-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1227407/gus-dur-dan-warisan-islam-ramah-yang-di-marah-i

Gus Dur dan warisan "Islam Ramah" yang "di-marah-i"

Oleh Edy M Yakub        Minggu, 29 Desember 2019 11:19 WIB

Menko Polhukam Mahfud Md (kedua kiri), Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin 
Umar (kiri), Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) (kedua kanan) dan 
Cendekiawan Muslim yang juga mantan Menlu Alwi Shihab (kanan) menghadiri 
peringatan Haul ke-10 Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, Sabtu (28/12/2019) . ANTARA 
FOTO/Asprilla Dwi Adha/wsj/pri.
Denpasar (ANTARA) - Plural, majemuk, atau bhinneka, adalah sebuah keniscayaan 
bagi Bangsa Indonesia, karena perbedaan di antara Bangsa Indonesia itu agaknya 
cukup lengkap, diantaranya kemajemukan suku, agama, ras, dan antargolongan 
(SARA).

Suku/kesukuan yang ada memang sangat beragam mulai dari Batak, Jawa, Madura, 
Sumatera, Dayak, Bugis, Nusa Tenggara, Maluku, Papua. Apalagi, agama. Mayoritas 
memang Islam, tapi jumlah pemeluk Kristen/Katholik, Hindu, Buddha, dan lainnya 
juga tidak sedikit.

Ras juga tidak sedikit, meski dapat disederhanakan dalam pribumi dan 
non-pribumi. Antargolongan juga idem, meski dapat disimpulkan dalam 
kaya-miskin. Untuk itu, persatuan/kebersamaan dalam konteks Indonesia adalah 
"bersama dalam berbeda", bukan "bersama dalam kesamaan".

Bahkan, kemajemukan itu juga terlihat dalam "keragaman" lain yakni mulai dari 
masyarakat yang berpendidikan tinggi (profesor) hingga masyarakat yang tidak 
sekolah sama sekali, mulai dari masyarakat yang hidupnya sering bepergian ke 
luar negeri hingga masyarakat yang hidupnya "nomaden" dari hutan ke hutan, 
mulai dari masyarakat "kulit putih" Dayak hingga "kulit hitam" Papua..

Nah, kemajemukan yang sungguh lengkap itu bukan perkara mudah untuk diikat 
dalam satu negeri, meski bangsa ini sudah cukup lama memegang prinsip bhinneka 
tunggal ika (berbeda dalam kebersamaan, bukan kesamaan; mirip dengan E Pluribus 
Unum), apalagi saat ini berkembang "politik identitas" yang memaksakan 
"kesamaan" (keseragaman) sikap yang anti-kemajemukan.

Kini, keseragaman sikap anti-kemajemukan yang dipaksakan itu ada tiga model 
sikap yakni takfiri (menyalahkan secara ide), teroris (menyalahkan secara 
'pemaksaan' ide/perbuatan), dan jihadis (menyalahkan secara 
fisik/membunuh/benturan/konflik).

Tentu, ketiga sikap ini jika dipaksakan akan menjadi sumber konflik tanpa 
henti. Nah, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang juga mantan Presiden KH Abdurrahman 
Wahid (Gus Dur) mencermati adanya potensi konflik itu di dalam tubuh bangsa 
Indonesia yang majemuk itu dengan hadirnya sikap anti-kemajemukan 
(takfiri-teroris-jihadis) itu dalam 1-2 dekade terakhir.

Tokoh NU yang sejak muda sudah "mengarungi" berbagai pemikiran tokoh-tokoh 
dunia melalui hobi baca itu berusaha meneladani para ulama pendiri NU untuk 
"mengendalikan" sikap anti-kemajemukan itu melalui perpaduan tiga hal yakni 
keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan, sehingga Islam pun dikagumi sebagai 
"Islam Ramah" (Islam Rahmatan lil Alamin).

