https://khazanah.republika.co.id/berita/q24zqh320/kemenag-positif-hapus-khilafah-dan-perang-dari-kurikulum


Kemenag Positif Hapus Khilafah dan Perang dari Kurikulum

Sabtu 07 Dec 2019 16:59 WIB
[image: Materi khilafah dan jihad diganti dengan materi yang sejalan dengan
Islam wasathiyah. Foto Ilustrasi bendera HTI.]

Materi khilafah dan jihad diganti dengan materi yang sejalan dengan Islam
wasathiyah. Foto Ilustrasi bendera HTI.
Foto: Republika/Iman Firmansyah

*Materi khilafah dan perang diganti dengan materi Islam wasathiyah.*

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Seluruh materi ujian di madrasah yang
mengandung konten khilafah  <https://www.republika.co.id/tag/khilafah>dan
perang atau jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti. Hal ini
sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan
Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis
Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada
Kementerian Agama (Kemenag), Umar, menjelaskan  yang dihilangkan sebenarnya
bukan hanya materi khilafah dan perang. Setiap materi yang berbau ke
kanan-kananan atau ke kiri-kirian dihilangkan.

Dia mengatakan, setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan
kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan. "Karena kita
mengedepankan pada Islam wasathiyah," kata Umar kepada *Republika.co.id
<http://Republika.co.id>, *Sabtu (7/12).

Dia menerangkan, dulu Rasulullah mengajarkan semangat perjuangan. Tapi
semangat perjuangan dalam konteks saat ini tidak lagi model perjuangan
perang. Nanti dalam sejarah kebudayaan Islam tetap membahas Rasul pernah
berperang.

Menurut Umar, perang memang bagian dari sejarah kehidupan Rasul, tapi Rasul
tidak hanya berperang saja. "Tetapi justru yang kita ungkap banyak nanti
aspek kehidupan Rasul yang menjaga perdamaian yang madani," ujarnya.

Umar mengatakan, perjuangan Rasul membangun masyarakat madani yang
dikembangkan. Pokoknya tetap ada tentang perang tapi tidak dominan.
Sehingga tidak mengesankan Rasul hanya melakukan perang saja.

Dia menegaskan, memang Rasul pernah berperang tapi bukan hanya perang saja
yang dilakukan Rasulullah semasa hidupnya. "Rasul pernah berperang iya,
tetapi Rasul bukan hanya berperang saja, dan kalau Rasul berperang bukan
berarti Islam didakwahkan dengan cara keras," jelasnya.

Umar menyampaikan bahwa yang ingin dikedepankan oleh Kemenag adalah Rasul
yang membangun masyarakat madani. Supaya dapat dipahami pentingnya menjaga
perdamaian dan toleransi. Sebab Rasul dengan umat-umat agama lain juga
toleransi.

Dia menambahkan, semua buku-buku ajar di MI, MTs, dan MA berorientasi pada
penguatan karakter, ideologi Pancasila, dan anti korupsi. Paling utama
mengajarkan Islam wasathiyah.

"Jadi kita ini menyiapkan generasi yang akan datang generasi yang
betul-betul bisa menjaga perdamaian, persatuan dan toleransi demi keutuhan
NKRI dan kejayaan Islam di Indonesia," jelasnya.

Umar mengingatkan, di Indonesia khilafah ditolak, maka tidak mungkin
mengajarkan materi yang konteksnya membangun khilafah yang bertentangan
dengan Indonesia.

"Apakah kemudian pemerintahan Islam (khilafah)* enggak* diajarkan? Ya tentu
nanti ada porsi (pelajaran tentang) membangun peradaban dan pemerintahan,
tapi yang sesuai dengan negara kita Indonesia," jelasnya.

Menurut dia, anak-anak diajari bagaimana pandangan Islam terhadap membangun
negara dan pemerintahan. Jadi perspektifnya beda dengan khilafah yang
dimaksud oleh pihak-pihak yang ingin mendirikan khilafah di negara
Pancasila.

Dia menegaskan, pihaknya tidak akan menghilangkan fakta-fakta sejarah
Islam. "Tapi pendekatan dan metodologinya yang kita ubah, supaya anak-anak
enggak sampai lupa sejarah, dan enggak boleh melupakan sejarah," jelasnya.

Kemenag ingin memberikan bekal kepada para siswa supaya melek informasi
tentang negara. Supaya anak-anak tahu membela negara ini hukumnya fardu
ain. Tapi membela yang mengedepankan asas pemerintahan yang Pancasila,
meneguhkan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Kirim email ke