-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/279532-pertanian-untuk-perekonomian-bangsa


Selasa 24 Desember 2019, 06:40 WIB

Pertanian untuk Perekonomian Bangsa

Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian 
| Opini
 
Pertanian untuk Perekonomian Bangsa

MI/RAMDANI
Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo, saat panen raya 
jagung di Desa Botuwombatu, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk miskin Indonesia pada Maret 2019 
sebanyak 25,14 juta penduduk. Catatan ini menjadi torehan positif bagi 
kepemimpinan Presiden Joko Widodo. BPS menyebutkan, terdapat penurunan 810 ribu 
penduduk miskin jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 
sebelumnya.

Namun, Presiden Joko Widodo memastikan upaya pemerintah untuk memberantas 
kemiskinan tidak akan berhenti di situ. Pada saat memberikan pidato 
pertamanya--saat pelantikan--di Gedung MPR, Jakarta, Minggu (20/10), Presiden 
Joko Widodo menginginkan Indonesia terlepas dari  kemiskinan. Bahkan, beliau 
menargetkan Indonesia masuk dalam lima besar negara perekonomian terbesar di 
dunia.

Sebagai bagian dari pemerintah yang memfasilitasi keberlangsungan pembangunan 
ekonomi nasional, target tersebut tentunya menjadi tantangan besar bagi kami 
semua. Akan tetapi, kami percaya, dengan kolaborasi dan sinergi semua pelaku 
pembangunan nasional, tidak ada yang tidak mungkin.

Di mata kami, sektor pertanian memiliki peranan penting dalam mengentaskan 
kemiskinan di Indonesia. Apalagi dalam data yang diungkapkan oleh BPS, 
persentase kemiskinan di wilayah perdesaan masih lebih tinggi jika dibandingkan 
dengan wilayah perkotaan. Persentase penduduk miskin di desa mencapai 12,85%, 
sedangkan kota sebesar 6,89%.

Wilayah perdesaan selama ini sarat dengan kegiatan usaha tani. Mayoritas sektor 
ekonomi andalan masyarakat perdesaan pun masih pada sektor pertanian. Namun, 
kita tidak bisa menafikan bahwa pembangunan pertanian Indonesia masih 
menghadapi dilema gerontocracy, yaitu sebuah kondisi kalangan tua mendominasi 
kegiatan pertanian. Dunia pertanian sejatinya membutuhkan regenerasi, khususnya 
keterlibatan generasi milenial di lapangan.

 

Pertanian maju, mandiri, dan modern

Transformasi pola pertanian mustahil dilakukan tanpa adanya perubahan dalam 
manajemen pembangunan pertanian. Kebijakan dan program pembangunan pertanian 
terus dibangun berdasarkan aspirasi dan masukan dari bawah, terutama dari 
petani sebagai pelaku utama sektor pertanian.

Implementasi revolusi industri 4.0 mau tidak mau memang akan mengubah cara kita 
menjalankan manajemen usaha pertanian. Revolusi industri 4.0 jelas memerlukan 
terobosan manajemen, yang tentu tidak akan berhasil tanpa terobosan perilaku 
dan kepemimpinan.

Harus disadari, kita tidak akan mampu menyelesaikan masalah peningkatan 
produksi, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, jika kita masih terpaku 
dengan cara lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan era Industri 4.0. Kita 
harus mengejar ketinggalan melalui upaya benchmarking dengan negara-negara lain 
yang telah berlari terlebih dahulu. Dengan demikian, kita tahu berada di posisi 
mana dan berapa jauh kita harus mengejar ketinggalan itu.

Peranan kaum milenial sangat vital dalam mentransfer kemampuan penggunaan dan 
penerapan teknologi. Melalui teknologi informasi dan media digital, kecepatan 
diseminasi akan lebih efektif. Dampak lain yang juga dalam genggaman anak muda 
ialah akselerasi informasi dengan memviralkan teknologi pertanian melalui media 
sosial.

Selain itu, respons pengguna terkait dengan suatu inovasi teknologi langsung 
dapat diketahui secara real time dan akurat setelah informasi tersebut diuji 
coba dan dimanfaatkan petani di lapangan.

Patut disyukuri sejak menjabat sebagai Menteri Pertanian pada Oktober lalu, 
Syahrul Yasin Limpo sudah menegaskan komitmennya bahwa Indonesia harus 
secepatnya meninggalkan pola pertanian lama. Dirinya meminta jajarannya untuk 
bekerja cepat dalam memfasilitasi terwujudnya pertanian Indonesia yang maju, 
mandiri, dan modern.

Pertanian maju menandakan bahwa peningkatan produktivitas dan kesejahteraan 
petani sebagai pelaku utama pertanian tidak hanya mengikuti deret hitung, 
tetapi juga harus ada lompatan dengan mengikuti deret ukur. Inovasi mutlak 
diperlukan dalam akselerasi produksi pertanian dan peningkatan kesejahteraan 
petani.

Pertanian modern juga perlu digiatkan sebagai pendorong loncatan pertumbuhan 
sektor pertanian. Tanpa penerapan teknologi modern, sektor pertanian tidak akan 
maju dan tumbuh. Perkembangan teknologi harus didorong dan dipacu. Modernisasi 
juga ditandai dengan penggunaan teknik-teknik yang canggih sehingga cara 
koordinasi dan pemecahan masalah yang digunakan akan berbeda dengan cara 
sebelumnya. Bertani pun bisa lebih cepat dan efisien.

Kita harapkan rancangan langkah yang dilakukan pemerintah dalam rangka 
membangun pertanian maju, mandiri, dan modern bisa berbuah pada penurunan 
kemiskinan secara signifikan. Kami percaya kemajuan pertanian kita akan turut 
mengeluarkan masyarakat dari jebakan kemiskinan.






Kirim email ke