Dalam konteks "ramah" itulah, Gus Dur mendirikan Forum Demokrasi yang 
berhadapan dengan Orde Baru, mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), 
mengembangkan hubungan baik dengan komunitas non-Muslim hingga ceramah di 
gereja, memasyarakatkan Khittah NU, menjadi Presiden dengan orientasi pada 
hubungan persahabatan antarnegara di dunia.

Tentu, langkah-langkah Gus Dur itu bukan tidak mengundang "kemarahan" pihak 
lain, bahkan sejumlah ulama pun sempat bertanya langsung kepadanya, diantaranya 
Forum Demokrasi, PKB, dan Khittah NU yang disebut Gus Dur sebagai "keran" 
masuknya umat Islam ke pusat kekuasaan. "Ya, saya memang ceramah di depan 
ratusan pendeta, tapi kalau tidak ceramah, kapan para pendeta itu mengenal 
Islam, mengenal Al Quran?," ujar Gus Dur, singkat.

Tidak hanya itu, ketika Gus Dur memerintahkan Banser-Ansor menjaga gereja saat 
Natal pun diejek, bahkan ada seorang kiai yang memprotesnya bahwa Gus Dur hanya 
akan membuat Banser-Ansor layaknya satpam, Gus Dur pun dengan enteng menjawab, 
"Kurang muliakah jika kita menjadi satpam Indonesia?".

Justru, langkah dan respons Gus Dur sebagai simbol "Islam Ramah" itu banyak 
mengundang decak kagum para Indonesianis terhadap Indonesia sebagai 
satu-satunya "negara besar" yang mampu "mengawinkan" demokrasi dengan agama 
secara damai dan sukses. Ya, Islam Ramah adalah warisan Gus Dur yang cukup 
indah dan kini menjadi rujukan di tingkat dunia.

Tahun 2011, seorang Indonesianis dari Belanda, Martin van Bruinessen, 
menerbitkan artikel berjudul What Happened to the Smiling Face of Indonesian 
Islam? yang seakan menyuarakan kerinduan kepada warisan "Islam ramah" Gus Dur 
di tengah fenomena "wajah keras" Islam di Indonesia pasca-Soeharto.

"Di mata Martin van Bruinessen, Gus Dur adalah perwujudan dari citra ideal 
Islam Indonesia yang sanggup menjembatani ortodoksi keislaman dengan ide-ide 
modern, seperti, demokrasi, kebebasan beragama, hak asasi manusia, kesetaraan 
gender, bahkan teologi pembebasan, sebuah diskursus keagamaan yang asing bagi 
umat Islam Indonesia," kata dosen UINSA Surabaya, DR Zainul Hamdi.

Namun, "smiling face" Islam Indonesia itu dalam pandangan Martin van Bruinessen 
kini telah berubah, karena sejak 2005 mulai menunjukkan ke arah sikap permisif 
terhadap ide-ide fundamentalisme Islam. Jika melihat titik balik arus Islam 
Indonesia sejak kejatuhan Soeharto, kelompok Islamis dan Muslim fundamentalis 
telah menjadi bagian penting dalam permainan politik kekuasaan nasional.

Kekaguman Van Bruinessen pada Islam Ramah yang disuarakan Gus Dur itu juga 
dilontarkan Indonesianis lain, William Liddle. Ia menulis artikel berjudul My 
Name is Abdurrahman Wahid yang bisa dianggap sebagai ucapan selamat atas 
terpilihnya Gus Dur sebagai presiden.

"Judul tulisan itu diambil dari salah satu novel favorit Gus Dur yang ditulis 
oleh seorang sastrawan Yahudi-Amerika, Chaim Potok, yang berjudul My Name is 
Asher Lev. Liddle terkejut pada fakta bahwa seorang pimpinan organisasi Islam 
tradisional Indonesia seperti Gus Dur menjadikan sebuah 'novel Yahudi' sebagai 
salah satu bacaan favoritnya," kata DR Zainul Hamdi.

