https://nasional.republika.co.id/berita/q2nm1f377/penyesalan-wanita-bandung-menikah-dengan-pria-wna-cina



Penyesalan Wanita Bandung Menikah dengan Pria WNA Cina

Selasa 17 Des 2019 18:17 WIB

Red: Teguh Fir[image: Pernikahan (ilustrasi)]

Pernikahan (ilustrasi)
Foto: Prayogi/Republika
*Faktor ekonomi membuat wanita-wanita itu mau dibujuk cukong untuk menikahi
WNA China.*

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- "Tahu begini, dibayar Rp1 miliar pun saya
'ogah'!" ucap seorang pengantin pesanan sambil duduk di lantai aula
Kedutaan Besar RI di Beijing.

Perempuan yang mengaku asal Bandung, Jawa Barat, itu sangat menyesal
bersuamikan warga negara China. Ia mengaku pernikahan itu adalah musibah.

"Ini musibah. Waktu kenalan dulu, saya kira dia cowok baik-baik," ujar
cewek berperawakan agak tinggi itu yang enggan menyebutkan jati diri
aslinya saat berbincang dengan *Antara* Beijing belum lama ini.

Dibandingkan dengan 20 orang perempuan senasib lainnya yang sama-sama
terdampar di sudut ruang serba guna KBRI Beijing, dia lebih emosional saat
mengisahkan perjalanan hidupnya hingga harus tinggal di perdesaan wilayah
perbatasan Beijing-Hebei itu.

"Jangankan bermimpi, membayangkan tinggal di sini pun tidak pernah," ujar
perempuan lainnya penghuni *shelter dadakan* itu yang mengaku berasal dari
Indramayu, Jawa Barat.

Namun para perempuan berusia 18 sampai 30 tahun itu sepakat bahwa apa yang
mereka alami dipicu faktor keadaan ekonomi. Uanglah yang membuat mereka
terlena oleh bujuk rayu gerombolan para cukong yang bekerja sangat rapi
mulai dari hulu hingga hilir.

Kalau dulu korban pernikahan pesanan didominasi dari Singkawang, Kalimantan
Barat, sekarang sudah menyebar hingga Pulau Jawa. Mereka laksana komoditas
ekspor yang menguntungkan cukong-cukong yang memang menguasai seluk-beluk
bisnis tersebut.

Pernikahan tersebut tidak bisa begitu saja dibilang ilegal. Pasalnya di
antara pasangan mengantongi dokumen-dokumen pernikahan yang lengkap,
termasuk cap stempel mulai dari tingkat desa/kelurahan hingga
kabupaten/kota, di Indonesia.

Memang tidak ada yang bisa menjamin, apakah cap tersebut asli atau palsu.
Demikian pula dengan keabsahan dokumen-dokumen tersebut, siapalah yang
peduli.

Dengan berbekal dokumen tersebut, maka perempuan yang telah menikah dengan
pria berkewarganegaraan China bisa mengurus visa.

Sederhananya, begitu ada surat nikah dan persyaratan lain yang dilegalisasi
pemerintah daerah, maka persyaratan permohonan visa China sudah bisa
diproses.

Tentu untuk mendapatkan dokumen-dokumen tersebut butuh biaya yang tidak
sedikit. Maka tidak heran, jika para cukong mematok harga hingga ratusan
juta rupiah kepada para kliennya di China yang ingin menikahi perempuan
dari berbagai daerah di Indonesia itu.

Ada yang menyebutkan angkanya Rp300 juta hingga Rp400 juta untuk seorang
perempuan Indonesia yang bersedia dinikahi dan diboyong ke negeri Tirai
Bambu itu.

Nilai itu, bagi orang China tidaklah besar, mungkin hanya sekitar 150 ribu
hingga 200 ribu yuan. Bagi petani yang tinggal di perdesaan bisalah
mengumpulkan uang segitu tidak sampai setahun.

"Bandingkan dengan biaya resepsi pernikahan di Beijing saja yang bisa
mencapai 1 juta yuan (sekitar Rp2 miliar)," ujar Wang Chen, pria lajang
yang tinggal di Distrik Huairou, Beijing.

Mengingat besarnya biaya pernikahan tersebut, tidak heran kalau angka
pernikahan di China sangat rendah, yakni berkisar antara 7 hingga 10 persen
pada angkatan usia nikah.

"Belum lagi kalau nanti ada ketidakcocokan yang berakhir dengan perceraian,
maka betapa sia-sianya biaya sebesar itu," katanya dalam obrolan santai
dengan Antara beberapa waktu lalu.

