http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/10919/luhut__pabrik_baterai_litium_beroperasi_2023
*Luhut: Pabrik Baterai Litium Beroperasi 2023* Selasa , 10 Desember 2019 | 18:51 JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa pada 2023 pabrik baterai litium sudah harus beroperasi dan berproduksi. "Saya mau 2023. Mereka (investor) bilang 2025. Saya mau 2023, soal izin urusan saya. Kalau kita terima-terima saja nanti 2025 berubah lagi, pejabat baru lagi, tidak jadi itu barang," katanya di Jakarta, Selasa. Luhut menjelaskan saat ini pemerintah terus mengejar agar produksi baterai bisa berjalan pada 2023. Sejumlah perusahaan di Morowali dan Weda Bay juga diharapkan bisa membangun fasilitas pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). "Baterai ini kita harap tahun 2023 semua sudah masuk. Dan itu akan berdampak luar biasa ke ekspor kita sehingga current account deficit kita yang 31 miliar dolar itu akan bisa diatasi," imbuhnya. Luhut memaparkan strategi pemerintah untuk mengatasi defisit transaksi berjalan, yakni dengan mendorong peningkatan ekspor. Selain ekspor, pemanfaatan minyak kelapa sawit melalui program B20, B30 serta sektor pariwisata juga akan dapat mengatasi masalah tersebut. Kembali soal pabrik baterai, Luhut menambahkan, pabrik baterai litium itu tengah dipertimbangkan untuk bisa dibangun di Patimban, Jawa Barat, dengan pertimbangan teknis lebih dekat ke fasilitas produksi otomotif. "Tapi katodenya pasti di Morowali," ujarnya. Jika urusan analisis dampak lingkungan rampung, konstruksi pabrik yang memakan waktu 18 bulan hingga dua tahun diharapkan bisa segera dikejar. Berdasarkan US Geological Survey, Indonesia disebut memiliki cadangan nikel hingga 21 juta ton, tertinggi di antara negara lain seperti Australia, Brasil dan Rusia. Nikel sendiri jadi bahan baku utama dalam katode baterai untuk kendaraan listrik. *(E-3/ant)* ++++++. http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/10918/luhut_sebut_investasi_uea_masuk_tahap_finalisasi *Luhut Sebut Investasi UEA Masuk Tahap Finalisasi* Selasa , 10 Desember 2019 | 18:41 JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan akan melakukan kunjungan kerja ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Minggu (15/12/2019), untuk memfinalisasi sejumlah proyek investasi dengan negara Timur Tengah tersebut. Proyek-proyek tersebut nantinya akan ditandatangani oleh para pemangku kepentingan dan disaksikan langsung oleh Presiden Jokowi serta Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan pada Januari 2020. "Nanti tanggal 15 Desember saya akan ke Abu Dhabi, itu untuk mempersiapkan atau finalisasi proyek-proyek yang akan ditandatangani, disaksikan oleh Presiden RI dan Prince Mohamed Bin Zayed pada Januari nanti," katanya di Jakarta, Selasa (10/12/2019). Proyek yang akan ditandatangani itu antara lain proyek-proyek Pertamina di Balikpapan, Gresik dan Cilacap. Pembahasan terakhir terkait teknis mengenai rincian investasinya juga masih dibahas bersama jajaran BUMN tersebut. Selain sepakat untuk investasi di sektor migas, UEA dan Indonesia juga akan bekerja sama di bidang pendidikan, investasi di sektor pertanian di Kalimantan Tengah serta pembangunan masjid di Solo. Terakhir, kedua negara juga sepakat untuk membentuk sovereign wealth fund atau wadah dana investasi dari berbagai negara, termasuk dari UEA. "Bu Menteri Keuangan sudah terlibat. Menurut Bu Ani (Menkeu) dan Menko Perekonomian (Airlangga Hartarto) tidak perlu ada UU baru mengenai sovereign wealth fund. Dengan begitu, prosesnya akan segera bisa terbit," pungkasnya. Pada 13 Januari 2020 mendatang, Presiden Jokowi diundang Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan untuk hadir pada acara Zayed Sustainability Prize dan menyampaikan pidato kunci pada upacara pembukaan Abu Dhabi Sustanability Week di Abu Dhabi. *(E-3/ant)*
