xinjiang Menyesalkan
 Terorisme Medan

http://indonesian.cri.cn/20191118/1f497027-4312-18ee-1f57-951139f5b702.html
2019-11-18 14:44:29

图片默认标题_fororder_x7

Direktur Utama Adaro, Garibaldi Thohir, berkunjung ke Kantor Gubernur di Urumqi, Xinjiang, Jumat (15/11), dan disambut Wagub Arken Tuniyazi./MI/Usman Kansong/

WAKIL Gubernur Xinjiang, Tiongkok, Arken Tuniyazi menyesalkan peristiwa terorisme di Medan, Sumatra Utara.

"Saya melihat berita di internet, terjadi serangan teroris di Medan. Terorisme jelas merugikan rakyat. Saya mengucapkan bela sungkawa," kata Arken.

Arken, yang beragama Islam itu, menyampaikan ucapan belasungkawanya kepada rombongan dari Indonesia yang dipimpin Direktur Utama Adaro, Garibaldi Thohir, dalam jamuan makan malam di Kantor Gubernur di Urumqi, Xinjiang, Jumat (15/11).

Rombongan terdiri atas pimpinan media dan pimpinan Grup Adaro.

Xinjiang ialah provinsi khusus di Tiongkok yang banyak penduduknya beragama Islam. Xinjiang juga menghadapi terorisme sejak 1992 hingga 2015.

"Kita harus bersama-sama melawan terorisme untuk melindungi rakyat," kata Arken.

Seperti diberitakan, terjadi serangam bom bunuh diri di Poltabes, Medan, Rabu (13/11) lalu.

Beberapa orang memgalami luka-luka akibat peristiwa itu

Garibaldi Thohir mengapresiasi ucapan bela sungkawa Wagub Arken. Garibaldi setuju bahwa terorisme harus ditumpas.

"Indonesia dan Xinjiang sama-sama menghadapi persoalan terorisme. Saya setuju kita harus berantas terorisme, dan terorisme itu bukan Islam karena Islam tidak mengajarkan kekerasan," kata Garibaldi.

sumber: 
https://mediaindonesia.com/read/detail/271872-wagub-xinjiang-menyesalkan-terorisme-medan


Kirim email ke