Kalau sulit dibaca, tetapi gambar grafiknya bagus artinya analisanya hebat,
ada sesuatu yang maha hebat dikerjakan,heheheheheh



https://koransulindo.com/riset-visualisasi-data-kesehatan-indonesia-sulit-dibaca-dan-dipahami/


Riset: Visualisasi Data Kesehatan Indonesia Sulit Dibaca dan Dipahami

*20 November 2019*

   -


Ilustrasi/dsbanjaragung.blogspot.co.id/

*Koran Sulindo* – Visualisasi data dan informasi kesehatan sangat
bermanfaat untuk kepentingan pelaporan, pengawasan, dan evaluasi kinerja
program, advokasi, serta koordinasi lintas sektoral di bidang kesehatan.
Visualisasi yang akurat dalam bentuk grafik, tabel, dan peta juga akan
memudahkan kerja-kerja pencegahan dan promosi kesehatan di masyarakat.

Data dan informasi kesehatan merupakan komponen penting dalam menyusun
rencana program dan kebijakan dalam pengelolaan program kesehatan, baik
untuk penyakit menular maupun tidak menular. Di Indonesia, data dan
informasi ini dikumpulkan, dikelola, dianalisis, dan disajikan oleh banyak
pihak, mulai dari Puskesmas hingga Kementerian Kesehatan di Jakarta.

Masalahnya, hasil penelitian saya dan kolega yang baru-baru dipublikasikan
<https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-030-18400-1_37> menemukan
bahwa di Indonesia masih banyak visualisasi data dan informasi kesehatan
yang bermasalah, yang menyebabkan data sulit dibaca dan dimanfaatkan.

Tahun lalu, saya dan kolega meneliti kualitas penyajian atau visualisasi
data dan informasi kesehatan yang dibuat oleh petugas kesehatan baik di
tingkat nasional, provinsi (lima daerah), kabupaten dan kota (sepuluh
daerah), maupun di 21 Puskesmas di Indonesia.

Kami menganalisis visualisasi digital berupa dashboard program kesehatan
yang digunakan di lingkungan Kementerian Kesehatan, dinas kesehatan, dan
Puskesmas. Dashboard ini hanya bisa diakses oleh petugas kesehatan.
Visualisasi itu meliputi HIV, tuberkulosis, malaria, imunisasi, gizi,
kematian ibu dan anak, dengue, sumber daya manusia kesehatan, dan program
kesehatan lainnya.

Dari 80 dashboard yang kami analisis, 83% di antaranya menunjukkan
kesalahan-kesalahan dalam memilih metode visualisasi, indikator, jenis
grafik, serta kesalahan dalam penyajian–tidak tidak kronologis, judul tidak
lengkap, dan keterangan visualisasi yang kurang lengkap.

*Dampak Visualisasi yang Keliru*

Kesalahan visualisasi tersebut terjadi karena petugas tersebut memang belum
punya keterampilan memilih indikator dan metode visualisasi. Hal ini
diperburuk dengan kurang tepatnya metode pelatihan untuk petugas kesehatan
karena mereka hanya dilatih untuk menggunakan aplikasi. Pelatihan cenderung
luput menyasar logika dalam penggunaan aplikasi, dan kurang dihubungkan
dengan praktiknya di dunia nyata.

Penyajian data yang kurang tepat dapat menyulitkan interpretasi data
kesehatan oleh pemegang kebijakan (baik di tingkat layanan kesehatan
seperti Puskesmas, maupun di tingkat administratif seperti dinas
kesehatan). Penyajian data yang kurang tepat bisa juga menyebabkan
kesalahan interpretasi kondisi di lapangan dalam membaca data kesehatan
untuk kepentingan intervensi pencegahan maupun pengobatan.

Hal ini tentu saja berdampak pada respons pemerintah yang kurang tepat
dalam menangani permasalahan kesehatan yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Salah satu contoh visualisasi yang berpotensi bermasalah adalah menyajikan
perbandingan kasus atau kinerja melalui angka absolut dan angka relatif
(persentase). Bandingkan dua tabel di bawah yang menyajikan data imunisasi
dua desa berikut:



Tabel kedua merepresentasikan kinerja program imunisasi di Desa A dan B
dengan lebih baik dengan cara menyajikan informasi dalam bentuk persentase
(cakupan) dan menampilkan data jumlah total anak sebagai sasaran. Dengan
menyajikan dan menginterpretasikan tabel kedua, petugas imunisasi di
Puskesmas yang membawahi kedua desa tersebut dapat memfokuskan dan
mengoptimalkan sumber daya untuk perbaikan cakupan imunisasi di desa B.

Selain itu, diagram lingkaran juga sering disalahgunakan. Perhatikan contoh
di bawah.



*Perbedaan Penyajian dengan Diagram Lingkaran dan Grafik Batang*.

