Harusnya KPK gerak cepat menelusuri siapa yang menerima bayaran. Kalau betul 
ada ya tangkap saja. Atau, si pemilih menteri mestinya terusik dan perintahkan 
kapolri untuk mengungkap. 
Mosok istana cuma mengulang: "nama Jokowi dicatut!" Lalu persoalan hanyut dalam 
kegelapan seperti tempohari.
--- ilmesengero@... wrote:

Kepada siapa "calon" menteri harus dibayar?  Tentu saja yang membayar mempunyai 
harapan besar akan bisa memperoleh keuntungan dari modalnya yang ditanamkan 
pada bisnis jabatan. Hal ini  bukan baru, contohnya untuk bekerja di 
kemenetrian untuk bisa murga juga harus bayar. Bagi dulu lupa dan sekarang 
tidak ingat dan ingin mau tahu lebih dalam hendaklah ber"konsultasi dengan ex 
menteri agama Lukman Hakim Saifuddin yang telah megakui menerima oleh-oleh. 
Selain itu di ruang kerjanya di kementrian agama  oleh KPK ditemukan sejumlah 
uang.   Untuk menjadi ketua partai politik pun dilakukan hal yang sama, yaitu 
para calon ketua menabur fulus pada peserta kongres siapa menabur lebih banyak 
pasti memetik hasilnya.
https://m.jpnn.com/amp/news/konon-ada-praktik-mahar-rp-500-m-dalam-pemilihan-calon-menteri-kabinet-jokowi?__twitter_impression=true
  


Konon Ada Praktik Mahar Rp 500 M dalam Pemilihan Calon Menteri Kabinet Jokowi
Minggu, 24 November 2019 – 22:27 WIB




Kirim email ke