Kaum perempuan di China, khususnya yang tinggal di kota-kota besar, tidak
mudah memutuskan untuk menikah dengan pria. Apalagi yang dianggapnya belum
begitu mapan secara ekonomi.

Selain mahalnya biaya resepsi, rata-rata perempuan di China mengajukan
syarat kepemilikan rumah pribadi kepada calon pasangannya.

Syarat tersebut tentu sangat berat lantaran harga rumah di China terus
membubung tinggi. Bahkan di wilayah lingkar luar di Beijing saja, harga
jual rumah susun sudah mencapai 250 ribu yuan atau Rp500 juta per meter
persegi.

Kalau untuk rumah minimalis berukuran 50 meter persegi, sudah berapa duit
yang harus dikeluarkan. Maka, bukan hal aneh kalau ada mantan pasangan
suami-istri di China yang masih tetap tinggal serumah lantaran belum ketemu
angka pembagi gono-gini pascaperceraian.

*Lebih Murah*

Nah, berangkat dari fenomena itu tentu menikah dengan orang Indonesia yang
tarifnya Rp300 hingga 400 juta lebih mudah dan lebih murah bukan?

"Saya mau diajak menikah karena dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi,"
kata seorang perempuan yang melarikan diri dari rumah suaminya di pinggiran
Kota Shijiazhuang, Provinsi Hebei, itu.

Sesampainya di rumah keluarga suami, dia dipekerjakan di ladang dan tidak
mendapatkan upah seperti bayangan sebelumnya.

Beberapa di antara perempuan tersebut ada yang melarikan diri ke KBRI
Beijing dengan menumpang truk ratusan kilometer dari Provinsi Henan. "Bagi
kami di sini lebih terlindungi daripada tinggal di rumah suami," tutur
seorang perempuan lainnya sambil berlalu.

Juni-Agustus 2019 merupakan periode paling banyak perempuan pelarian yang
meminta perlindungan di KBRI Beijing.

Saking banyaknya, sampai-sampai salah satu sudut ruang serba guna di lantai
dua yang biasa digunakan untuk pertemuan disulap menjadi penampungan
sementara.

Tidak mudah untuk memulangkan mereka, karena para suami melaporkan
kehilangan istri kepada kepolisian setempat.

Bahkan tidak jarang para suami mondar-mandir di depan pagar utama KBRI
Beijing sambil berteriak memanggil-manggil nama istrinya untuk diajak
pulang.

Tak peduli, sang istri yang berada di dalam area tertutup KBRI mendengar
teriakan itu atau tidak. Apalagi semua kantor perwakilan asing di Beijing,
termasuk KBRI standar pengamanannya ganda, di pagar bagian luar dijaga
aparat kepolisian setempat, sedangkan di pos pintu masuk ada staf lokal
yang bertugas.

Jangan harap siapa pun bisa memasuki area KBRI Beijing jika tidak membawa
kartu identitas dan tidak jelas arah tujuannya. "Sebenarnya yang bisa
menyelesaikan masalah ini adalah kedua belah pihak, suami atau istri," kata
Koordinator Fungsi Protokol dan Kekonsuleran KBRI Beijing Ichsan Firdaus.

Bagi KBRI perlindungan WNI adalah hal yang sangat penting. Tapi bukan
berarti mudah memulangkan para korban itu ke Tanah Air karena tentu saja
pihak suami sangat keberatan jika harus menceraikan istri yang diboyongnya
dari Indonesia dengan uang tebusan Rp300 juta hingga Rp400 juta itu.

Peristiwa berlarut-larut dan berulang-ulang tersebut hanya dapat
diselesaikan di tingkat menteri kedua negara.

Pertemuan bilateral Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi dengan
rekannya di China Wang Yi menjadi jalan tersendiri bagi para korban
pengantin pesanan itu.

Setidaknya sudut sempit aula KBRI Beijing yang sempat dihuni 22 orang
korban perkawinan pesanan kini telah berfungsi seperti sedia kala sebagai
ruang pertemuan para WNI dan kegiatan lainnya.

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang jumlahnya hanya belasan, tahun
ini jumlah korban perkawinan pesanan memang lebih banyak. Bahkan sampai
Oktober 2019 KBRI Beijing telah memulangkan 36 pengantin pesanan.

"Sekarang tersisa dua orang di 'shelter'. Mudah-mudahan dalam pekan ini
sudah bisa dipulangkan," kata Ichsan ditemui di sela-sela Sosialisasi
Peraturan Kewarganegaraan kepada Masyarakat Indonesia di aula KBRI Beijing,
Ahad (15/12) malam.

Kirim email ke