Dua diagram lingkaran di atas, yang menggambarkan data imunisasi lengkap
beberapa provinsi, tampak serupa. Tapi ketika datanya divisualisasikan
dalam bentuk grafik batang di bawah, tampak bahwa keduanya sangat berbeda.

Untuk itu, penggunaan diagram lingkaran harus dilakukan dengan hati-hati
untuk jenis data tertentu.

*Banyak Data, Minim Keterampilan*

Pada era teknologi informasi, berbagai organisasi dan penyedia layanan
kesehatan baik publik maupun swasta berlomba-lomba untuk mengadopsi
teknologi informasi untuk mengumpulkan, menganalisis, menyajikan data, dan
membuat laporan. Teknologi informasi yang dimaksud, antara lain, sistem
manajemen pasien dan administrasi, sistem pendukung pengambilan keputusan,
sampai dengan aplikasi telepon pintar.

Pemahaman dan keterampilan pengelolaan data untuk visualisasi data menjadi
sangat penting. Petugas kesehatan tidak hanya harus melek teknologi
informasi, tapi juga harus melek manajemen data yang meliputi pengetahuan
dan keterampilan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data dan
informasi kesehatan.

Walau tampak sederhana, penyajian data dalam bentuk grafik, tabel atau peta
ternyata masih belum dikuasai dengan baik oleh petugas kesehatan. Riset
saya menunjukkan materi untuk mendukung kompetensi manajemen data kesehatan
belum masuk ke dalam kurikulum pendidikan petugas kesehatan. Petugas
kesehatan tidak hanya berasal dari ilmu kesehatan (kesehatan masyarakat,
kebidanan, kedokteran), tapi juga disiplin lain seperti teknologi
informasi, ekonomi, agama, dan ilmu sosial.

Di tengah melimpahnya data kesehatan, pemangku kebijakan di bidang
kesehatan harus lebih fokus kepada pemahaman dan keterampilan dasar ini.
Hal ini penting untuk mempersiapkan kapasitas sumber daya untuk era
teknologi informasi dalam pengelolaan pemerintahan dan era data besar.

Upaya ini dapat dimulai dengan memasukkan kompetensi manajemen data ke
dalam kurikulum pendidikan formal di bidang kesehatan maupun dalam
kurikulum pelatihan di lingkungan kementerian, dinas, dan layanan–baik di
sektor publik maupun privat–untuk menyiapkan tenaga kerja kesehatan yang
lebih kompeten.

*Visualisasikan Data secara Akurat*

Beberapa prinsip penting terkait visualisasi data sederhana (tidak hanya
untuk sektor kesehatan) adalah:

Pertama, setiap bentuk visualisasi data lebih tepat untuk
menyajikan/menceritakan data atau informasi tertentu. Misalnya:

(1) Secara umum grafik garis tepat untuk menunjukkan tren kasus, kejadian,
dan persediaan logistik berdasar waktu.

(2) Diagram lingkaran lebih tepat untuk menunjukkan komposisi, terutama
yang proporsinya relatif berbeda, dan perlu diberi tambahan label untuk
memudahkan pembacaan.

(3) Dan tabel dapat digunakan untuk menyajikan angka yang lebih terperinci
dan menyajikan angka absolut dan relatif/persentase secara bersamaan dalam
satu visualisasi.

Kedua, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan
grafik ataupun tabel yang masih sering dilakukan di lapangan. Misalnya:

(1) Hindari membandingkan terlalu banyak indikator dalam satu visualisasi
karena membuat grafik atau tabel menjadi ruwet dan tidak dapat dibaca.

(2) Dan hindari membandingkan indikator-indikator yang tidak memiliki
hubungan dalam pengelolaan program dalam satu visualisasi karena hal itu
dapat menyebabkan grafik atau tabel tidak memberikan informasi yang
bermakna.

Ketiga, data yang akan disajikan harus memiliki kualitas yang baik, dan
kualitas yang baik dapat diperoleh dari analisis dan visualisasi data.
Keduanya sinergis dan saling mendorong satu sama lain. Oleh sebab itu,
proses validasi dan verifikasi data harus dilakukan secara serius sebelum
data diterbitkan. Penggunaan data secara rutin akan memberikan kesadaran
akan kualitas dan manfaat data oleh petugas kesehatan.

Selain itu, dashboard standar yang direkomendasikan WHO dapat dimanfaatkan
sebagai contoh praktik terbaik visualisasi data kesehatan. Standar WHO ini
juga perlu dimasukkan dalam materi pembelajaran manajemen data, baik di
kurikulum formal pendidikan kesehatan maupun program pelatihan untuk
petugas kesehatan. *[Aprisa Chrysantina*, Kandidat Doktor di Universitas
Oslo Norwegia] Tulisan ini disalin dari *theconversation.com.
<https://theconversation.com/riset-visualisasi-data-kesehatan-indonesia-sulit-dibaca-apa-penyebabnya-126938>*

 Pembaca : 407

Kirim email ke