Video Viral Istri Aniaya Suami, Pakar Ingatkan Kenali Emosi Diri
Reporter:
Eka Wahyu Pramita
Editor:
Yunia Pratiwi
Jumat, 20 Desember 2019 09:00 WIB
Cuplikan video viral KDRT istri memukuli suaminya yang tengah
sakit.Cuplikan video viral KDRT istri memukuli suaminya yang tengah sakit.
*TEMPO.CO, Jakarta -*Sebuah *video viral
<https://www.tempo.co/tag/video-viral>* menunjukkan penganiayaan oleh
seorang istri kepada suaminya yang
diunggah akun Instagram @tante.officialy, pada Selasa 17 Desember
2019. Dalam video berdurasi 2 menit 14 detik itu terlihat sang istri
memukul suaminya yang mengalami stroke menggunakan tongkat berjalan.
Sang suami nampak susah berbicara dengan lancar, terlihat juga darah
keluar dari bagian wajahnya. Pihak berwenang menduga kalau sang istri
diduga mengalami gangguan jiwa dan sedang menjalani pemeriksaan selama
dua pekan di RS Jiwa Grogol, Jakarta.
Banyak Warganet yang bereaksi keras atas perbuatan yang dilakukan sang
istri hanya dari cuplikan*video viral
<https://metro.tempo.co/read/1284775/video-viral-istri-aniaya-suami-pelaku-diduga-alami-gangguan-jiwa>*tersebut.
Dari sudut pandang psikologi apa yang sekiranya tengah dialami oleh sang
istri? Seraya menunggu hasil proses pemeriksaan dan observasi, Psikolog
Klinis Muflihah Fahmi atau akrab disapa dengan Lya Fahmi mengatakan kita
tidak bisa menghakimi sang istri hanya dari video tanpa melihat seperti
apa konteks kejadian sebelumnya.
Menurut Lya kita terlebih dulu memahami seperti apa konteks kekerasan
terjadi, bahkan bisa dilihat seperti apa pola relasi hubungan mereka
dari sebelum suami kena stroke. Banyak hal bisa terjadi, termasuk bisa
jadi karena perasaan lelahnya mengurus suami yang sakit, sang istri
belum bisa mengatasi perasaan negatifnya dan memulihkan dirinya sendiri.
"Menurut saya yang perlu dijadikan catatan saya memperhatikan banyak
dari kita tidak/aware/dengan kondisi emosi
dan*stres<https://cantik.tempo.co/read/902975/jangan-stres-lihat-dampaknya-buat-otak-dan-tubuhmu>*yang
dihadapi. Ok, jika emosi bisa/aware/tapi kemudian respon apa yang
dirasakan itu kerap diabaikan atau diingkari," ucapnya saat dihubungi
Tempo.co, Rabu 18 Desember 2019.
Misalnya, Lya memberi contoh ketika seseorang punya masalah atau represi
seringkali orang mengatakan ketika ada masalah lebih baik menerima dan
membiarkan masalah terjadi bahkan dan cenderung mengabaikan.
"Kalau kita tidak mengakui masalah itu dan tidak paham dengan emosi kita
membuat kita kemudian tidak bisa menyelesaikan masalah, kita akan
menganggap masalah itu ada tapi tidak dirasakan. Hal itulah yang menjadi
akar masalah kita gagal melakukan regulasi emosi," ucap Magister Profesi
Psikologi Klinis lulusan UGM ini.
ADVERTISEMENT
Menurut Lya, syarat untuk melakukan
regulasi*emosi<https://cantik.tempo.co/read/1226096/sebab-wanita-harus-bisa-menempatkan-emosi-dengan-baik>*ialah
dengan mengenali, mengakui, dan menyadari emosi yang kita rasakan.
Karena hanya dengan mengenali dan mengakui emosi yang kita rasakan maka
bisa melakukan regulasi emosi.
Kegagalan mengenali emosi diri sendiri dengan baik maka kita tidak bisa
melakukan regulasi masalah, karena tidak mengetahui masalah
sesungguhnya. Lalu apa konsekuensinya jika tidak bisa meregulasi*emosi
<https://cantik.tempo.co/read/1255572/5-alasan-sulit-mengungkapkan-emosi-dan-perasaan>*?
Tentu akan terjadi emosi yang keluar dalam bentuk yang tidak tepat,
seperti misalnya emosi meledak dan mendadak tanpa tahu masalahnya
apa. "Lalu kita tergerak untuk tiba-tiba memukul karena tidak bisa
menahan impuls untuk memukul, hal itu yang terjadi ketika tidak
mengelola emosi kita dari awal masalah muncul," pungkas Lya.