https://suarapapua.com/2019/12/05/mendukung-papua-merdeka-aktivis-filipina-demo-kantor-kedutaan-indonesia/


Mendukung Papua Merdeka, Aktivis Filipina Demo Kantor Kedutaan Indonesia

*Penulis * *Suara Papua* <https://suarapapua.com/author/admin/>

5 Des 2019, 3:47 WP



*
<https://i1.wp.com/suarapapua.com/wp-content/uploads/2019/12/Filipina-3.jpg?fit=958%2C640&ssl=1>*Seorang
aktivis di Filipina ketika memegang poster bertuliskan menegakkan hak untuk
menentukasn nasib sendiri yang dibarengi gambar bendera Papua Barat di
depan Kantor Kedutaan Besar Indonesia di Manila, Filipina, Kamias
(3/12/2019). (Dok.IPMSDL)
*JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Kelompok progresif lokal dan internasional di
Manila. Filipina mengadakan aksi protes menyerukan kemerdekaan West Papua
yang diduduki Indonesia di depan Kantor Kedutaan Besar Indonesia di
Filipina pada 3 Desember 2019.*

Selain itu, aksi yang didukung oleh Jaringan Pendukung Papua Barat Merdeka,
Gerakan Masyarakat Adat Internasional untuk Penentuan Nasib Sendiri
(IPMSDL), Liga Internasional Perjuangan Rakyat (ILPS), dan kelompok
progresif ini mengutuk Pemerintah Indonesia atas pelanggaran HAM,
militerisasi dan perusakan lingkungan yang dilakukan di atas tanah Papua
Barat.

“Kami mengangkat Bintang Kejora di Filipina untuk menyatakan dukungan kami
terhadap perjuangan Papua Barat agar bisa menentukan nasib sendiri dan
menyerukan keadilan bagi para korban pembunuhan di luar pengadilan,
penangkapan ilegal, ancaman dan pelecehan oleh polisi, militer, dan
paramiliter di Papua Barat.

*Baca juga: **Peringati Hari Papua Merdeka, 10 Orang Ditangkap di Ternate
<https://suarapapua.com/2019/12/03/peringati-hari-papua-merdeka-10-orang-ditangkap-di-ternate/>*-
Iklan

Sementara di sini (Filipina) kita mengalami Darurat Militer de-facto secara
nasional dengan serangan kritik terhadap Pemerintahan Duterte, orang-orang
Papua juga telah berada di bawah Darurat Militer secara de-facto selama
lebih dari lima dekade,” kata Deewa Dela Cruz, Koordinator Jaringan
Pendukung Merdeka Papua Barat Filipina, sebagaimana release yang diterima
suarapapua.com, Kamis (5/12/2019).

Katanya di Indonesia, mengibarkan Bintang Kejora dianggap sebagai tindakan
subversif yang dihukum dengan hukuman penjara minimal 15 tahun. Seperti 1
Desember 1961 ketika bendera Bintang Kejora pertama kali dikibarkan di
Papua Barat menandai kemerdekaannya dari Belanda.

Para aktivis di Filipina ketika melakukan protes di depan Kantor Kedutaan
Besar Indonesia di Manila, Filipina. (Doki.IPMSDL)

Tetapi akhirnya setelah itu, Indonesia melancarkan operasi militer yang
agresif di Papua Barat dan akhirnya mencaplok negara melalui referendum
yang palsu pada tahun 1969.

“Hak orang Papua untuk menentukan nasib sendiri dirong-rong oleh penduduk
Indonesia atas Papua Barat, karena mereka terus hidup dalam ketakutan dan
dipindahkan secara paksa dari wilayah mereka, sementara Indonesia menguasai
bisnis dan dari asing, terutama di industri pertambangan dan perkebunan.
Mereka malah mendapat manfaat dari sumber daya yang kaya dari tanah Papua.

*Baca juga: **Hari Nasional Papua Barat, Bintang Kejora Dikibarkan di
Seluruh Dunia
<https://suarapapua.com/2019/12/02/hari-nasional-papua-barat-bintang-kejora-dikibarkan-di-seluruh-dunia/>*

Skenario ini tidak jauh dari apa yang kami alami, seperti Lumad, Igorot,
Aeta, dan Dumagat,” kata Beverly Longid, Koordinator Global IPMSDL
Internasional dalam aksi itu.

Lebih lanjut, banyak pasukan militer dan paramiliter negara dikerahkan di
Papua Barat, yang pada mulanya merupakan wilayah yang paling
termiliterisasi di Indonesia. Laporan telah mengaitkan hal ini dengan
tingginya jumlah pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat, karena
serangan terhadap ekspresi perbedaan pendapat, termasuk protes terhadap
tambang Grasberg yang dimiliki oleh perusahaan AS Freeport.

Tambang Grasberg adalah tambang emas terbesar kedua di dunia yang lubang
terbuka terlihat dari luar angkasa.

“Beberapa hari yang lalu, orang-orang Filipina memperingati kelahiran
pahlawan anti-kolonial Andres Bonifacio. Kami juga menghormati warisannya
dengan melanjutkan perang melawan semua bentuk penjajahan di sini dan di
luar negeri. Karena itu seruan kami untuk semua orang Filipina yang cinta
damai dan demokrasi dan bahkan kepada pejabat progresif di pemerintah,
untuk berdiri bersama Papua Barat,” kata Elmer Labog, Ketua ILPS Filipina.

September lalu, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michele
Bachelet menyatakan keprihatinannya atas pelanggaran hak asasi manusia di
Papua Barat setelah protes puluhan ribu orang Papua yang dipicu oleh
pernyataan rasis oknum aparat Indonesia kepada mahasiswa Papua.

Seorang aktivis ketika menyampaikan protesnya di Kantor Kedutaan Indonesia
di Manila, Filipina. (Dok.IPMSSDL)

Alih-alih menangani banding Papua, protes mereka disambut oleh Negara
Indonesia fasis yang mengakibatkan ratusan orang tewas, terluka, dan
ditangkap di Wamena, Jayapura, Manokwari, dan sejumlah tempat lainnya.

*Baca juga: **Bawa Bintang Kejora dalam Gereja, Empat Mahasiswa Diperiksa
Polisi
<https://suarapapua.com/2019/12/01/bawa-bintang-kejora-dalam-gereja-empat-mahasiswa-diperiksa-polisi/>*

Hingga hari ini, pasukan keamanan Indonesia yang bertanggung jawab atas
kekerasan tersebut belum dimintai pertanggungjawaban. Media internasional,
tim investigasi independen, dan bantuan kemanusiaan belum memasuki
masyarakat yang terkena dampak pemboman dan militerisasi berat karena akses
ketat yang diberlakukan oleh pemerintah.

“Tujuh hari dari sekarang, dunia akan memperingati Hari HAM Internasional.
Ini bukan hanya tentang hak-hak individu tetapi juga masyarakat dan negara,
terutama mereka yang terus-menerus terlibat dalam pertempuran melawan rezim
represif. Setiap kali hak seseorang tidak diakui, apakah Filipina, Papua
Barat atau bangsa tertindas lainnya,” kata Liza Maza, Sekretaris Jenderal
ILPS.

*Pewarta: Elisa Sekenyap*

Kirim email ke