Dengan Paradigma Holarki selamatkan Demokrasi Indonesia

(sebuah analisa)

Di Indonesia dan di negeri-negeri bekas jajahan di Asia pada umumnya tidak
ada tradisi yang mendalam tentang kehidupan demokrasi. Dampak feodalisme
masih saja bertumpu dilahan hubungan sosial dan budaya. Di Indonesia pada
masa orde baru  berkuasa, meskipun secara formal ada kehidupan
parlementarisme, namun klik militer yang mendominasi kekuasaan politik dan
membelenggu kebebasan demokratis. Apa yang disebut dengan demokrasi
Pancasila pada jamannya Orde baru adalah demokrasi semu (plasebo demokrasi)
untuk menutupi otoriterisme militer yang anti demokrasi dan anti rakyat.
Kini reformasi sudah berjalan selama 21 tahun, namun demikian kita masih
belum dapat menemukan pola demokrasi yang sejalan dengan tuntutan konstitusi
UUD 45 dan Pancasila, demi tercapainya suatu sistem masyarakat yang adil dan
makmur.  Lalu dimana salahnya?

Judul tulisan ini mencoba  untuk memberikan jawaban mengapa kita harus
banting stir merubah pola berpikir kita masa lalu, yang didominasi oleh pola
pikir budaya feodalisme yang bersandar pada paradigma hirarki wewenang atau
hirarki kekuasaan. Dalam masalah ini saya berpendapat bahwa untuk merubah
polapikir kiranya tidak hanya sekedar bahwa kita harus membalikkan telapak
tangan dan memperluas daya penangkapan dan pola pikir kita, akan tetapi
disamping itu kita harus mempunyai kemampuan dan keberanian untuk  membuat
formulasi atau difinisi baru tentang "Nilai" , terutama yang berkaitan
dengan kepentingan gerakan revolusioner,demokrasi , keadilan, hukum yang
mengabdi pada kepentingan seluruh rakyat Indonesia dalam menuju terbentuknya
suatu masyarakat yang adil dan makmur.

Polapikir baru juga berarti bahwa kita harus meninggalkan pola-pola pikir
lama yang kolot, yaitu pola pikir  kartesianisme mekanik yang muncul sejak
jamannya Rene Decartes sampai Newton, dimana dunia dan manusianya dipandang
sebagai mesin, untuk selanjutnya  kita harus mengikuti  pola pikir menurut
paradigma holistis (Holarki) dan pandangan-pandangan ekologi. 
Jika kita sudah bisa memahami polapikir secara Holarki (holistis atau
integral) dan juga kesadaran  ekologi secara mendasar dan mendalam
(ekologi-dalam ), kiranya tidaklah sukar untuk mengadakan perubahan dari
pola pikir menurut paradigma lama ke arah pola pikir menurut paradigma baru,
yaitu kesadaran yang bersumber pada paradigma holistis dan ekologis. 

Didalam masalah ini,  saya "melihat" ada dua hal yang sangat menarik dan
sangat erat hubungannya satu sama lain yang perlu kita garisbawahi, yaitu
masalah   "perubahan  pola pikir" dan "perubahan  nilai" . Kedua-duanya
dapat diartikan sebagai perubahan dari pendapat sendiri  kearah pendapat
secara keseluruhan  atau pendapat umum. 
Kedua kecenderungan tersebut, yaitu : ``pendapat sendiri dan pendapat umum``
adalah merupakan aspek dari adanya seluruh simtem penghidupan kita. Tidak
ada di antaranya yang dapat disebut baik atau jelek. Baik atau sehat adalah
merupakan keseimbangan yang dinamis, sedangkan jelek atau tidak sehat adalah
tidak merupakan adanya keseimbangan yang dinamis; karena disini ada
kecenderungan kearah tekanan yang berlebihan dan mengabaikan adanya faktor
yang lain.

Jika masalah ini  di terapkan didalam kehidupan  masyarakat, misalnya
kehidupan berorganisasi, yaitu kehidupan feodalosme, dan kehidupan politik
dinasti (kerajaan), atau dalam suatu kehidupan perusahaan atau
perindosterian, maka sikap seseorang yang memaksakan pendapat sendiri itu,
selalu akan mengabaikan sikap keseluruhan. Jadi seperti halnya didalam
pikiran kita maupun didalam penilain kita, disini  mengajarkan pada kita
tentang adanya dua hal yang selalu bertentangan yaitu pendapat sendiri dan
pendapat umum. Kecenderungan tersebut menunjukkan adanya dua hal yang
bertentangan kedudukannya. Misalnya : Rasional (menurut pendapat sendiri)
adalah berlawanan dengan intuitif (intuitive, berdasarkan intuisi, menurut
pendapat umum). Demikian juga Analisa dan Synthese, linier dan tidak linier.
Ini ditinjau menurut jalan pikiran atau pola pikir. Selain dari pada itu
juga dalam hal pemberian nilai misalnya : Ekspansi (menurut pendapat
sendiri) dan bertahan (menurut pendapat umum), Kongkuren dan Koperasi,
Kwantitet dan Kwalitet. Selalu menunjukkan dua hal yang berlawanan.

