Sri Mulyani sebut pola ketidakpastian global sekarang berbeda
Kamis, 5 Desember 2019 05:31 WIB
Sri Mulyani sebut pola ketidakpastian global sekarang berbeda
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di The Westin, Jakarta, Rabu
(4/12/2019). (ANTARA/AstridFaidlatulHabibah)
ketidakpastian dengan pola seperti ini menyebabkan turunnya kepercayaan
diri dunia usaha sehingga semakin berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan
bahwa saat ini ketidakpastian global terjadi dengan pola dan frekuensi
yang berbeda karena sangat cepat berubah sehingga tidak dapat
diprediksikan waktu berakhirnya.
“Berbeda kali ini polanya, pattern-nya, dan frekuensinya sama sekali
tidak pasti. Hari ini yang kita percaya bisa begini dan proyeksinya
seperti ini ternyata berubah,” katanya di Jakarta, Kamis.
Sri Mulyani menjelaskan gejolak yang disebabkan perang dagang antara
Amerika Serikat dengan China membuat sebuah ketidakpastian ekonomi
global yang biasanya bisa diestimasi oleh para pakar dan pembuat
kebijakan, namun sekarang tidak.
Tak hanya itu, kondisi politik yang tidak pasti karena Brexit Inggris
juga telah menyebabkan kondisi ekonomi dunia semakin tertekan.
*Baca juga:Sri Mulyani dorong kebijakan fiskal untuk hadapi gejolak
global
<https://www.antaranews.com/berita/1194244/sri-mulyani-dorong-kebijakan-fiskal-untuk-hadapi-gejolak-global>*
“Kita berharap akan ada deal antara AS dan China namun tiba-tiba ada
perkembangan di Hong Kong katanya agreement sama China nanti saja seusai
Pemilu 2020. Kita dihadapkan kepada situasi berharap, kecewa, berharap,
kecewa,” katanya.
Ia mengatakan ketidakpastian dengan pola seperti ini menyebabkan
turunnya kepercayaan diri dunia usaha sehingga semakin berdampak pada
pertumbuhan ekonomi dunia.
“Kalau dunia usaha ketidakpastian itu sudah biasa mereka menghadapi,
bukan sesuatu yang baru. Namun yang berbeda kali ini adalah semuanya
serba tidak pasti,” ujarnya.
Oleh sebab itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan laju
perekonomian dunia pada 2019 hanya tumbuh sebesar 3 persen atau turun
dari tahun sebelumnya yaitu 3,6 persen.
Menurut Sri Mulyani, jika ekonomi global tahun ini turun dari 3,6 persen
pada 2018 menjadi 3 persen maka resesi akan semakin dekat sebab 0,6
persen sama dengan size ekonomi Afrika Selatan.
“Kalau ekonomi dunia sudah 3 persen itu sudah dekat dengan resesi.
Biasanya negara berkembang tumbuh lebih tinggi, sekarang sudah all
across the board berarti semua negara melemah,” katanya.
*Baca juga:Wamenkeu: Pertumbuhan ekonomi 2019 akan mencapai 5,05 persen
<https://www.antaranews.com/berita/1194260/wamenkeu-pertumbuhan-ekonomi-2019-akan-mencapai-505-persen>*
Ia pun menegaskan pemerintah Indonesia terus meningkatkan kewaspadaan
terkait hal tersebut dengan mendorong kebijakan fiskal melalui
penggunaan APBN yang efektif dan efisien.
Transformasi ekonomi juga akan diwujudkan melalui penyederhanaan
birokrasi dan aturan seperti penataan 72 UU terkait investasi dengan
metode Omnibus Law sehingga tercipta ekosistem yang nyaman bagi para
investor.
“Bapak Presiden memprioritaskan bagaimana keruwetan yang disederhanakan,
reformasi birokrasi termasuk hilangkan berbagai halangan investasi,”
ujarnya.
Berbagai kebijakan pemerintah itu dilakukan untuk menjadi stimulus dalam
menjaga perekonomian Indonesia serta mencapai program Kabinet Indonesia
Maju seperti peningkatan kualitas SDM dan pembangunan infrastruktur.
“Ini yang terus kami lakukan, desain fiskal untuk dorong sektor lain.
Kami akan terus adjust kebijakan fiskal itu agar sesuai tantangan yang
kami hadapi,” tegasnya.
Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Nusarina Yuliastuti