-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/275735-tantangan-ekonomi-rakyat


Kamis 05 Desember 2019, 05:40 WIB

Tantangan Ekonomi Rakyat

Marbawi A Katon Ketua Umum Gerakan Nasionalis Kebangsaan Rakyat Indonesia 
(GNKRI) | Opini
 
Tantangan Ekonomi Rakyat

Ilustrasi
Opini

KEBERHASILAN memajukan perekonomian rakyat telah ditunjukkan koperasi-koperasi 
di banyak negara. Retail terbesar di Singapura, NTUC Fairprice, ialah koperasi 
konsumen. Sebesar 80% listrik di wilayah perdesaan di AS disediakan koperasi. 
Sekitar 90 juta dari 235 juta warga AS menjadi anggota koperasi, dengan nilai 
bisnis total lebih dari US$73 miliar.

Koperasi bahkan menyelamatkan perekonomian rakyat AS sewaktu terjadi resesi 
dunia pada 1930 dan memperkuat ekonomi pasca-Perang Dunia II. Di wilayah 
perdesaan negara tersebut, koperasi-koperasi pertanian membantu para petani 
bertahan dari depresi ekonomi. Sementara itu, di kota-kota, koperasi membantu 
membangun kembali perumahan rakyat yang hancur semasa perang.

Demikian pula di Kanada, 40% warganya ialah anggota koperasi dengan nilai 
bisnis lebih dari US$45 miliar. Dari Kanada pulalah lahir Credit Union, 
koperasi kredit terbesar di dunia saat ini. Sebanyak 3/4 produk susu yang 
dikonsumsi dunia berasal dari koperasi peternak sapi perah di Australia dan 
Selandia Baru. Di Jepang dan negara-negara Skandinavia, tidak ada usaha di 
sektor pertanian yang tidak dikelola koperasi.

Anak-anak di daerah perdesaan Kolombia belajar mengenal komputer di sekolah 
yang didirikan koperasi-koperasi. Keluarga-keluarga di Swedia tinggal di 
rumah-rumah nyaman yang dibangun koperasi perumahan. Di Jerman, masyarakat 
biasa membeli barang kebutuhan sehari-hari di toko-toko milik koperasi. Di 
Inggris, Co-operative Insurance Service menjadi salah satu perusahaan asuransi 
terbesar di sana. Di Belanda, masyarakat menabung di bank-bank milik koperasi. 
Rabobank milik koperasi petani bahkan sanggup mendirikan cabang-cabangnya di 
banyak negara.

Mati suri

Di Indonesia, koperasi identik dengan ketidakberdayaan. Ada memang koperasi 
yang tetap bertahan, tapi kecil sekali persentasenya jika dibandingkan dengan 
yang mati suri. Koperasi peternak sapi perah, misalnya, ialah segelintir 
koperasi yang mampu survive. Sebagian besar koperasi yang masih beroperasi saat 
ini ialah koperasi simpan pinjam.

Zaman Orde Lama, koperasi dijadikan alat politik pemerintah untuk menyukseskan 
Nasakomisasi. Di masa Orde Baru, pemerintah menggunakan koperasi sebagai 'alat 
pembangunan'. Di mana-mana koperasi didirikan, tapi secara top-down. 
Bertentangan betul dengan karakter asli koperasi yang berwatak otonom.

Manfaat koperasi disebut-sebut hanya dinikmati pengurusnya saja. Maka itu, 
muncul istilah-istilah untuk meledek koperasi. Ada KUD atau ketua untung 
duluan. Ada 'koperasi merpati' yang diibaratkan seperti merpati yang akan 
mendekat jika di tangan kita ada jagung makanan kesukaannya. Ini sindiran untuk 
koperasi yang 'aktif' kembali ketika ada proyek pemerintah yang berkaitan 
dengan koperasi. Ada pula 'koperasi pedati'. Ibarat pedati, koperasi itu hanya 
akan berjalan jika ada kuda yang menarik-nariknya.

Menteri-menteri ekonomi zaman Pak Harto terkenal kompak nyinyir kepada 
koperasi. Salah seorang menteri sampai menyebut koperasi 'cursed to be small'. 
Maka itu, cocoklah jika Departemen Koperasi diubah menjadi 
Departemen/Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Padahal, 
koperasi itu badan usaha, sedangkan UKM ialah skala usaha. Akan tetapi, karena 
sudah 'dikutuk' tidak pernah bisa menjadi besar, tidak mengapa koperasi selalu 
disandingkan dengan istilah UKM.

Akhir-akhir ini jika mendengar koperasi disebut, masyarakat banyak 
mengaitkannya dengan praktik bank gelap dan rentenir. Menurut berita, banyak 
bank gelap dan rentenir itu menggunakan badan hukum koperasi dalam operasinya.

Nurdin Halid, Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) yang merupakan 
organisasi payung seluruh koperasi di Indonesia, ialah bekas terpidana kasus 
korupsi minyak goreng yang merugikan negara Rp160 miliar. Ia melakukan korupsi 
dalam kedudukannya sebagai Ketua Umum Koperasi Distribusi Indonesia. Pada 
Oktober 2019, Nurdin terpilih menjadi Ketua Dekopin untuk keempat kalinya.

Dikutip dari website resmi Dekopin, Nurdin Halid menyatakan Dekopin konsisten 
memperjuangkan aspirasi gerakan koperasi melalui tiga kegiatan utama, yaitu 
advokasi, fasilitasi, dan edukasi. Bahkan, pada 2045 Nurdin memimpikan koperasi 
bisa menjadi pilar negara.

Masih Oktober 2019, pemerintah berencana membubarkan 40 ribu lebih koperasi. 
Menteri Koperasi Teten Masduki menyebut koperasi sudah jadul bukan main. Maka 
itu, katanya, generasi milenial harus mengubah koperasi ke arah digitalisasi.

Teknologi digital kenyataannya memang bisa menjadi alat koperasi mewujudkan 
jati dirinya sebagai lembaga yang bertujuan memenuhi kebutuhan ekonomi bersama. 
Semua tukang ojek, misalnya, punya kebutuhan ekonomi yang sama, yaitu bagaimana 
mendapat semakin banyak penumpang sehingga pendapatan mereka pun meningkat. 
Teknologi digital terbukti hadir menjawab harapan tukang ojek itu. Namun, 
melalui seorang pemuda bernama Nadiem Makarim, bukan melalui Dekopin.

Dalam suatu forum pelatihan kepemimpinan untuk mahasiswa baru-baru ini, penulis 
bertanya kepada peserta apakah mereka pernah mendengar istilah koperasi. 
Beberapa di antara mereka menjawab pernah mendengar. Penulis kemudian bertanya 
lagi apa yang mereka tahu tentang koperasi. Semuanya hening dan tidak ada yang 
mampu menjawab. "Saya tidak jemu-jemunya mengingatkan," terlintas ucapan Bung 
Hatta di tengah keheningan itu, "bahwa koperasi adalah satu-satunya bangun 
ekonomi yang sesuai betul dengan semangat UUD kita".

Sayup-sayup ucapan Bung Hatta itu memudar. Digantikan wajah bingung para 
mahasiswa mendengar penjelasan penulis betapa pentingnya mereka mau berkoperasi.






Kirim email ke