Kerukunan alami akan hilang jika mereka tidak lagi makan kenari, diganti
dengan buah lain

https://www.hidayatullah.com/feature/kisah-perjalanan/read/2019/11/17/173633/kerukunan-alami-di-pulau-kenari-1.html


*Alor* “*Kerukunan Alami” di Pulau Kenari [1]*

Ahad, 17 November 2019 - 09:00 WIB

Kekayaan bawah laut Alor dikenal tak kalah dengan Raja Ampat di Papua dan
Pulau Karibia di Amerika.


MUH. ABDUS SYAKUR/HIDAYATULLAH.COM

*Keindahan pesisir pantai di Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor,
Nusa Tenggara Timur (14/08/2019).*
*“**NGEK*… Ngek… Ngek!”

Bunyi itu keluar dari bagian bawah, saat roda armada besar ini sedang
berbelok arah di lintasan. Perasaanku jadi kurang enak mendengar suara
seperti besi berderit itu. Bukan apa-apa. Ini pesawat yang akan lepas
landas.

Ya! Itu salah satu kesan yang kurasakan saat hendak terbang ke Pulau Alor,
Nusa Tenggara Timur, 6 hari jelang HUT ke-74 RI. Perjalanan ke Alor yang
pertama kalinya kulalui ini cukup melelahkan dan menegangkan. Bahkan
jantungku sempat “mau copot”.

Dari Bandara Internasional Soekarno – Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten,
aku dan seorang staf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
Kementerian Agama, Syamsuddin, terbang bersama ratusan penumpang lainnya
dengan pesawat komersial swasta.

Burung besi bermotif batik itu *take off* sekitar pukul 02.39 WIB, Senin
(12/08/2019) dinihari. Setelah mengudara selama 2 jam lebih, kami tiba di
Bandara Internasional El-Tari Kupang, NTT, sekitar pukul 06.13 WITA. Cukup
tepat waktu.

Langit Kota Kupang begitu cerah, pemandangan dari udara ke bawah jernihnya
kebangetan. Kontras dengan langit Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur yang
begitu berkabut saat dilihat dari udara di siang hari.

Musim kemarau di Kupang langsung menyambut. Sejauh mata memandang, suasana
kota ini terlihat cukup gersang, rerumputan dan pepohonan mengering. NTT
dikenal sebagai daerah yang kaya dengan cahaya matahari.

Keluar dari pesawat, angin berhembus cukup dingin. Suhu tercatat 24 derajat
celsius. Pertama kali melihat Bandara Kupang, aku agak terkejut. Bentuk
bangunan bandaranya terlihat unik. Pada bagian atap bangunan, hanya
terlihat rangka-rangka, mungkin arsitektur khas daerah setempat, pikirku.
Tapi ternyata, bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I ini sedang
diperluas.

Menurut jadwal, transit di Kupang dua jam lebih. Belum beberapa lama duduk,
tiba-tiba Syam mengabarkan. “Di Alor *abis* gempa?” ujarnya, info dari
media *online*.

“Hah, kapan?”

“Kemarin!”

“Berapa skala *richter*?”

“3,3”

“Oh kecil. Semoga enggak ada gempa lagi.” Tapi bukan ini yang bikin aku “
*sport* jantung”.

Sebagai bandar udara berkelas dunia, Bandara Kupang cukup diramaikan
wisatawan lokal dan mancanegara. Wajah-wajah bule banyak hilir mudik.





Di depan kursi kami, datang lima orang bule sekeluarga. Mereka sedang
transit untuk melanjutkan penerbangan ke salah satu destinasi wisata di NTT..

Dalam dialog singkat kami dengan bahasa Inggris ala kadarnya, kepala
keluarga bule itu mengaku sudah biasa keliling Indonesia. Seperti ke Jawa
dan tujuan wisata lainnya.

“Indonesia, *good*!” pujinya. Ia pun terkesima dengan keindahan NTT.

Singkat cerita, petugas bandara menyampaikan pengumuman lewat pengeras
suara bahwa penerbangan pesawat dari Kupang ke Alor ditunda hingga pukul
10.30 waktu setempat karena alasan operasional.

Pengumuman itu lantas disambut keluhan banyak penumpang yang hendak
menumpang pesawat itu. “Yaaaaah!”. Kami mencoba bersabar, pasti ada
hikmahnya. Betul saja. Pihak maskapai, sesuai undang-undang penerbangan
yang berlaku, memberikan ganti rugi atas keterlambatan itu berupa sekotak
makanan berat dan segelas air minum kepada setiap calon penumpangnya.

