Apakah para atlet diadakan test keperawanan seperti untuk Polwan? Mengapa
para atlet senam ini tidak berpakaian tutup aurat?

https://www.jawapos.com/sports/30/11/2019/dituding-keluarkan-atlet-karena-tak-perawan-pelatih-membantah-keras/



*Kasus Atlet Senam Lantai Shalfa Avrila Siani*
*Dituding Keluarkan Atlet Karena Tak Perawan, Pelatih Membantah Keras*

SPORTS <https://www.jawapos.com/sports/>

30 November 2019, 18:22:32 WIB

[image: Dituding Keluarkan Atlet Karena Tak Perawan, Pelatih Membantah
Keras]*Pelatih tim nasional senam Zahari (kiri atas) bersama para atletnya
pada ajang Asian Games 2018. (Instagram/Tazsa Mira*


*JawaPos.com**-*Pelatih pelatnas artistik Indra Sibarani mengatakan sangat
heran soal pengakuan atlet muda Shalfa Avrila Siani yang tiba-tiba heboh di
seluruh Indonesia.

Sebelumnya, ibunda Shalfa, Ayu Kurniawati mengatakan bahwa anaknya
dikeluarkan dari skuad SEA Games 2019 karena dituding tidak perawan. Ayu
mengaku bahwa pelatih senam pelatnas dan Jawa Timur yang mengeluarkan
tuduhan menyakitkan tersebut.

Bahkan pada 20 November, karena sudah dalam posisi kalut, Ayu mengajak
Shalfa untuk melakukan tes keperawanan di Rumah Sakit Bhayangkara, Kediri.
Itu dilakukan karena beberapa rumah sakit di Surabaya menolak permintaan
Ayu.

Ayu Kurniawati, ibunda Shalfa Avrila bersama pengacara Imam Muklas di
Kediri. (Anwar Bahar Basalamah/Jawa Pos Radar Kediri).

Namun, menurut pengakuan Ayu, tim pelatih senam tidak menerima hasil yang
dikeluarkan RS Bhayangkara. Mereka meminta Ayu untuk melakukan tes ulang di
Rumah Sakit Petrokimia, Gresik.

Anjuran yang akhirnya ditolak oleh Ayu dan keluarga.

Indra Sibarani membantah keras pengakuan Ayu tersebut. Menurut pria yang
juga pelatih kepala senam Jawa Timur itu, kenyataan yang sesungguhnya,
tidak seperti tuduhan pesenam asal Kediri tersebut.

Indra mengatakan, pencoretan itu terjadi murni karena prestasi Shalfa yang
melorot drastis dalam kualifikasi PON yang berlangsung 1 sampai 4 November.
Dengan status sebagai atlet SEA Games, tambah Indra, seharusnya Shalfa bisa
menjadi juara pada nomor *balance beam* maupun* floor*.

Namun, kenyataannya, Shalfa malah hanya berada di peringkat ke-13 pada* balance
beam* dan nomor tujuh di nomor *floor.* Fakta ini sangat mengecewakan tim
pelatih.

“*Nggak* berprestasi, dibawa SEA Games? *Kok enake! *Kalau prestasi tinggi
*nggak* apa, tapi masuk final SEA Games saja belum tentu *kok*,” kata Indra
ketika ditemui Jawa Pos di Century Park Hotel, Manila, Filipina, kemarin
malam (29/11).

Reaksi kemarahan juga diungkapkan pelatih pelatnas artistik putri Zahari.

Zahari merupakan sosok yang selama ini melatih Shalfa dalam pemusatan
latihan nasional di GOR Petrokimia, Gresik.

Surat rekomendasi untuk mengeluarkan Shalfa ditulis sendiri oleh Zahari
pada 15 November. Setelah permohonan tersebut, PB Persani
menindaklanjutinya dengan menerbitkan surat penggantian atlet.
Keputusannya, Shalfa digantikan oleh Yogi Novia Laila Ramadhani.

Dalam surat tersebut, terdapat empat alasan yang mendasari mengapa Shalfa
akhirnya tidak masuk skuad SEA Games 2019.

Pertama, Shalfa tidak disiplin dalam istirahat. Dia juga tidak mampu
mengatur pola makan dengan baik sehingga berat badannya tak terjaga.
Shalfa, tambah Zahari, juga melanggar peraturan asrama. Ini semua bermuara
pada terjadinya penurunan performanya sebagai atlet nasional.

Tazsa Miranda adalah atlet yang digantikan oleh Shalfa Avrila Siani di
pelatnas. (Instagram/Tazsa Miranda)

“Saat PraPON saya sudah *ngomong* ke dia. Sebagai atlet pelatnas, jangan
sampai kalah dengan non-pelatnas. Ternyata penampilannya jelek. Terus
setelah itu kami punya aturan bahwa setiap atlet tidak boleh keluar malam,
tidak boleh pacaran, dan tidak boleh menginap di rumah cowok. Di situlah
dia melakukan tindakan indisipliner,” kata Zahari Jawa Pos.

Kata-kata Zahari tajam. Mimiknya keras, terlihat sangat geram.

Jika saja Shalfa bisa memperoleh medali emas saat kualifikasi PON, menurut
Zahari, tentu dia tidak dikeluarkan dari skuad SEA Games.

Masalah tidak berhenti di sana. Zahari mendapatkan laporan bahwa Shalfa
sempat izin keluar malam untuk kerja kelompok dan memakai jasa transportasi
*online.* Namun, setelah diselidiki, ternyata dia diantar jemput oleh
pacarnya.

“Lalu dia pergi ke Malang sama cowoknya. Kami *nggak* tahu apa yang dia
lakukan. Pamit juga* nggak!”* kata Zahari dengan nada tinggi.

Zahari yang juga merupakan pelatih pemusatan latihan daerah (puslatda)
Jatim itu mempertanyakan bagaimana isu soal keperawanan bisa mencuat dan
jadi konsumsi publik. Padahal itu bukan alasan utama Shalfa dikeluarkan
dari pelatnas.

“Saya emosi. Kenapa dia malah membuka soal cerita perawan, padahal kami
berupaya *membackup* biar* nggak* keluar. Itu masalah internal Jatim, tidak
ada kaitannya sama pelatnas. Dalam surat itu juga *nggak* ada kata
perawan!” ucap Zahari.

“Kami lalu kembalikan ke orang tuanya supaya anak ini selamat. Kami
*nggak* punya
tenaga lebih untuk mengawasi anak yang suka kabur malam dan pulang pagi.
Coba kalau kami pertahankan, terus terjadi sesuatu misalkan dia hamil
gimana *hayo?”* timpal Indra Sibarani.

Shalfa sendiri masuk ke pelatnas karena menggantikan Tazsa Miranda yang
mengalami cedera kaki dan harus naik ke meja operasi. Jika seandainya masuk
dalam skuad SEA Games, Shalfa sama sekali tidak ditargetkan emas.

Sebagai atlet muda berusia 18 tahun, Shalfa diberikan kesempatan untuk
memperbanyak jam terbang. Dia rencananya dipersiapkan sebagai bagian dalam
regenerasi atlet nasional.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Tyasefania Febrianti dari Manila, Filipina

Kirim email ke