Kilas Balik 2019 <https://www.antaranews.com/slug/kilas-balik-2019>
Kiat Indonesia dekati pasar Amerika Latin, Karibia
Oleh Yashinta Difa PramudyaniJumat, 27 Desember 2019 09:19 WIB
Kiat Indonesia dekati pasar Amerika Latin, Karibia
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memaparkan prioritas politik luar
negeri RI untuk periode 2019-2024 kepada wartawan di Jakarta, Selasa
(29/10/2019). ANTARA/Kemlu RI/am.
Jakarta (ANTARA) -Setelah Afrika, kini giliran Amerika Latin dan Karibia
yang menjadi sasaran Indonesia dalam visi pengembangan pasar
nontradisionalnya.
Pemilihan kawasan Amerika Latin dan Karibia bukannya tanpa alasan.
Kawasan ini memiliki potensi besar dengan populasi 647 juta jiwa dan
produk domestik bruto (PDB) mencapai 4,22 triliun dolar AS pada 2018.
Namun, total perdagangan Indonesia dengan negara-negara Amerika Latin
dan Karibia baru senilai 7,6 miliar dolar AS atau 0,37 persen dari total
perdagangan kawasan itu dengan dunia.
Sama halnya dengan perdagangan, volume investasi negara-negara Amerika
Latin dan Karibia ke Indonesia pun terbilang kecil, hanya sekitar 2,8
juta dolar AS selama semester pertama 2019. Jumlah tersebut hanya
mencakup 0,02 persen dari total investasi asing ke Indonesia sebesar
14,2 miliar dolar AS.
Minimnya informasi mengenai potensi pasar di Amerika Latin dan Karibia
dan jarak yang jauh disebut sebagai kendala utama bagi Indonesia untuk
mengembangkan kerja sama ekonomi dengan kawasan tersebut.
Padahal, Indonesia memiliki daya tawar yang cukup kuat di mata
negara-negara Amerika Latin dan Karibia, mengingat jumlah penduduknya
yang besar dan perkembangan ekonomi yang positif dalam beberapa tahun
terakhir.
Indonesia, yang merupakan negara berpenduduk terbesar keempat dunia,
diproyeksikan akan menduduki peringkat keenam dunia dari sisi PDB
berdasarkan paritas daya beli (/purchasing power parity//PPP) pada 2023.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan PDB Indonesia akan
meningkat dari 3,5 triliun dolar AS pada 2018 menjadi 4,97 triliun dolar AS.
“Mereka (Amerika Latin dan Karibia) melihat kita bisa menjadi/hub/untuk
masuk ke pasar ASEAN. Itu yang ingin kita kejar, makanya kita berupaya
untuk lebih agresif sekarang,” kata Direktur Amerika II Kementerian Luar
Negeri RI Darianto Harsono.
Berangkat dari semangat itu, pemerintah menginisiasi Forum Bisnis
Indonesia-Amerika Latin dan Karibia (/Indonesia-Latin America and the
Caribbean Business Forum//INA-LAC) pada 14-15 Oktober 2019 untuk
memperkuat diplomasi ekonomi di kawasan tersebut melalui penciptaan
kesepakatan bisnis dan infrastruktur perdagangan seperti perjanjian
bilateral.
Forum yang diselenggarakan di Serpong, Banten, bersamaan dengan gelaran
tahunan/Trade Expo Indonesia/itu, menghasilkan kesepakatan dagang
senilai 33,12 juta dolar AS di sektor kecantikan, makanan dan minuman,
suku cadang, produk karet, serta furnitur.
Selain itu, forum tersebut membuahkan komitmen investasi senilai 5
miliar dolar AS dalam jangka waktu lima tahun untuk pertambangan nikel
di Sulawesi, oleh perusahaan tambang asal Brazil.
Melalui kegiatan/company visit/, diskusi,/business matching/,
serta/business consultation/yang diselenggarakan dalam Forum INA-LAC,
Indonesia berupaya memitigasi berbagai tantangan seperti letak
geografis, konektivitas, serta hambatan tarif dan non-tarif dengan
negara-negara Amerika Latin dan Karibia.
<https://twitter.com/Kemlu_RI>
MoFA Indonesia*✔*@Kemlu_RI
<https://twitter.com/Kemlu_RI>
<https://twitter.com/Kemlu_RI/status/1183701705088618497>
1. Indonesia-Latin America & the Caribbean #INALAC
<https://twitter.com/hashtag/INALAC?src=hash> Business Forum dimulai
dengan company visit ke @Sinar_MasID
<https://twitter.com/Sinar_MasID> di Tangerang u/ melihat langsung
perusahaan Indonesia yang telah sukses membangun jaringan bisnis
sektor pulp & paper di skala global #IniDiplomasi
<https://twitter.com/hashtag/IniDiplomasi?src=hash> #RintisKemajuan
<https://twitter.com/hashtag/RintisKemajuan?src=hash>
View image on Twitter
<https://twitter.com/Kemlu_RI/status/1183701705088618497/photo/1>
24 <https://twitter.com/intent/like?tweet_id=1183701705088618497>
7:10 PM - Oct 14, 2019
<https://twitter.com/Kemlu_RI/status/1183701705088618497>
Twitter Ads info and privacy
<https://support.twitter.com/articles/20175256>
See MoFA Indonesia's other Tweets
<https://twitter.com/Kemlu_RI>
Khusus untuk menangani hambatan tarif, pemerintah Indonesia terus
melakukan penjajakan untuk perundingan perjanjian perdagangan dalam
mekanisme PTA, FTA, maupun CEPA.