Negara versus Radikalis
Ya, Gus Dur yang ingin pusaranya ditulisi here lies a humanist itu telah 10 
tahun silam tiada. Agaknya,sebutan "humanis" itu cukup pantas untuk "Guru 
Bangsa" yang dikenal dengan kata-kata: gitu aja kok repot itu, karena sepanjang 
hidupnya memang memperjuangkan perdamaian.

Perdamaian yang diperjuangkan Gus Dur lewat "warisan indah" berupa "Islam 
Ramah" itu agaknya perlu disuarakan kembali, mengingat "Islam Marah" mulai 
menandingi warisan "Sang Humanis" itu dengan maraknya ketakutan dimana-mana, 
baik ketakutan saat suka cita Natal, ketakutan saat aksi sweeping kelompok 
Islam tertentu terhadap simbol-simbol "kafir", dan ketakutan lainnya.

Bahkan, ketakutan itu semakin runyam dengan jagat maya (media sosial/medsos) 
yang justru mengacaukan "Islam Ramah" dengan ujaran kebencian seolah mengajak 
"perang" semua pihak, baik Islam (khususnya, pejuang Islam Ramah) maupun 
non-Islam. Mirip jurus mabuk-lah, karena strategi Gus Dur sudah "mendahului" 
langkah-langkah "Islam Marah" itu.

Walhasil, kini semuanya dihadapkan pada episode "perang" yakni negara versus 
radikalis. Mereka sudah menggunakan tiga strategi untuk menembus "jantung 
pertahanan" pihak lain yakni masjid, medsos (media sosial), dan kader militan.

Ya, kelompok radikalis itu menguasai masjid sebagai "pintu masuk" yang paling 
strategis dan sempat menjadi peringatan Ketua Umum PB NU, KH Said Aqil Sirodj. 
Cara "masuk" yang tidak kalah pentingnya adalah "bom" medsos untuk "merebut" 
mereka yang "lemah" dalam pondasi agama, lalu kader-kader militan disusupkan 
untuk "menyerang" siapapun melalui "provokasi" agama.

Dari masjid dan "bom" medsos saja, mereka sudah banyak yang "tepuk tangan" 
karena mereka sudah terbukti mampu "masuk" ke gedung-gedung pemerintahan. Bukan 
hanya pemerintahan, tapi juga kantor-kantor BUMN, kampus-kampus ternama, markas 
TNI, dan lainnya.

Apalagi, kader-kader militan mereka pun "masuk" ke komunitas masyarakat yang 
relatif paham agama, diantaranya pesantren, ormas agama, masjid-masjid 
raya/agung, dan sebagainya. Kader-kader militan itu cukup gigih, meski 
provokasi mereka seringkali mendapatkan perlawanan telak, mirip akun medsos 
yang ber-daur ulang.

Kini, Tuhan Yang Maha Esa memberikan "rahmat" kepada bangsa Indonesia dalam 
membereskan "Islam Marah" itu dengan hadirnya kepemimpinan Presiden Joko Widodo 
yang seolah tahu "masalah sesungguhnya" republik ini, karena itu Presiden 
Jokowi pun berusaha melawan radikalisasi dan membenahi karakter bangsa dalam 
periode keduanya kali ini.

Langkah "strategis" Jokowi itu bisa "dibaca" dengan penempatan 55 persen 
menteri non-parpol, bahkan penempatan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, 
Menteri Agama, Fachrul Razi, dan Menteri Pertahanan, Prabowo, adalah "isyarat" 
presiden untuk "memberangus" radikalisasi yang diledakkan "Islam Marah" sejak 
2005 itu, bahkan Jokowi juga memasang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem 
Makarim, untuk membenahi karakter milenial dalam "persaingan" digital.

