REFLEKSI : Menurut pengamatan saya sampai saat ini (Jokowi periode ke-II) Indonesia masih terus menempatkan dirinya pada posisi ketergantung pada pihak asing. Ketergantungan pada pihak asing itu tercermin dalam bentuk pembayaran pembangunan, dimana modal asing dan utang luar negeri sangat memainkan peranan. Kecuali itu, juga tercermin dalam bentuk import dan ekspor. Bisa dipercaya bahwa industri-industri substansi ekspor tidak bisa jalan tanpa adanya dukungan kuat dari impor. Sangat disayangkan bahwa pemerintah Jokowi periode ke-II ini justru membuka Investasai Asing secara besar-besaran, tentu saja kebijakkan ini akan bisa menyababkan semakin banyak masuknya para investor asing dari negara-negara kapitalis neoliberal. Dahulu kita berjuang mengusir penjajah, tapi sekarang kita justru mengundang sekelompok penjajah baru, yaitu negara-negara Neolibiberal pimpinan imperialisme Amerika Serikat.
Harap dipahammi bahwa prinsip utama dalam kampanye neoliberal adalah pasar bebas, selain itu juga disiplin anggaran, stabilitas moneter dan relokasi produksi (industri) ke negara-negara dengan upah buruh murah, seperti yang terjadi di Indonesia, yang tercermin dalam penomena arus masuk investasi asing yang deras untuk menfaatkan buruh murah bangsa Indonesia; Yang dampaknya telah memperbesar kekuasaan pihak asing dalam sektor ekspor Indonesia. Jadi adalah merupakan suatu elusi, bahwa ekspor yang terjadi di Indonesia, terutama ekspor non migas, telah dan akan meninggalkan nilai tembah yang substansial di Indonesia. Dalam konteks ini sungguh relevan apabila kita melontarkan pertanyaan:``Espor kita siapa yang punya???``. Sampai sekarang ini saya belum yakin bahwa strategi industrialisasi Indonesia yang didasarkan atas pengembangan jenis-jenis industri yang padat teknologi, yang tentunya juga padat modal, dapat membawa Indonesia kearah perkembangan ekonomi yang adil dan makmur untuk seluruh rakyat Indonesia. Selain itu saya juga belum pecaya bahwa akumulasi human capital yang bermutu, yang juga melandasi strategi industrialisasi ini dapat meluas secara effektif sehingga dapat menimbulkan spil-overs dalam ekonomi, sehingga Indonesia dapat Mencapai Target untuk Menjadi Negara Maju 2045. Pesimisme ini didasarkan atas kenyataan bahwa sistem ekonomi Indonesia yang ekarang ini masih sangat beraroma kebijakakn ekonomi neoliberal; yang para pelakunya adalah kelompok oligarki ekonomi yang berideologi neoliberalisme, yang cengkaramannya sangat kuat dalam pemerintahan era Jokowi periode ke-II sekarang ini. Sehingga Indonesia tidak akan dapat mempunyai political will, untuk melakuan reformasi sosial yang mendasar, sebagai syarat mutlak bagi emamsipasi sosial yang masif, yang bisa menjadi dasar yang kuat untuk mengantar Indonesia Menjadi Negara Maju Tahun 2045. Mengapa harus diawali oleh reformasi sosial yang mendasar ? Menurut pengamatan saya unit-unit ekonomi yang sekarang ini,selalu melakukan kegiatan-kegiatan pencarian dan penumpukan ``rente ekonomi`` yang intensitas cengkeramannya cukup tinggi dalam realitas sosial kita; Tidak akan dapat dirangsang, untuk melakukan akumulasi human capital yang bermutu. Ini tidak akan dapat dirangsang oleh karena keberhsilan unit-unit ekonomi ini hampir sepenuhnya ditentukan oleh pemanfaatan socially unproductive human capital dengan bayaran murah, yang diatur dengan sistem upah minimum yang sangat rendah, yang tidak mencukupi kebutuhan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kesimpulan akhir:. Kebangkitan suatau bangsa adalah merupakan fungsi dari sistem sosial bangsa ini secara keseluruhan! Jika kita memang sunguh-sungguh secara iklas berkeinginan untuk Menjadi Negara Maju Tahun 2045, maka kita harus kembali ke UUD 45 naskah asli, dan