*Alhamdulillah!*

Hingga kemudian, kurang lebih pukul 10.38 WITA, kami sudah di pesawat untuk
bersiap-siap *take off* ke Alor. Jantungku pun mulai “senam”.

Baca juga: Sulitnya Merokok di Negeri Gajah Putih
<https://www.hidayatullah.com/feature/kisah-perjalanan/read/2019/07/20/167803/sulitnya-merokok-di-negeri-gajah-putih.html>

*Ketegangan Campur Kenikmatan*

Setelah “insiden” pesawat berbunyi “ngek-ngek-ngek” sebelum lepas landas,
aku meningkatkan kewaspadaan dengan doa-doa di tengah rasa cemas yang
menghampiri sebagai seorang manusia.

Mohon dimaklumi. Ini adalah penerbangan perdanaku bersama pesawat model ATR
72-600 begini; baling-balingnya terletak di luar pada kedua sisi sayap.
Maskapai ini masih satu grup dengan pesawat yang membawa kami dari
Cengkareng ke Kupang tadi.

Pesawat jenis ATR pernah ditumpangi oleh dai kondang Ustadz Abdul Somad dan
diceritakannya secara singkat ke publik, mungkin saking terkesannya UAS
dengan pesawat itu.

“Kenapa pesawat ini panas? Karena kipasnya di luar,” tulis UAS pada 17
September 2019 mungkin berguyon sambil menggunggah foto baling-baling
pesawat itu di Instagramnya.

Ceritaku tentang pesawat ini berbeda lagi. Saat pesawat mulai mengudara,
kurasakan goyangannya yang begitu kuat. Burung besi ini bak layangan yang
ditiup angin kencang. Kutahan napas dalam-dalam berkali-kali, semari
menguatkan sabuk pengaman, lalu memijakkan kuat-kuat kaki ke lantai.
Betul-betul deg-degan deh.

Di bawah, liukan sungai-sungai yang mengering dan bukit-bukit berbatu
terlihat cukup indah, bercampur kengerian karena setiap saat bisa saja
menjadi landasan darurat jika pesawat ini… ah, kubuang jauh-jauh perasaan
buruk itu dengan memperbanyak zikir. Penerbangan selama sekitar 45 menit
itu pun kulalui dengan perasaan *nervous* luar biasa, nyaris pingsan
rasanya.





Foto udara dalam penerbangan dari Kupang ke Alor, NTT (12/08/2019).
*[Foto: **Muh. Abdus Syakur**/**hidayatullah.com
<https://www.hidayatullah.com/>**]*

Asyiknya, ketegangan di udara bercampur kenikmatan tatkala melintasi laut
biru begitu indah mempesona mata.

Yang membuatku heran, Syam yang duduk di samping dan para penumpang lainnya
terlihat tenang-tenang saja, memang mungkin sudah terbiasa.

Pesawat mendarat di Bandara Mali Alor sekitar pukul 11.29 WITA. Bandara
yang merupakan satu-satunya akses udara ke Pulau Alor ini cukup kecil,
dikelola oleh Ditjen Perhubungan Udara Kantor UPBU Kelas III Mali, Alor,
Kementerian Perhubungan. Penerbangan pertama dari Alor pada jam 9.00 WITA.
Bandara ini memang tidak buka 24 jam.

Kami dijemput mobil hotel yang telah dipesan sebelumnya. Dari bandara,
perjalanan ke hotel yang terletak di Kalabahi, ibu kota Alor, ditempuh
kurang dari 30 menit. Kecepatan mobil sekitar 40 km/jam.

Nyaris sepanjang jalan, kami melewati pesisir pantai yang begitu elok.
Sebagian dijadikan tempat wisata. Menarik keinginan untuk berenang.

Pukul 12.00 WITA, kami akhirnya tiba di hotel. Total perjalanan kami dari
Cengkareng ke Kalabahi hampir 10 jam lamanya. “Kayak ke luar negeri,” gurau
kawan di Jawa yang kuceritakan. Kekayaan bawah laut Alor dikenal tak kalah
dengan Raja Ampat di Papua dan Pulau Karibia di Amerika. Alor juga dikenal
dengan kerukunan warganya yang begitu tinggi. Seperti apa?*
*[Bersambung **KEDUA
<https://www.hidayatullah.com/feature/kisah-perjalanan/read/2019/11/17/173637/kerukunan-alami-di-pulau-kenari-2.html>*
*]* *Muh. Abdus Syakur**/**hidayatullah.com <https://www.hidayatullah.com/>*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Kirim email ke