Selain Prabowo, menteri-menteri non-parpol yang dinilai "paham" radikalisme 
atau terorisme itu, agaknya sengaja ditugasi melawan kelompok radikal yang 
sudah terlanjur "masuk" gedung pemerintahan, markas TNI, kantor BUMN, dan 
bahkan "komunitas" pesantren, ormas agama, masjid raya, dan sebagainya.

Tentu, para menteri itu sudah memiliki strategi perlawanan melalui sinergi 
dengan pihak-pihak yang ahli manajemen masjid, paham konten medsos, dan mampu 
melakukan identifikasi kader-kader militan dari kelompok radikal itu. Mereka 
sudah paham strategi "membenahi" masjid kampus atau BUMN, seperti yang sukses 
dilakukan UGM. Mereka pun sudah paham dalam identifikasi kader-kader militan 
dari komunitas radikal, seperti melalui sinergi dengan jajaran Polri.

Untuk medsos mungkin agak sulit, karena "perang" medsos itu bukan melibatkan 
ribuan akun medsos, melainkan miliaran akun medsos, karena itu negara tidak 
bisa melakukan "perang maya" secara sendirian, namun perlu pelibatan kalangan 
milenial, kalangan kampus, dan bahkan kalangan media massa untuk bersama-sama 
melakukan counter secara masif.

Contoh betapa negara cukup kelabakan melawan medsos antara lain ketika Presiden 
Jokowi menyebut rencana pemerintah "mendatangkan jutaan wisatawan China" 
dipelintir menjadi "mendatangkan jutaan tenaga kerja China", sehingga 
pemerintah pun menjadi sasaran perundungan hingga berbulan-bulan (5-6 bulan) 
akibat "wisatawan" yang direka menjadi "tenaga kerja" itu. Runyam bukan?!.

Contoh lain, ketika Wakil Presiden, KH Ma'ruf Amin, menyatakan "perlunya masjid 
dijaga dari ustadz" yang mengumbar kebencian, namun dipelesetkan "perlunya 
masjid dijaga polisi" sehingga menjadi perdebatan yang membuang energi percuma 
sejak pelantikan presiden-wakil presiden hingga awal Desember 2019..

"Isu masjid akan dijaga dan diawasi oleh polisi itu hoaks, Kiai Ma'ruf tidak 
pernah bilang begitu. Menempatkan polisi di satu masjid itu perlu biaya, 
biayanya darimana?," kata Staf Khusus Wakil Presiden, KH Robikin Emhas saat 
menjadi pemateri dalam Seminar Nasional Kebangsaan Nahdlatul Ulama di Meulaboh 
(22/12/2019).

Banyak contoh lain, termasuk foto kebakaran hutan di kawasan Gunung Agung pada 
akhir 2017 yang diberi caption Gunung Agung meletus, sehingga memerosotkan 
pariwisata Bali hingga ke titik terendah. Video juga bisa "ngawur" seperti saat 
santri demo full day school yang diberi sulih suara "bunuh menterinya" padahal 
demo itu benar, tapi suara teriakan "bunuh" itu hasil sulih suara.

Itu masih isu biasa yang dihembuskan para pendengung melalui jagat maya yang 
dampaknya bisa fatal atau bahkan bisa sangat fatal, padahal isu yang lebih 
gawat dari itu masih ada, yakni bila jagat maya diwarnai "tarik-menarik" 
persoalan SARA yang merupakan paling sensitif di Bumi Nusantara, bahkan ibadah 
baku/mahdzo dan ibadah non-baku pun dicampur aduk hingga menakutkan.

Di sinilah, "Islam Ramah" yang diwariskan Gus Dur menjadi kerinduan penting, 
kerinduan terhadap Islam toleran yang cocok untuk "kemajemukan" (pluralitas) 
Nusantara. Bukankah "menyempurnakan" akhlak adalah "tugas penting" Nabi 
Muhammad SAW ?!.

Oleh Edy M Yakub
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019





Kirim email ke