Jika kita perhatikan contoh-contoh diatas, maka kita akan melihat bahwa
perkataan "pendapat sendiri" pada umumnya  ada sangkut pautnya dengan watak
orang laki-laki (pria). Hal demikian itu terlihat di dalam masyarakat yang
patriarkhat (patriaki), keadaan semacam itu terutama menonjol di bidang
ekonomi dan kekuasaan politik. Dengan alasan demikianlah, maka kebanyakan
orang mengalami kesukaran dalam proses penggantian definisi tentang "nilai"
, terutaman golongan pria. 
  
Sebagai contoh misalnya tentang arti kata "Kekuasaan".  Pada umumnya  arti
kata kekuasaan dalam  praktek kehidupan selalu  diberi makna (nilai)
menguasai orang lain, dominasi  atas orang lain;  pemberian nilai seperti
itu adalah manifestasi dari pikiran yang menurut pendapat sendiri (egoisme).
Dengan adanya penilaian yang demikian itulah maka dibentuknya struktur
masyarakat yang bersifat herargi wewenang atau herarki kekuasaan. Dalam
kenyataan yang kita alami, misalnya didalam kekuasaan politik, militer dan
juga didalam struktur dari perusahaan-perusahaan, struktur
organisasi-organisasi masa, misalnya struktur politik dinasti, dan struktur
pertai-partai politik,  apapun dan dimana kaum pria pada umumnya selalu
menempati kedudukan  tingkat tinggi (atas), sedangkan wanita pada umumnya
menempati kedudukan dibawah.  Namun demikian ada juga kaum wanita yang
tertarik pada struktur  hierarki kekuasaan, hal itu adalah hanya untuk
mempartahankan sebagian dari identitetnya, dan oleh karena itulah untuk
melaksanakan perubahan definisi tentang nilai pada umumnya mengalami
kesukaran. Padahal kalau kita mau, sebenarnya ada budaya lain yang dapat
memberi nilai baru tentang  makna dari kekuasaan, budaya baru itulah
paradigma baru yang berasas pada paradigma holarki dan ekologi. Oleh karea
itulah, maka untuk mengatassi persoalan tersebut di atas, kita perlukan
adanya nilai baru terhadap arti kata kekuasaan;  kekuasaan jangan lagi
diterima, dan ditanggapi atau diberi arti yang mengandung nilai menguasai
orang lain, atau dominasi atas orang lain, tetapi kekuasaan itu harus diberi
makna yang mengandung arti  berpengaruh terhadap orang lain. Sehingga
dengan demikian kekuasaan bukan lagi mempunyai struktur secara "hierarki",
tetapi kekuasaan mempunyai struktur sebagai  "Network``(jaringan) polapikir
yang bertumpu pada paradigma Holarki. Dengan demikian pertukaran paradigma
sekaligus harus di ikuti oleh adanya pertukaran  struktur organisasi sosial,
yaitu dari Hierarki diganti menjadi Holarki, yang artinya adalah herarki
pertumbuhan (hirarki alami).

Mengapa kita harus memilih paradigma Holargi ?

 

Menurut hemat saya, sebaiknya kita harus banting stir menganti paradigma
Herarki, karena herarki dalam praktek kehidupan masyarakat telah membawa
manusia pada sifat  kemarahan, sifat penindasan manusia atas manusia,dan
penguasaan terhadap orang lain (dominasi ats orang lain), yang semuanya
bersandar pada paradigma Hirarki. Dalam konteks  demokrasi, maka paradigma
herarki berdampak membunuh Demokrasi.

Oleh karena itulah, harus kita akhiri paradigma Herarki , dan selanjutnya
harus kita ganti dengan paradigma Holarki, yang menggunakan sistem
holon-holon dalam pertumbuhan-nya (herarki alami) untuk menjadi materi. 

Sebagai contoh misalnya: Jika satu holon dalam herarki pertumbuhan (herarki
alami) berubah posisinya menjadi herarki kekuasaan, sehingga berhasil
merebut atau merampok kekuasaan atas keseluruhan materi;  maka akan
terjadilah suatu gejala apa yang disebut pathologis (suatu penyakit; kangker
misalnya); Demikianlah dampak herarki kekuasaan yang terjadi dalam tubuh
manusia.

