Ahok dijadikan tukang pukul memberantas mafia Migas? Dari mula berdirinya
NKRI tidak ada tukang hantam mafia Migas, pada hal rezim neo-Mojopahit
saling berganti. Mafia Migas etc tetap hidup jaya,jadi agaknya tidak keliru
kalau dibilang bahwa mafia itu adalah anggota rezim, maka oleh sebab itu
mereka bisa hidup nan jaya. Mengapa tidak kasi kepada perwira-perwira TNI
yang suka tunjuk otot dan mulut besar anti itu ini untuk memberantas mafia
Migas dan konco bin sahabatnya di bidang-bidang lain?


https://www.cnbcindonesia.com/news/20191211093344-4-122083/jokowi-minta-ahok-berantas-mafia-migas-siapa-sih-mafianya


*Jokowi Minta Ahok Berantas Mafia Migas, Siapa Sih Mafianya?*

NEWS - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia


11 December 2019 09:44

*Jakarta, CNBC Indonesia-* Berkali-kali Presiden Joko Widodo menyinggung
soal masalah pelik yang membuat RI terus defisit, yakni impor minyak yang
terus membengkak. Jokowi meyakini soal impor minyak ini tak lepas dari *masih
adanya mafia migas.* <https://www.cnbcindonesia.com/tag/petral>

Menurutnya, itu menjadi salah satu alasannya menempatkan Basuki Tjahaja
Purnama atau Ahok di perusahaan tersebut.
Baca:

*Jokowi Perintahkan Ahok Sikat Habis Mafia Migas!*
<https://www.cnbcindonesia.com/news/20191210112501-4-121789/jokowi-perintahkan-ahok-sikat-habis-mafia-migas>


Ini disampaikan Jokowi kepada wartawan usai menghadiri Rapat Koordinasi
Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah dan Silahturahmi Nasional
Bank Wakaf Mikro di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

"Iya larinya ke situ," ujarnya menjelaskan inti pertemuan dengan Ahok dan
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati di Kompleks Istana Kepresidenan,
Jakarta, Senin (9/12/2019).

Sebelumnya, Jokowi juga menyinggung oknum-oknum 'pengganggu'ini. Akhir
November lalu, Jokowi menegaskan tak segan akan menggigit mereka yang
menghalangi Indonesia kurangi impor minyak.

"Saya tahu yang impor siapa sekarang. Kalau ada yang mau ganggu pasti akan
saya gigit orang itu. Enggak akan selesai kalau masalah ini tidak kita
selesaikan," tegas Jokowi.

Jokowi berjanji akan memberantas para penyuka impor migas. Jokowi
menyinggung soal masih ramainya impor minyak dan LPG. "Ada yang senang
impor tapi tidak mau diganggu impornya. Baik itu minyak maupun LPG. Ini
yang akan saya ganggu," kata Jokowi.
Baca:

*Jokowi Minta Ahok Basmi Mafia Migas, Faktanya Berat Pak!*
<https://www.cnbcindonesia.com/news/20191210140011-4-121861/jokowi-minta-ahok-basmi-mafia-migas-faktanya-berat-pak>




*Siapa sih Mafia yang dimaksud oleh Jokowi?*

Kata Mafia migas sendiri mulai naik daun begitu Jokowi dilantik menjadi
Presiden pada 2014 lalu. Lewat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) Sudirman Said pada saat itu, pemerintah membentuk Tim Tata Kelola
dan Reformasi Migas yang digawangi oleh ekonom Faisal Basri.

Sejumlah pakar dan profesional bekerja di tim tersebut, lalu pelan-pelan
menguak soal praktik mafia migas di tubuh BUMN terbesar RI yakni PT
Pertamina (Persero). Sumber kekacauan, saat itu menurut Faisal, ada di anak
usaha Pertamina yang bergerak di jual beli impor minyak yakni Petral.

Mengutip laporan Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang dirilis 2015 lalu,
berikut adalah riwayat lahirnya Petral:

Pada 1969, Pertamina dan satu "interest group" Amerika Serikat mendirikan
Perta Group dengan tujuan memasarkan minyak mentah dan produk minyak
Pertamina di pasar Amerika Serikat. Perta Group-yang memulai kegiatan
perdagangan minyak.

Pada September 1998, Pertamina mengambil alih seluruh saham Perta Group.
Pada Maret 2001, atas persetujuan pemegang saham, perusahaan berubah nama
menjadi Pertamina Energy Trading Limited (PETRAL) yang berperan sebagai
trading and marketing arm Pertamina di pasar internasional.

Petral mendirikan anak perusahaan berbadan hukum dan berkedudukan di
Singapura bernama Pertamina Energy Services Pte Limited (PES) pada 1992
yang dibebani tugas melakukan perdagangan minyak mentah, produk minyak, dan
petrokimia.

Pembentukan dan operasional Perta Group pada awalnya lebih diarahkan untuk
pemasaran minyak bumi mengingat di masa itu Indonesia merupakan pengekspor
neto (net exporter) minyak bumi dan masih menjadi anggota OPEC.

Peran Petral kemudian semakin menjadi-jadi begitu Indonesia menjadi net
importir.

Perta Group yang kemudian diubah namanya menjadi Petral dengan PES sebagai
anak perusahaannya tetap hanya sebagai trading arms dengan tambahan fungsi
sebagai "agen pengadaan" minyak bumi dan BBM. Mengingat kebutuhan BBM
Indonesia yang relatif sangat besar dan PES merupakan satu-satunya pihak
yang ditunjuk sebagai penjual dan pembeli minyak mentah dan BBM, volume
usaha PES semakin membesar.
Baca:

*Jokowi Mau Ganggu Orang yang Bikin RI Doyan Impor Migas*
<https://www.cnbcindonesia.com/news/20191129132937-4-119052/jokowi-mau-ganggu-orang-yang-bikin-ri-doyan-impor-migas>

Kirim email ke