Sejauh ini, Indonesia tercatat baru memiliki satu perjanjian perdagangan
dengan negara di Amerika Latin yaitu Perjanjian Kemitraan Ekonomi
Komprehensif Indonesia-Chile yang ditandatangani pada Desember 2017.
Melalui IC-CEPA yang mulai berlaku 10 Agustus 2019, sebanyak 80,3 persen
pos tarif Chile dan 86,1 persen pos tarif Indonesia dihapus.
Saat ini, Indonesia sedang menjajaki negosiasi CEPA dengan Peru,
negosiasi preferential trade agreement (PTA) dengan Ekuador, serta CEPA
dengan blok perdagangan MERCOSUR yang beranggotakan Brazil, Argentina,
Paraguay, dan Uruguay.
Indonesia juga tercatat sedang menginisiasi negosiasi perdagangan dengan
Ekuador, Kolombia, Meksiko, dan Panama.
Menurut mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI AM Fachir, perjanjian
perdagangan tersebut akan membantu mengatasi tingginya tarif yang
mencapai 35 persen, dan disebutnya sangat tidak menarik bagi pelaku
usaha kedua pihak.
“Karena itu kita perlu memfasilitasi agar tarifnya lebih murah, berbagai
hambatan dikurangi seminimal mungkin sehingga para pelaku bisnis
memiliki daya saing yang cukup dan tertarik untuk melihat peluang besar
yang dapat diwujudkan,” tutur Fachir.
Forum tersebut juga menghasilkan beberapa kesepakatan yaitu kerja sama
fasilitasi ekspor-impor antara Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia
(LPEI)/Eximbank Indonesia dengan Bancoldex Kolombia; dimulainya dialog
menuju pembentukan perjanjian perdagangan RI-MERCOSUR; dimulainya
pembahasan TOR perundingan Partial Trade Agreement RI-Kolombia; serta
kerja sama teknik dan pembangunan kapasitas masyarakat dan UMKM di
Belize, Panama, dan Suriname.
Ke depannya, berbagai inisiatif kerja sama yang dihasilkan melalui Forum
INA-LAC akan ditindaklanjuti pada 2020 dan tahun-tahun berikutnya,
sebagai program kegiatan Kemlu RI yang menetapkan diplomasi ekonomi
sebagai salah satu prioritas kebijakan luar negerinya.
Pelaksanaan Forum INA-LAC 2019 sejalan dengan arahan Presiden RI Joko
Widodo untuk meningkatkan perdagangan dan investasi dengan pasar
nontradisional Indonesia.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bidang
Hubungan Internasional Shinta W Kamdani menyebut kerja sama dengan
Amerika Latin dan Karibia sangat potensial untuk diversifikasi produk
dan pasar ekspor Indonesia ke depannya.
“Kita perlu mengeksplorasi pasar-pasar non-tradisional. Negara-negara
pesaing kita seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam sudah mulai
merambah ke pasar-pasar tersebut,” kata Shinta.
*Baca juga:Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Latin perlu
ditingkatkan
<https://www.antaranews.com/berita/1113780/hubungan-ekonomi-indonesia-dan-amerika-latin-perlu-ditingkatkan>
Baca juga:Indonesia jajaki perdagangan multisektor dengan Amerika Latin,
Karibia
<https://www.antaranews.com/berita/1111532/indonesia-jajaki-perdagangan-multisektor-dengan-amerika-latin-karibia>*
Selain itu, memperkuat hubungan dengan pasar non-tradisional akan
mengurangi tingginya ketergantungan ekspor Indonesia terhadap
pasar-pasar tradisional seperti AS, Uni Eropa, dan China dan
dikhawatirkan berdampak negatif bagi Indonesia apabila ekonomi atau
kebijakan perdagangan negara-negara itu kurang menguntungkan.
“Kita perlu sekali diversifikasi ke pasar-pasar ekspor baru dan
mengembangkan produk-produk baru untuk diekspor ke negara-negara yang
standar barangnya tidak seketat pasar-pasar tradisional,” Shinta
menambahkan.
Upaya untuk mengenali pasar dan memanfaatkan peluang pasar yang ada,
kata dia, menjadi kunci keberhasilan diplomasi ekonomi Indonesia di
pasar nontradisional.
Untuk Amerika Latin, misalnya, produk ekspor Indonesia harus bernilai
tinggi dan kompetitif untuk mengurangi kekurangan daya saing karena
biaya logistik akibat jarak geografis yang jauh.
Selain itu, negara-negara Amerika Latin dan Karibia umumnya tidak
memiliki basis industri yang kuat sehingga potensi utama ekspor
Indonesia ke kawasan itu adalah produk manufaktur seperti otomotif dan
alat elektronik rumah tangga.
“Untuk itu kami harap pemerintah melalui perwakilan-perwakilan RI di
luar negeri bisa lebih aktif memberikan informasi/market
intelligence/kepada pelaku usaha nasional terkait peluang pasar,
ketentuan pasar, hingga informasi tentang praktik perdagangan yang
efisien, yang bisa membuat kita berdaya saing di negara-negara
tersebut,” tutur Shinta.
*Baca juga:Forum Indonesia-Amerika Latin hasilkan kesepakatan 33,12 juta
dolar AS
<https://www.antaranews.com/berita/1114134/forum-indonesia-amerika-latin-hasilkan-kesepakatan-3312-juta-dolar-as>
Baca juga:LPEI jajaki potensi ekspor Indonesia ke Amerika Latin, Karibia
<https://www.antaranews.com/berita/1113940/lpei-jajaki-potensi-ekspor-indonesia-ke-amerika-latin-karibia>*
Oleh Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Fardah Assegaf