Keadaan seperti itu disebabkan oleh karena adanya satu holon yang telah
berhasil merampok dan menguasai seluruh materi, maka  berubalah sifat holon
itu  menjadi sel-sel kangker,  yang menguasai seluruh tubuh dan dapat
mengantar manusia pada kematiannya. Keadaan semacam ini, dalam praktek
kehidupan masyarakat tercermin dalam suatu keadaan dimana Herarki kekuasaan
dapat dipersamakan dengan kehadirannya pemeritahanyan otoriter atau diktator
fasis , kongkritnya  diktator fasis orde baru yang  secara absolut telah
menguasai dan mengontrol kehidupan masyarakat kita selama 32 tahun lamanya.
Ini semua adalah mencerminkan adanya suatu Ego yang represif dan menguasai
seluruh kehidupan masyarakat kita di era Orde Baru. Dampaknya adalah
terjadinya kematian demokrasi di Indonesia. Penomena seperti itu juga
terjadi masa- masa kerajaan-kerajaan yang menganut sistem feolalisme, yang
muncul dalam bentuk politik disnasti, yang bersandar pada herarki kekuasaan,
dan sejak itulah sistem feodalisme menguasai kehidupan semua orang.

 

Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar dan ingat pada apa yang
pernah diucapkan oleh Bung Karno dalam pidato didepan MPRS sekitar tahun
1960-han, yang melontarkan ide Front persatuan nasional yang menurut beliau
keluar dari ide gotong - royong "Holo-pis-Kuntul-Baris". Menurut pemahaman
saya perkataan "holo" yang diucapkan oleh Bung Karno itu adalah singkatan
dari perkataan``holon``.

 

Apakah Holon itu ? 

Komponen hierarki ini adalah holon. Holon adalah keseluruhan, yang merupakan
bagian dari keseluruhan yang lainnya. Misalnya, seluruh atom adalah bagian
dari keseluruhan molekul; seluruh molekul adalah bagian dari seluruh sel;
seluruh sel adalah bagian dari seluruh organisme.

Atau seluruh huruf adalah bagian dari seluruh kata ; sebuah kata bagian dari
seluruh kalimat, yang pada gilirannya merupakan bagian dari seluruh
paragraf, dan seterusnya. 

Terhadap adanya suatu kenyataan bahwa, keseluruhan  itu terdiri dari
bagian-bagian, dan keseluruhan bagian itu adalah holon. 

Inilah  alasan - seperti yang ditemukan oleh Arthur Koestler; Bahwa hierarki
pertumbuhan adalah benar-benar holaritas karena terdiri dari holon-holon
(apa yang juga disebut hierarki bersarang atau hierarki realisasi). Itulah
sebabnya mengapa disebut holararki adalah tulang punggung holisme: mereka
mengubah tumpukan secara keseluruhan, yang merupakan bagian dari keseluruhan
lain dan seterusnya. Ini senafas dengan teori tentang sistem,yang
berpendapat bahwa : Dari bagian-bagian menuju keseluruhan. Artinya paradigma
holime itu adalah sama dengan pemikiran sistem yang merupakan sebuah
revolusi menyeluruh dalam sejarah pemikiran ilmiah Barat.

Dalam hal ini, Koestler mengatakan bahwa paradigma >>hierarki<< lebih baik
diganti dengan paradigma >>holarki<<.  Karena praktis semua proses
pertumbuhan - dari materi ke kehidupan ke roh (jiwa)- terjadi melalui
holaritas alami atau keteraturan peningkatan keutuhan (keutuhan menjadi
bagian dari keutuhan baru) dan ini adalah hierarki alami atau holaritas.

 

Kesimpulan akhir Tentang Demokrasi.

Dengan Paradigma baru  seperti yang saya utarakan tersebut di atas, maka
kita dituntut untuk mencari alternatif baru tentang bentuk kekuasaan rakyat
(Demokrasi) atau model baru bagi penampilan Demokrasi di NKRI di abad ke 21
ini.
Hal ini perlu kita renungakan secara mendalam, oleh karena Demokrsi itu bisa
dianggap sebagai bentuk kekuasaan rakyat, seperti yang diutarakan diatas,
jadi sekarang persoalann adalah tinggal bagaimanakah kita akan menyajikan
penampilan demokrasi di Indonesia. Dalam konteks ini saya berpendapat
penampilan Demokrasi di Indonesia seharusnya ditampilkan dengan menggunakan
paradigma Holarki, seperti yang sudah diuraikan diatas, karena paradigma
Hirarki kekuasaan pada akhirnya akan membunuh sistem kehidupan Demokrasi. 

 

Roeslan.

Kirim email ke