https://www.gatra.com/detail/news/463797/ekonomi/bkpm--rp300-t-komitmen-investasi-pertamina-mandek



 BKPM : Rp300 T Komitmen Investasi Pertamina Mandek

Gatra.com | 28 Dec 2019 00:15

Jakarta, Gatra.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil
Lahadalia menuturkan, sebanyak Rp129 triliun dari Rp708 triliun komitmen
investasi (*existing*) telah tereksekusi. Di sisi lain, sebanyak Rp579
triliun investasi *existing* masih terkendala perizinan seperti pertanahan,
izin lokasi, izin mendirikan bangunan (IMB), analisis mengenai dampak
lingkungan (AMDAL), dan sebagainya.

"Sekarang dari Rp700 triliun *existing* investasi di dalamnya ada persoalan
Pertamina, hampir Rp300 triliun. Ini sudah lama. Pak Presiden komplain
Impor (Bahan Bakar Minyak) ini enak, uangnya cepat. Impor ini bukan karena
negara enggak mampu, tetapi *political will*," tuturnya kepada awak media
di Hotel JW Marriott, Jakarta, Jumat (27/12).

Bahlil mengatakan, impor migas (minyak dan gas) menjadi kontributor
terbesar dalam defisit neraca perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat impor migas selama Januari - November 2019 sebesar US$19,75 miliar.

Oleh karena itu, Pertamina tengah mengerjakan megaproyek kilang minyak
untuk meningkatkan kapasitas produksi. Tujuannya agar menekan impor migas.
Bahlil mengklaim beberapa perusahaan minyak asing sudah menyepakati untuk
berinvestasi dalam proyek Pertamina.

"Investasi migas untuk ADNOC (Abu Dhabi National Oil Company), Insya Allah
masuk di Balongan (Jawa Barat). CPC (China Petroleum Company) masuk.
Pertamina-Rosneft (Tuban, Jawa Timur) sudah selesai. Rosneft uang muka
sudah masuk," katanya.

Selanjutnya, pihaknya besok akan berkunjung ke Abu Dhabi untuk melakukan
pembicaraan dengan Adnoc. Sementara itu, pembicaraan dengan CPC ditargetkan
selesai pada Januari-Februari.

Bahlil juga mengungkapkan sebuah perusahaan Korea Selatan telah melakukan
penandatangan nota kesepahaman (MoU) dengan Pertamina terkait proyek
revitalisasi kilang minyak di Dumai, Riau. Selain itu, ia mengatakan, telah
berkomunikasi dengan Pertamina.

"Kami tanyakan apa masalahnya? Masalah izin, masalah lahan kita bikin tim.
Untuk apa? Pertamina percepatan *refinery* (kilang) kita bantu. Ini
kepentingan bangsa kok," ujarnya.

------------------------------
Reporter: Syah Deva Ammurabi
Editor: Annisa Setya Hutami

Kirim email ke