seiring dengan itu GBHN perlu ditegakkan; dalam konteks ini, kita harus mempunyai political will , dan political courage dari pemerintah untuk melakukan reformasi sosial secara mendasar; dalam konteks ini yang perlu dirombak adalah struktur sosial yang pincang, yang merefleksikan dirinya dalam dialektik hubungan ekonomi yang eksploitatif, yang menghasilkan berakumulasinya apa yang disebut ``rente ekonomi``ditangan sekelompok anggota masyarakat. Reformasi sosial yang mendasar telah mendahului perkembangan ekonomi diseluruh negara-negara maju yang ada sekarang ini; dimulai dari kawasan Amerika Utara, Eropa Barat dan Timur jauh seperti Tiongkok, Jepang dan Korea selatan.. Roeslan. Von: [email protected] [mailto:[email protected]] Gesendet: Samstag, 16. November 2019 07:28 An: GELORA_In Betreff: [GELORA45] Burhan Azis: Mungkinkah Indonesia Mencapai Target Menjadi Negara Maju Tahun 2045 ? Mungkinkah Indonesia Mencapai Target Menjadi Negara Maju Tahun 2045 ? Burhan Azis Jakarta, 16 November 2019 Dalam pidato pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019-2024 tanggal 20 Oktober 2019 pada sidang Paripurna MPR RI, presiden Ir. Joko Widodo menyampaikan cita-cita kita bersama sebagai berikut: Insya Allah Indonesia telah menjadi negara maju dengan pendapatan Rp 320 juta (US $22,500, menurut kurs saat ini-penulis) per kapita per tahun. Produk Domestik Bruto Indonesia mencapai 7 triliun dollar AS dan Indonesia sudah masuk 5 besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen. "Itulah target kita bersama. Kita harus menuju ke sana", kata Presiden. Ia juga menyampaikan cara mencapai cita-cita bersama itu: pembangunan SDM; pembangunan infrastruktur; penyederhanaan regulasi; penyederhanaan birokrasi; transformasi ekonomi. Menurut pengalaman banyak negara maju, perubahan menjadi negara maju dari posisi sebagai negara berkembang ditentukan oleh transformasi ekonomi nasional ke industri manufaktur dan jasa berteknologi tinggi. Dan untuk Indonesia, Presiden Jokowi menyebutnya sebagai "bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi". Sedangkan pembangunan SDM, infrastruktur, penyederhanaan regulasi dan birokrasi merupakan cara agar selangkah demi selangkah terjadi transformasi ekonomi nasional tersebut. Penetapan cita-cita yang hendak dicapai tahun 2045 dengan PDB US$ 7 triliun dan pendapatan perkapita US$ 22,500 pertahun itu terlalu tinggi dan kemungkinan besar sulit dicapai mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia dan dunia tidaklah selalu naik, melainkan melalui jalan zig-zag naik-turun-naik lagi. Menurut data IMF, selama 10 tahun (2008-2018) GNP Indonesia meningkat 80% (dari 559 menjadi 1,005 milyar US$). Tetapi selama 10 tahun tersebut, GNP Turki merosot 7% (dari 765 menjadi 714 milyar US$). Dua hal yang sangat menentukan pendekatan Indonesia kepada cita-citanya menjadi negara maju diulang tahun ke-100 Proklamasi Kemerdekaan adalah: 1. Apakah pemerintah pengganti pemerintah Jokowi selanjutnya akan meneruskan kebijakan "bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi"? Kebijakan politik ekonomi inilah yang paling menentukan! Kebijakan ini hendaknya dapat dikokohkan oleh MPR menjadi GBHN Indonesia jangka panjang. 2. Apakah pertumbuhan ekonomi dunia lebih membaik ditahun-tahun mendatang? Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia bukanlah merupakan fakor yang menentukan. Meskipun sejak tahun 2008 terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis keuangan AS, tetapi bila kebijakan ekonomi nasional tepat, pertumbuhan ekonomi suatu negeri akan tetap maju pesat. Selama 10 tahun (2008-2018) GNP Tiongkok naik 192 % (dari 4,604 menjadi 13,457 milyar US$) dan India naik 120 % (dari 1,224 menjadi 2,690).
